Homeschooling Is Not For Wimps (2)

Suatu hari, ada acara temu keluarga, dan aku pun pergi bersama keluargaku.

Yang namanya ibu-ibu, kalau lagi ngumpul, yang dibicarakan itu-itu saja ya. Jujur saja, aku tidak menikmati.

Yang tidak pernah absen dibicarakan, masalah sekolah anak. Kalau tidak  membanggakan nilai rapor, ya selalu yang jelek-jelek. Biaya sekolah mahal. PR banyak. Anak-anak malas belajar. Nilai ulangan jelek. Diganggu teman di sekolah.

Dalam situasi seperti itu, aku selalu diam-diam saja dan menjadi pendengar yang baik. Sejujurnya aku bosan sih. Pengen cepat pulang ke rumah, belajar bahasa Korea. Pengen nonton acara lawak Jepang di internet. Pengen nonton terusan drama Korea “On Air” yang dibelikan suami.

Tetapi, tiba-tiba, pembicaraan ditujukan padaku.

Begini awalnya. Seorang ibu mengeluh tentang nilai ulangan anaknya yang terlalu jelek. Kalau anak itu tidak diajari sendiri, katanya nilai ulangan itu tidak membaik. Setelah mengeluh panjang lebar begitu, tiba-tiba, dia melemparkan serangan padaku,”Kamu berhenti saja homeschooling!”

Hah? Apa sih? Aku jadi bingung. Apaan sih, tiba-tiba?

Aku sebetulnya enggan, maka kujawab seperlunya,”Kami nggak homeschooling karena suami nggak setuju. Nggak bisa homeschooling tanpa izin suami.”

“Anak-anakmu supel, anak-anak baik. Kalau mereka homeschooling, nanti jadi seperti kamu. Nggak bisa bergaul dengan orang-orang. Kalau di sekolah, mereka kan ketemu macam-macam orang, nanti mereka bisa menerima semua orang.”

Aku menjawab, “Aku suka kok diriku yang seperti ini. Kalau kamu nggak mau menerima aku yang seperti ini, nggak apa-apa. Lagipula aku jadi begini bukan karena homeschooling. Sama seperti kamu, aku juga anak sekolahan.”

Ibu itu terkejut. Katanya,”Apa itu, sifatmu kok jelek begitu. Ih kok ngomongnya gitu sih?”

Padahal baru saja dia mengatakan aku sebagai ibu tidak mampu mendidik anak-anakku sendiri. Padahal baru saja dia mengatakan aku orang yang payah, maka anak-anakku akan jadi payah seperti aku. Padahal dia sendiri juga tidak mampu menerima orang seperti aku, malah bilang begitu.

Keluargaku berhenti homeschooling sudah sejak 2 tahun lalu. Sampai sekarang pun aku masih harus dikomentari seperti ini. Kesal. Karena keluarga, masih harus bertemu lagi dengan orang itu. Aaah…

Pulang ke rumah, aku bisa berpikir dengan kepala dingin. Pengalaman itu terjadi untuk kebaikan diriku. Pengalaman itu diberikan untuk mendewasakan aku.

Hatiku penuh syukur.

Berkat pengalaman itu aku bisa memastikan aku cinta diriku sendiri ;) Itu penting. Sehari-hari aku berpikir ‘aku suka diriku’. Ternyata ketika ada orang mencela aku sebagai “ibu yang buruk”, aku tetap suka pada diriku ;)

Aku sudah tumbuh sedikit lebih matang lagi.

Kalau lain kali, aku dicela seperti itu lagi, dan aku bisa tidak merasa kesal, nah itu baru sempurna.

~Tuhan, terima kasih. Lain kali, aku berusaha lebih baik lagi.

Aku pernah diprotes, katanya aku terlalu banyak menulis hal-hal yang menjatuhkan sekolah. Tapi aku pikir, orang-orang yang protes seperti itu tidak paham apa yang dialami keluarga homeschooling. Aku yang hanya mendukung homeschooling, dan tidak melaksanakan homeschooling saja, diperlakukan seperti itu.

Orangtua yang mempraktikkan homeschooling tidak akan sembarangan menyarankan homeschooling kepada orang yang anaknya bermasalah di sekolah lho.

Sebaliknya, orangtua yang anaknya bermasalah di sekolah malah berusaha agar keluarga orang lain berhenti homeschooling. Aneh ya? Tetapi begitulah kenyataannya.

Aku pikir, mungkin sampai akhir zaman pun orang-orang yang tidak punya pengertian terhadap homeschooling akan selalu ada. Keluarga homeschooling jangan mau kalah oleh serangan seperti itu ya.

Orangtua praktisi homeschooling yang kutemui sampai saat ini, semuanya orangtua istimewa dan hebat-hebat. Aku suka sekali pada mereka. Keluarga homeschooling veteran senantiasa memikirkan cara-cara terbaik mendidik anak-anak mereka sendiri, mereka tidak sempat membicarakan keburukan sekolah.

Orangtua yang menitipkan anak-anaknya di sekolah saja, tidak bisa mengeluh macam-macam pada sekolah, dan membiarkan anak-anak menderita diam-diam. Mengubah sekolah itu sulit. Sebenarnya juga tidak sedikit orangtua yang berhenti mencoba mengubah sekolah dan memulai homeschooling untuk anak-anak mereka sendiri. Orangtua yang memulai homeschooling dengan membuang gengsi jauh-jauh, karena mengutamakan kepentingan anak-anaknya.

Barangkali homeschooling adalah protes dalam diam.

Jika ada orangtua yang bingung menimbang-nimbang sekolah atau homeschooling, lihatlah anak-anak baik-baik. Putuskanlah sendiri. Bagaimana kalau sekolahnya diteruskan?

Mau homeschooling, atau sekolah, tidak masalah. Perhatikan saja anak-anakmu baik-baik karena hasil tidak berbohong.

***

ある日、親戚の集まりがあって、私は家族と行った。

お母さんたちが集まるとだいたい同じことばかり話すよね。私があまり興味がない話題ばかりするから、退屈だ。

いつもといっていいほど、話題になるのは子供の学校のことである。成績自慢以外は、悪いことばかり。学費は高い。宿題が多い。子供は勉強しようとしない。成績が上がらない。友達にいじめられる。

そんな話ばかりをするお母さんたちと一緒にいると、私はいつも黙って聞く役に徹する。しんどいなと正直思う。早く家帰って、韓国語の勉強をしたい。ネットで日本のお笑い番組がみたい。夫が買ってきてくれた「オンエアー」という韓国のドラマが見たい。

でも、突然、話は私にふられてしまったのである。

あるお母さんが自分の娘は学校の成績が悪すぎると。そのお母さん自身が教えてあげなければ、成績が上がらないと嘆いた後、突然、「あなたは、ホームスクーリングはやめなさいよ」と私に言い放った。

なに?なに?と当惑したのよ。なによ、いきなり。

私は本当にいやいやで「夫が賛成しないから、ホームスクーリングやってません。夫が賛成してくれないと、できませんから。」と一応答えた。

「あなたの子供たちは、社交的で、いい子達なのよ。ホームスクーリングをしたら、あなたみたいになるから。子供は学校でいろんな人と会って、すべての人を受け入れられるようになるよ。」

「私は私のことが好きですよ。あなたが私のことを受け入れられないなら、結構です。しかも、私はこうなったのはホームスクーリングのせいじゃありません。あなたと同じで学校の子だっんだから」と答えた。

その人がびっくりした。「なに、それ、あなた性格悪い。ひどいね」と私に言った。

さっき彼女は私は母親として自分の子供を教育する資格はないと言ったのに。私はダメな人だから、子供たちもダメになってしまうと言ったのに。自分がひどいことを言ったことに気づかないようだった。自分が私のことを受け入れられないくせに、よく言うわね。

私の家族はホームスクーリングをやめたのは2年前のことである。まだあんなひどいことを言われなければならないんだね。イライラした。親戚だから、また会うし。あ~

家帰って、冷静になった。その経験は私のために起こったものだったんだ。私を成長させてくれるために起こったんだと気づいた。

その経験がありがたかったのである。

なぜなら、自分は自分が大好きなことを確認できたからである。それは、大事なことだ。日頃自分が好きと思っている私だが、他人に「あなたがダメな母親だよ」と散々言われても、やっぱり自分が好きだということが確認できた。こんな私だって、またひとつ成長したな、と。

今度はまたあんなひどいことを言われたら、イライラしないで済むなら、もう完璧。

~神様、ありがとうございました。次も頑張ります。

私はこのブログをいろいろ書いて、学校をバッシングし過ぎと言われたことがあるんだが、そういう人達はわかってないなと思う。私は、ホームスクーリングをしていないのに、ホームスクーリングを支持しているだけで、あんな扱いなんだから。

ホームスクーリングをしている親は学校で問題児になった子の親にやたら「ホームスクーリングしたら?」とは絶対に言わないから。逆に、自分の子が学校でいろんな悩みを抱えている親のほうが、他の家族のホームスクーリングをやめさせようとする。なんか、おかしいよね。でも、現実はそうなっている。

たぶん、ホームスクーリングに対する理解のない人達がこの世が終わりに近づいてもまだまだいると思うので、ホームスクーリングの家族にそれに負けないでがんばってほしいと思う。

今までホームスクーリングを実施している親と会ってきて、私は彼らが特別であり、立派な親だと思うので、大好きだ。ベテランのホームスクーリング家族は、自分たちでどのように自分の子供たちを教育できることを常に考え、学校における教育問題はあまり口にしないんだよ。学校に子供を預ける親たちだって、学校に文句を言えずに、泣き寝入りだけだろう。学校を変えるのが難しい。実際、学校を諦めて、ホームスクーリングを始める人は少なくない。親はプライドを捨てて、子供のことを第一に考えて、ホームスクーリングを始めたケースがほとんどだから。

ホームスクーリングは無言の抵抗なのかもしれない。

ホームスクーリングと学校と、迷う親がいるなら、自分の子供たちをよく見なさい。自分で判断してください。そのまま学校にいさせていいのか。子供たちをよく見なさい。

学校であろうと、ホームスクーリングであろうと、結果は嘘をつかない。

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tentang Andini Rizky

Andini adalah ibu rumah tangga yang pernah menerapkan homeschooling untuk putrinya selama 1,5 tahun setingkat TK. Ia merasa takjub akan hasil yang dicapai putrinya tanpa sekolah selama masa itu, dan berharap suatu hari dapat kembali mempraktikkan homeschooling. Blog ini merupakan salah satu usahanya untuk mencapai harapan itu.
Sosialisasi Homeschooling

12 comments


  1. “Keluarga homeschooling veteran senantiasa memikirkan cara-cara terbaik mendidik anak-anak mereka sendiri, mereka tidak sempat membicarakan keburukan sekolah.” – So Truee!!

  2. cahyani

    Orang yg ngga bahagia sepertinya sangat ‘sensitif’ ya mbak. Benci lihat orang lain senang. :)

  3. Tiap baca postingan Mba Andini sering merasa “iya ya..”
    Mencintai diri sendiri sangat penting ! ^_^

  4. Homeschooling Is Not For Wimps (2) http://t.co/5WaKErt via @andinirizkycom

  5. irma

    Orangtua yang mempraktikkan homeschooling tidak akan sembarangan menyarankan homeschooling kepada orang yang anaknya bermasalah di sekolah lho. ==> ngalamin ^_^.

    dulu ada yang nanya, hs itu gimana. kepingin deh, tapi ga bisa karena begini begini begini. saya terus memotivasi, nunjukin alternatif, dengan semangat 45. tapi orangnya tetep beralasan. jadi saya nyerah, ya susah kalo kebanyakan mengeluh tapi ga mau gerak. dongkol juga sih.

    tapi belakangan, saya mulai mikir. jangan2 kondisi dia berat banget ya. kok saya sok tau deh, menyarankan (rada mendesak juga kali ^^;) hs dengan memakai kondisi saya sebagai patokan. mana bisa? akhirnya sekarang saya ga sembarangan menyarankan hs, dan ga punya ekspektasi apa2 tiap cerita hs.

    hehehe, kepanjangan.

  6. ingin sekali mempraktikkan homeschooling pada putri saya…. tolong motivasi, berbagi pengalaman serta doa untuk saya…
    rupanya istri belum siap menerima pemikiran HS…
    hmmm…. gimana langkah….

  7. mila

    Pak Ridhwan,
    Wah yg anda alami hampir terbalik dgn saya.Saya sih antusias skali,suami dukung tapi tdk aktif.Saran saya,coba ambil flexi-school aja dulu(semi hs lah krn hny msk 3x seminggu,sisanya dg ortu).krn menurut saya peran ibu sbg pengajar hs mungkin lbh penting,berhubung dia yg lbh byk di rumah.
    Bgmn menurut teman2 yg lain?

  8. Nurul

    Saya & suami tertarik & sempat tercetus ide untuk homeschool. Anak saya baru 2,5 tahun & sekarang sdg di PAUD agar berinteraksi dg anak2 lain krn lingk rumah cenderung sepi (hampir semua anak tetangga disini sekolah fullday & both ortunya juga fullday working),yg 1 masih 2,5 bulan.Saat ini saya masih bekerja & rencana suami yg dirumah sambil buka usaha. Kalo konsep unschool di Indo belum diterima kali yach jadi kami “terpaksa” homeschool nantinya.Pertanyaan, konsep homeschool di Indonesia sudah selegal apa dan ada yang tahu lembaga homeschool di yogya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>