Gambaru yang Manipulatif

PC275601

Di dunia maya beredar tulisan tentang konsep “Gambaru” yang konon merupakan karakteristik orang Jepang yang tidak pasrah dilanda bencana nasional seperti sekarang ini. Gambaru itu kalau diterjemahkan bisa “berjuang”, “berusaha”, atau “melakukan sampai selesai dengan sekuat tenaga meskipun menyiksa”. Orang Jepang memang daya juangnya tinggi.

Menurut adat sopan santun di sana, orang Jepang saling menyemangati, “Gambarimashou“, atau, “Mari berjuang”. Atau kepada orang lain yang akan melakukan sesuatu yang butuh perjuangan, mereka akan mengatakan,”Gambatte kudasai!” atau, “Berjuanglah!” sebagai tanda peduli dan menyemangati.

Menanggapi tulisan itu, Mbak Ratna di blognya, mengkhawatirkan kebiasaan orang Indonesia yang suka ‘latah’, dan bisa jadi orangtua Indonesia memanipulasi anak-anak dengan kata “gambaru” itu tanpa berpikir panjang. Menurut Mbak Ratna:

Bagiku lebih indah kalau Gambaru timbul dari dalam diri karena adanya PASSION. For me : Passion + Focus = Masterpiece!

Selengkapnya baca di sini.

Aku sependapat. Semangat juang yang tidak datang dari diri sendiri, tetapi hasil manipulasi orang lain, dalam jangka panjang selalu negatif hasilnya. Orang itu kehilangan harga diri dan rasa percaya diri akan kekuatan niat dan semangatnya, bahwa dia bisa berbuat baik tanpa disuruh orang lain.

Sebetulnya ini kita alami juga, sebagai orang dewasa produk sekolahan dan sebagai hasil manipulasi bertahun-tahun oleh guru dan orangtua yang bermaksud baik. Kita kehilangan rasa percaya diri bahwa kita mampu berusaha dari dalam diri. Betapa banyak orang dewasa mengatakan,”Kalau tidak dekat-dekat deadline, saya malas, dan tidak mau mulai mengerjakan.” Hampir semua orang dewasa percaya, termasuk mereka yang berpendidikan tinggi, kalau dirinya tidak disuruh siapa-siapa, dia bergeming untuk belajar atau bekerja. Ini menyedihkan.

Akibatnya masa dewasa harus kita manfaatkan sebagai masa untuk melatih disiplin diri yang sesungguhnya. Kan mubazir ya. Kalau homeschooling kita bisa mengusahakan disiplin anak-anak itu datang dari hasrat dan semangatnya sendiri. Karena kita sebagai orangtua homeschooling bisa mendidik dengan asumsi anak-anak adalah pembelajar mandiri yang mampu mencari sumber-sumber pembelajarannya sendiri, sedangkan sekolah mendidik dengan asumsi anak-anak tidak akan belajar kalau tidak diajari orang lain.

Mengenai konsep “gambaru“, di Jepang sendiri, etikanya sudah mulai berubah. Orang di sana mulai berhati-hati sebelum menganjurkan: gambatte kudasai (berjuanglah). Karena kalau orang yang disemangati itu sudah berjuang habis-habisan, tapi hasilnya tidak memuaskan, dia jadi bingung dan putus asa harus berjuang seperti apa lagi? Malah depresi, dan bukan tersemangati. Perlu kita ingat, angka bunuh diri di Jepang sangat tinggi.

Menyemangati anak itu baik, tetapi jangan sampai kita memanipulasi anak-anak dengan kata “gambaru” itu. Semoga kita selalu memberdayakan dia untuk mengikuti insting dan kata hatinya, agar semangat juang itu datang dari dalam, bukan tindakan manipulatif yang memaksakan dia mengikuti ambisi dan perintah kita, orangtuanya, karena sangat mungkin jalan hidup yang membawa kebahagiaan bagi anak-anak bukan jalan yang kita bentangkan untuknya, melainkan jalan baru yang mereka buka dengan tangan mereka sendiri.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tentang Andini Rizky

Andini adalah ibu rumah tangga yang pernah menerapkan homeschooling untuk putrinya selama 1,5 tahun setingkat TK. Ia merasa takjub akan hasil yang dicapai putrinya tanpa sekolah selama masa itu, dan berharap suatu hari dapat kembali mempraktikkan homeschooling. Blog ini merupakan salah satu usahanya untuk mencapai harapan itu.
Lain-lain , ,

7 comments


  1. RT @HSIndonesia Blog HS Indonesia: Gambaru yang Manipulatif http://goo.gl/fb/2vVT6

  2. “Mengenai konsep “gambaru“, di Jepang sendiri, etikanya sudah mulai berubah. Orang di sana mulai berhati-hati sebelum menganjurkan: gambatte kudasai (berjuanglah). Karena kalau orang yang disemangati itu sudah berjuang habis-habisan, tapi hasilnya tidak memuaskan, dia jadi bingung dan putus asa harus berjuang seperti apa lagi? Malah depresi, dan bukan tersemangati. Perlu kita ingat, angka bunuh diri di Jepang sangat tinggi.”

    Ketika seseorang sudah berusaha maksimal dan hasilnya masih gagal atau kurang memuaskan,tapi dipaksa terus…kayaknya akibatnya malah lebih buruk ya mba.

    Mendingan nyantai dulu, maen di bathtub eh…mana tau bisa kayak Archimedes. *lupa apa nama teorinya,yang penting tentang berat jenis air (kalo ga salah inget) hehehe*

    • Iya, Mbak Ophie. Gambaru-nya buat diri sendiri aja deh.
      Sering denger orang bilang, “Ini anak sebetulnya pinter, tetapi kurang berusaha…” Padahal anak itu udah merasa setengah mati juga belajar pelajaran yang dibenci itu.
      Kita sendiri sebetulnya juga punya sesuatu yang gimana pun berusahanya tetep nggak bisa. Dan bukan jalannya di situ barangkali.

      Yang si Archie bilang Eureka! itu kan… Ilham dan gagasan besar katanya datang saat otak dalam keadaan rileks, kalo gak salah… Kalau dipikirin terus… terus pas santai, eh tiba-tiba muncul deh jawabannya. Mungkin berdoa minta jawaban dari Tuhan sebetulnya usaha membuat otak menjadi rileks. Mungkin…

  3. Bener banget mba. Ketika kita sadar,kita hanya ‘merekam’ informasi. Justru pengolahan informasi terjadi ketika kita rileks. Jangan salahkan ketika kita mengingat sesuatu yang penting yang terlupakan ketika kita sholat (padahal sebelumnya berusaha setengah mati mengingat juga ga bisa-bisa, di luar konteks bahwa setan sedang mengganggu kekhusyukan sholat kita). Atau bermimpi memecahkan masalah,atau menghubungkan informasi yang kita dapat ketika kita tidur. Karena ketika sholat dan tidur, otak kita sedang rileks banget.

    Memaksakan sesuatu di luar batas tidak akan ada hasilnya kecuali hanya putus asa dan depresi belum lagi menghukum diri sendiri dan munculnya rasa rendah diri. Semangat ‘gambaru’ nya juga harus diadaptasi. Masalahnya ada beberapa anak yang dipaksa malah gak kan jalan. Aqeela-ku salah satu contohnya. Semakin disuruh dia mencoba sesuatu,dia akan menolak,padahal aku tau dia bisa. Akibatnya malah frustasi di aku dan Aqeela kan? Tapi nanti ketika dia mau,gakkan ada yang bisa menghentikannya. She will do her best for everything she likes. Dan itu sangat cocok buatku dan Aqeela…Just do your best for everything you like…pastinya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik ^_*

  4. alam

    Gambaru dipergunakan untuk stimulus bukan untuk dokrin harus,….ini yang tidak dipahami, saya juga yakin di homeschooling tidak semerta-merta anak dateng langsung mempunyai niat mau belajar sendiri tanpa ada stimulus.

    Saya tidak setuju dengan tulisan ini karena hanya melihat luar nya saja dan sifat nya masih global, ini dikarenakan tidak pahamnya mekanisme gambaru tanpa didasari sebuah bukti dan kajian yang matang atau asal nulis sehingga menilai atau menyebut manipulatif….

    • Tulisan saya di blog ini bersifat wanti-wanti saja, dan bukan bacaan ilmiah yang mewajibkan kajian dan bukti ilmiah. Anak-anak secara alami diberikan Tuhan naluri belajar, stimulus juga datang secara alami dari kehidupan sehari-hari. Metode unschooling meyakini hal ini, dan orangtua dengan metode lain pun meyakini anak-anak bisa belajar secara mandiri. Manipulasi terjadi ketika anak sudah ngos-ngosan menelan materi pelajaran tetapi pihak lain (orangtua dan guru) merasa tidak puas dengan kemajuan anak lalu mengkritik anak dengan kata-kata “gambaru”. Kurikulum sekolah kita sekarang juga memaksa anak-anak menelan segala macam mata pelajaran kan dan sebagian besar hapalan pula… kasian deh anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>