Kekurangan Homeschooling Bagi Orangtua

13A2 living room ~ west {notes}

Mungkin kamu sudah membaca tulisan Pak Kreshna, “Mitos Seputar Homeschooling” yang merekap bantahan terhadap mitos-mitos populer tentang homeschooling. Di antara butir-butir tulisan itu, disebutkan:

>> Saya tidak bisa berlama-lama dekat dengan anak saya.
Dulu kok mau ya bikinnya? He he. Tapi sejujurnya, ini adalah masalah serius. Kalau kita tidak bisa dekat dengan anak kita sendiri, pasti ada yang salah dan harus diselesaikan. Cari konseling kalau diperlukan.

Dari poin tentang keberatan orangtua tersebut, bisa ditarik kesimpulan mengenai kekurangan homeschooling bagi orangtua, dan ini bukan mitos:

1. Karena homeschooling = tidak sekolah, otomatis lebih banyak waktu anak-anak bersama orangtua, dan bisa jadi sangat menyiksa orangtua yang tidak terbiasa dengan kehadiran anak-anaknya.

2. Karena homeschooling = anak-anak lebih banyak diajar sendiri oleh orangtua, orangtua perlu berlatih mengajar dengan sabar.

3. Kalau homeschooling, yang belajar bukan cuma anak-anak, orangtua juga harus belajar, dan menjadi pintar bersama mereka.

4. Kalau homeschooling, orangtua harus tumbuh secara emosional pula.

Karena bisa dibayangkan, kalau homeschooling, konflik dengan anak mau tidak mau harus dituntaskan dengan cara-cara yang baik, dan tidak bisa ditunda. Bagaimana mau belajar dengan hati senang kalau berada dalam suasana marah-marahan terus dengan anak?

Dari generasi sebelum kita, kita bisa mengamati bahwa:
banyak orangtua yang menunda penyelesaian masalah dengan anak-anaknya, dan menganggap dengan anak disekolahkan saja, masalahnya sudah selesai.
Orangtua semacam itu kemudian membayar harga penundaan tersebut dengan bunganya yang berlipat ganda, bertahun kemudian.

Kita tidak mau mengulangi kesalahan itu.
Kita tidak percaya kesaktian sekolah seperti kita tidak percaya pada kesaktian batu Ponari.

Memang betul, akan lebih banyak tenaga dan pikiran yang digunakan orangtua saat menerapkan homeschooling, dan itu lebih melelahkan. Karena kita dipaksa berpikir, menjadi sadar akan segala tindakan kita, dan kita tidak bisa menjadi orangtua yang baik kalau sekadar menjalankan kendali pilot otomatis. Kita menjadi sadar bahwa semua tindakan kita ada konsekuensinya, dan kita dengan sadar membuang opsi: “pokoknya Bapak sudah menyekolahkan kamu!”.

Karena kita sudah tahu opsi itu tidak mujarab.

Jadi,

Kekurangan homeschooling: kamu akan dituntut menjadi orangtua yang lebih baik.

Kelebihan homeschooling: kamu akan menjadi orangtua yang lebih baik.

Apakah ini akan membuatmu mundur atau mendorongmu untuk homeschooling?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tentang Andini Rizky

Andini adalah ibu rumah tangga yang pernah menerapkan homeschooling untuk putrinya selama 1,5 tahun setingkat TK. Ia merasa takjub akan hasil yang dicapai putrinya tanpa sekolah selama masa itu, dan berharap suatu hari dapat kembali mempraktikkan homeschooling. Blog ini merupakan salah satu usahanya untuk mencapai harapan itu.
Alasan Homeschooling , , ,

11 comments


  1. Pingback: Tweets that mention Kekurangan Homeschooling Bagi Orangtua | HOMESCHOOLING-INDONESIA.COM -- Topsy.com

  2. saya sih, mau banget HS, tapi gimana ya maykinkan misua agar dia ‘menyadari” pentingnya HS bagi keberlangsungan komunikasi kami yang baik dengan anak. have any ideas??

  3. Saya setuju uraian mbak Andini bahwa ibu harus PD dan harus sabar dalam mengajarkan anak2nya. Ketika di Indonesia, banyak teman2 saya membawa anaknya untuk berbagai les di luar, apakah itu les calistung ataupun les english, lalu suami saya berkata bahwa saya tidak perlu membawa anak saya ke berbagai les yang saya bisa mengajarkannya sendiri. Dan benar katanya, saya mulai mengajarkannya tiap-tiap hari dengan konsisten setiap hari 1-2 jam saja, saya sememangnya mengajak anak2 saya untuk menyukai buku sedari kecil lagi, saya juga berlangganan buku bahasa inggris yang datang tiap2 bulan dan juga saya lengkapi permainan yang mendukung proses belajarnya itu, yah pokoknya belajar itu ngga kaku ngga harus dari satu sumber, terkadang saya juga memintanya untuk memilih sendiri aktivitas apa yang ingin dilakukan saat jam belajar itu, karena itu pilihannya maka diapun siap untuk memulai aktivitas tersebut. Yah saya memang lebih banyak menghabiskan waktu saya dengan anak2 saya, yang membawa saya menjadi dekat dengan anak2 sekarang, alhamdulillah anak saya yg sulung sudah bisa membaca buku cerita kanak-kanak dalam usianya yang belum lagi 5 th, dan ternyata dia pun boleh berprestasi di sekolahnya. Sekarang saya sudah terbiasa menemani anak2 saya belajar, saya senang menemani mereka belajar, bahkan anak sulung saya jika harus memilih apakah dihantar ke les atau dengan mamanya saja, maka dia akan memilih dengan mamanya. Dari pengalaman saya yang pertama dgn anak sulung saya, sayapun lebih sabar dengan anak yang kedua. Memang kuncinya harus sabar dan konsisten. Saya suka dengan tulisan mbak Andini, tulisan mbak banyak memberi inspirasi kepada saya untuk tetap semangat. Terimakasih. Maaf kepanjangan.

    • Terima kasih untuk komentarnya yang menginspirasi, Mbak Fitri. Memang kalau diajar ibu, anak-anak lebih pintar dan lebih akrab dengan ibu ya. Tulis di blog-nya dong, sayang kalau di komentar :)

  4. Pingback: Mana yang Lebih Sulit: Homeschooling atau Sekolah? | HOMESCHOOLING-INDONESIA.COM

  5. Pingback: Mana yang Lebih Sulit: Homeschooling atau Sekolah? « Keluarga Homeschooling

  6. Bagus nih blognya yah. @punyairul Terutama tulisan ini: Kekurangan Homeschooling Bagi Orangtua: http://t.co/7wwK8Ou

  7. Bener banget tulisannya Bu…beberapa hal yg menjadi "masalah" untuk homeschooling :) @Leli_Erika re: http://t.co/7wwK8Ou

  8. Pingback: Homeschooling Is Not For Wimps | HOMESCHOOLING-INDONESIA.COM

  9. abu ismail

    karena itu ketika anak kita homeschooling, kita jadi di tuntut untuk pintar….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>