Mengajari Anak Cara Bersyukur

Sejak Kanae bersekolah, aku melihat dia menjadi mudah marah dan sering bersungut-sungut. Aku rasa aku akan begitu juga kalau setiap hari diwajibkan berada dalam lingkungan yang membuatku stres, rumah mertua misalnya.

Awalnya aku sedih melihat perubahan itu. Awalnya aku ingin suamiku melihat apa yang aku lihat, dan memahami perubahan itu seperti aku memahaminya. Sekolah mengubah Kanae yang manis menjadi Kanae yang pemarah. Tidakkah dia bisa melihat itu? Harapan sia-sia. Suamiku cuma bisa memahami apa yang dia pahami, seperti halnya aku. Aku cuma bisa memahami apa yang aku pahami.

Awalnya aku membiarkan saja setiap kali Kanae mulai bertingkah. Ibuku tinggal bersama kami dan seperti suamiku, dia juga penggemar berat sekolah. Aku dan ibuku sering bertengkar tentang perubahan Kanae sejak disekolahkan. Pernah juga kami bertengkar di rumah Mbak Dian, yang kebetulan adalah keluarga homeschooling.

Jadi kalau Kanae ‘mulai’, aku biarkan saja ibuku yang menanganinya. Kan bukan aku yang menyebabkan Kanae bermasalah, jadi aku tidak mau repot-repot!

Aku perhatikan suamiku pun sama saja dengan ibuku, tidak tahu bagaimana menangani ledakan tantrum Kanae selain menjerit-jeriti dia. Bagaimana pun aku bersyukur sih suamiku bukan tipe ayah ringan tangan seperti kebanyakan ayah yang kukenal. Anak-anakku harus berterima kasih padaku, aku telah memilihkan ayah yang baik untuk mereka.

Selang beberapa lama, aku berdamai dengan kenyataan. OK, jadi inilah hidup Kanae. Kanae bersekolah. Aku tidak suka tetapi inilah kenyataannya. Dia kesulitan mengelola perasaannya. Sebagai ibunya, aku bisa mengajari dia menjadi “korban keadaan” atau “memberdayakan” dia dalam hidupnya saat ini. Barangkali selama ini aku juga yang ikut mengajari dia merasa tidak berdaya dengan cara tidak berbuat apa-apa.

Begitu aku menyadari hal itu, kesempatan pembelajaran itu datang.

Hari libur, kami sekeluarga jalan-jalan bermobil ke kota, Jakarta gitu. Kanae sebetulnya ingin pergi ke suatu mal, tetapi karena kami mampir ke tempat-tempat lain, sampai hari sudah sore dan kami berencana pulang pun, keinginannya itu tidak kesampaian. Seperti biasa, Kanae mulai merajuk. Aku mau pergi ke situ, kenapa nggak pergi, ayo kita pergi, ugh kenapa sih aku nggak dituruti…

Aku ingat, aku merasa heran, aku tidak marah waktu itu. Sementara suami dan ibuku sudah mulai jengkel dengan rengekan Kanae. Mau jengkel atau tidak jengkel dengan rengekan anak rupanya soal pilihan juga.

Aku ingat aku merasa maklum dengan perasaan Kanae. Siapa bilang seharusnya dia tidak merengek? Kalau kemauannya tidak dituruti, pasti merengek! Wajar dong! Kan anak-anak. Orang dewasa juga begitu kok! Banyak kan perempuan yang suka mengomel pada suami dan anak-anaknya? Apalagi anak-anak seperti Kanae. Aku bukan orang penyabar, tetapi aku ingat aku merasa tidak punya alasan untuk marah.

Menghadapi tantrum anak hampir 7 tahun yang bisa bicara sebenarnya menyenangkan. Karena dia sudah bisa diajak berdialog dan berpikir bersama. Kita bisa memahami dia, dan dia bisa memahami kita.

Waktu itu aku menggenggam kedua tangan Kanae, dan bertanya sungguh-sungguh,”Kenapa merengek? Kanae mau apa?”

Jawabnya,”Aku mau ke mal A.”

“Kanae mau apa di sana?”

“Mau main-main.”

“Lho Kanae tadi kan sudah main di restoran. Kanae sudah main ayunan, sudah main perosotan… Ya kan?”

“Iya, tapi aku juga mau beli kue sus di sana!”

“Tadi Papa sudah belikan Kanae donat karamel. Ya kan? Kue sus dan donat karamel kan sama-sama kue.”

“Aku mau lari-lari di sana!”

“Lho dari tadi bukannya Kanae lari-lari terus?”

“Nggak mau, pokoknya larinya harus di mal!”

Sampai di sini aku mulai masuk model ceramah soalnya dia tidak berhenti merengek.

“Kanae mau main…? Tadi Kanae sudah main. Kanae mau kue… tadi sudah diberi kue. Semua yang Kanae inginkan sudah terkabul. Tapi Kanae masih nangis-nangis juga. Apa itu namanya? Nggak bersyukur.

Bu Guru bilang apa kalau anak nggak bersyukur? Nggak bersyukur masuk neraka. Ya kan? Bilang gitu kan? Kalau anak yang bersyukur masuk surga. Tapi ya Kanae, neraka itu bukan nanti, bukan masih lama. Neraka itu sekarang. Kanae nggak bersyukur, karena itu sekarang Kanae nangis-nangis.

Coba lihat Masa! Masa, sini! Masa senang nggak sekarang?” Masa adiknya, 4 tahun, waktu itu belum sekolah.

Masa, anak laki-laki yang manis, ketawa-ketawa, saat menjawab,”Iya, Masa senang! Soalnya asyik!”

“Nah kan, Masa anak yang bersyukur, Masa sekarang di surga, bahagia. Kanae nggak bersyukur, Kanae di neraka sekarang, menderita.”

Kanae terdiam. Agaknya dia mulai mempertimbangkan perkataanku.

Lalu, jawabnya,”Mama mana tahu Bu Guru bilang apa! Kan Mama nggak mau ketemu Bu Guru aku.”

“Ah nggak ketemu juga aku tahu kok, Bu Gurumu ngomong apa,” kataku ngeles.

Tetapi rengekan Kanae juga berhenti sampai di situ, dan kami pulang ke rumah tanpa iringan tangisnya lagi.

Peristiwa ini sudah lama tetapi Kanae tidak pernah merengek lagi. Tapi hidup masih panjang tentu saja, barangkali kalau dia merengek lagi, aku ajak lagi dia untuk melihat bahwa dia sudah mendapatkan semua yang dia inginkan, dan dia bisa pilih sendiri, mau berada di surga atau neraka.

Dan itu namanya, pembelajaran dalam konteks. Hanya orangtua yang bisa mengajari anak-anaknya menghadapi kesulitan hidup, sekolah paling-paling bisa memaksa anak-anak menghapalkan ayat kitab suci tentang bersyukur, tetapi untuk penerapannya dalam hidup, mereka sebetulnya tidak berdaya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tentang Andini Rizky

Andini adalah ibu rumah tangga yang pernah menerapkan homeschooling untuk putrinya selama 1,5 tahun setingkat TK. Ia merasa takjub akan hasil yang dicapai putrinya tanpa sekolah selama masa itu, dan berharap suatu hari dapat kembali mempraktikkan homeschooling. Blog ini merupakan salah satu usahanya untuk mencapai harapan itu.
Penerapan Homeschooling

7 comments


  1. takjub.. konsep surga-nerakanya logis banget. akan aku gunakan kalo Husna merengek. Tapi biasanya dia diajak berpikir logis juga gampang sih.. :) Tapi anaknya cenderung melankolis, jadi gampang sedih.. meskipun gampang dibujuk juga :P

  2. fitri

    aku pun memperkenalkan syurga dan neraka dan syaitan sejak mereka mulai mengenal adanya Tuhan.., kalau anakku merengek akan aku katakan ada 2 malaikat di pundak kan dan kirinya, yg selalu mencatat apa yg kita perbuat, baik atau tidak baik, dan kalau mereka bertengkar ketika waktu sholat atau apa sajalah, aku akan bilang ada syaitan dalam diri kalian….atau ada syaitan lagi menggelayut di pelupuk matamu sehingga kamu jadi malas…., ampuh!! yupp, akhlak mmg tidak bisa diajarkan di sekolah melainkan dibina dari dalam rumah sendiri. Salam….

  3. Terima kasih untuk komentarnya Mbak Cahyani dan Mbak Fitri…

  4. Revy

    Bagus mb, ceritanya. Saya juga pernah menerapkan konsep agama pada Rifdah, pada saat dia marah-marah karena keinginannya tidak dituruti. Alhamdullilah dia bisa menerima hal itu, bahwa Allah akan selalu melihat Rifdah, apalagi kalo lagi marah-marah sama bunda. Masalah tersebut beranjak menjadi suatu pertanyaan lanjutan, Rifdah bertanya :”bunda…, Allah itu mukanya seperti siapa ya?” pusing dech ngejawabnya hehehehe:)

  5. Thx Mba udah mengingatkan untuk bersyukur. Syukur itu memang berawal dari pilihan cara kita menghadapi keadaan…..
    mati air, sebel ga bisa mandi, ga bisa pergi (tdk bersyukur)
    mati air, asyik dirumah saja untuk family time (bersyukur) ^_^

  6. Dudi

    Saya setuju. Tapi kalau saya meresponnya dengan cara yg lain. Konsep reward dan punishment saya tidak terlalu suka. Saya biasanya selalu mengambil contoh kehidupan nyata, bahwa banyak sekali kejadian dalam hidup manusia yg kerap tidak terjadi, atau tidak serta merta terjadi. Ada keinginan dimana kita harus menunggu dan bersabar baru kemudian hal itu terjadi. Biasanya saya mencontohkan hal-hal yang saya inginkan (bahkan sangat saya inginkan, yang ia (anak saya) juga tahu) tapi tidak terjadi, paling tidak, saat itu belum terjadi, dan itu kesempatan yg luar biasa baik untuk bisa melatih kemampuan menahan perasaan dan bersabar. Biasanya dengan pendekatan yang pas lalu anak saya bisa mengerti, bahkan kerapkali ia mengulangi cerita ini, bila adiknya atau temannya mengalami hal serupa seperti yang ia alami.. Ya, mungkin ini kesempatan bagi saya untuk mulai menanamkan konsep hidup yg tangible yg dilihat dan dialami langsung oleh anak-anak saya. Trmksh, Mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>