Berita-berita Homeschooling di Kompas

Beberapa hari terakhir, ada banyak sekali berita tentang homeschooling di Kompas. Senang ya, soalnya pemberitaannya positif dan menjadikan praktisi langsung sebagai sumbernya. Terima kasih keluarga Mbak Mella dan keluarga Mbak Lala Sumardiono dan semua pihak yang sudah memberikan pencerahan. Terima kasih wartawan Kompas. :)

1.”Homeschooling” Tak Seharusnya Diinstitusikan

Indra Akuntono | Inggried | Jumat, 12 Agustus 2011 | 10:57 WIB

Sementara itu, praktisi homeschooling, Mella Fitriansyah mengatakan, anggapan bahwa homeschooling mahal karena adanya pihak-pihak yang kemudian menyediakan tenaga pengajar untuk diundang ke rumah dan dengan kurikulum yang harus dibayar mahal. Padahal, menurut dia, esensi dari homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga.

“Kalau bisa dibilang, bimbel (bimbingan belajar) tapi menamakan diri sebagai homeschooling. Ini mengubah esensi homeschooling, yang seharusnya ditangani oleh keluarga yang lebih mengetahui pembelajaran bagi anaknya,” kata Mella, kepada Kompas.com, Kamis (11/8/2011).

Baca selengkapnya di sini.

2. Mendiknas: “Homeschooling” Itu Lebih Baik

Menteri Pendidikan bilang homeschooling itu legal. “..para orangtua yang menerapkan homeschooling kepada anak-anaknya tidak perlu khawatir. Anak-anak homeschooling dapat menggunakan jalur ujian Paket A, B dan Paket C untuk memeroleh ijazah guna melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Selengkapnya baca di sini.

3. Benarkah Anak HS Tak Bisa Bersosialisasi?

“Anak-anak homeschooling justru tidak mempunyai hambatan sosialisasi, karena dia biasa bertemu siapa saja. Tidak hanya teman sebayanya. Kami mengajak anak kami ke mana saja, bertemu apa saja, untuk belajar apa saja,” papar Mella.
Selengkapnya baca di sini.

4. Homeschooling, karena Keluarga Pusat “Tata Surya”

“Saat ini, kebanyakan keluarga masih menjadikan pekerjaan sebagai pusat ‘tata surya’nya. Ibaratnya, kita sudah dikasih batu atau kayu oleh Allah, dan diminta mengukirnya. Tetapi, kemudian kita menyerahkannya ke orang lain atau lembaga lain untuk mengukirnya.” Selengkapnya baca di sini.

5. Tips Sukses “Homeschooling”

Lidya Natasha Hadiwinata | Inggried | Rabu, 10 Agustus 2011 | 12:10 WIB

Belajar apa saja yang diminati. Belajar di mana saja yang disukai. Belajar kapan saja yang diinginkan. Belajar dari siapa saja yang mencerahkan. Karena belajar itu hak, bukan kewajiban. Belajar itu menyenangkan, bukan membebani.

Kata-kata di atas menjadi “penyapa”, saat Anda berkunjung ke situs web www.rumahinspirasi.com. Website ini digagas oleh Sumardiono (Aar) dan istrinya, Mira Julia (Lala). Mereka menerapkan homeschooling bagi ketiga anaknya, Yudhis (10), Tata (6), dan Duta (3). Di situs web itulah, Aar dan Lala menuangkan berbagai aktivitas belajar ketiga buah hatinya.
Selengkapnya baca di sini.

Sepertinya masih ada beberapa lagi artikel homeschooling di situs Kompas tersebut. Mungkin ada baiknya di-print out dan diarsipkan dengan rapi, supaya kapan saja bisa ditunjukkan pada pengkritik ;P

Kliping Berita Homeschooling ,

Homeschooling Is Not For Wimps (2)

Suatu hari, ada acara temu keluarga, dan aku pun pergi bersama keluargaku.

Yang namanya ibu-ibu, kalau lagi ngumpul, yang dibicarakan itu-itu saja ya. Jujur saja, aku tidak menikmati.

Yang tidak pernah absen dibicarakan, masalah sekolah anak. Kalau tidak  membanggakan nilai rapor, ya selalu yang jelek-jelek. Biaya sekolah mahal. PR banyak. Anak-anak malas belajar. Nilai ulangan jelek. Diganggu teman di sekolah.

Dalam situasi seperti itu, aku selalu diam-diam saja dan menjadi pendengar yang baik. Sejujurnya aku bosan sih. Pengen cepat pulang ke rumah, belajar bahasa Korea. Pengen nonton acara lawak Jepang di internet. Pengen nonton terusan drama Korea “On Air” yang dibelikan suami.

Tetapi, tiba-tiba, pembicaraan ditujukan padaku.

Begini awalnya. Seorang ibu mengeluh tentang nilai ulangan anaknya yang terlalu jelek. Kalau anak itu tidak diajari sendiri, katanya nilai ulangan itu tidak membaik. Setelah mengeluh panjang lebar begitu, tiba-tiba, dia melemparkan serangan padaku,”Kamu berhenti saja homeschooling!”

Hah? Apa sih? Aku jadi bingung. Apaan sih, tiba-tiba?

Aku sebetulnya enggan, maka kujawab seperlunya,”Kami nggak homeschooling karena suami nggak setuju. Nggak bisa homeschooling tanpa izin suami.”

“Anak-anakmu supel, anak-anak baik. Kalau mereka homeschooling, nanti jadi seperti kamu. Nggak bisa bergaul dengan orang-orang. Kalau di sekolah, mereka kan ketemu macam-macam orang, nanti mereka bisa menerima semua orang.”

Aku menjawab, “Aku suka kok diriku yang seperti ini. Kalau kamu nggak mau menerima aku yang seperti ini, nggak apa-apa. Lagipula aku jadi begini bukan karena homeschooling. Sama seperti kamu, aku juga anak sekolahan.”

Ibu itu terkejut. Katanya,”Apa itu, sifatmu kok jelek begitu. Ih kok ngomongnya gitu sih?”

Padahal baru saja dia mengatakan aku sebagai ibu tidak mampu mendidik anak-anakku sendiri. Padahal baru saja dia mengatakan aku orang yang payah, maka anak-anakku akan jadi payah seperti aku. Padahal dia sendiri juga tidak mampu menerima orang seperti aku, malah bilang begitu.

Keluargaku berhenti homeschooling sudah sejak 2 tahun lalu. Sampai sekarang pun aku masih harus dikomentari seperti ini. Kesal. Karena keluarga, masih harus bertemu lagi dengan orang itu. Aaah…

Pulang ke rumah, aku bisa berpikir dengan kepala dingin. Pengalaman itu terjadi untuk kebaikan diriku. Pengalaman itu diberikan untuk mendewasakan aku.

Hatiku penuh syukur.

Berkat pengalaman itu aku bisa memastikan aku cinta diriku sendiri ;) Itu penting. Sehari-hari aku berpikir ‘aku suka diriku’. Ternyata ketika ada orang mencela aku sebagai “ibu yang buruk”, aku tetap suka pada diriku ;)

Aku sudah tumbuh sedikit lebih matang lagi.

Kalau lain kali, aku dicela seperti itu lagi, dan aku bisa tidak merasa kesal, nah itu baru sempurna.

~Tuhan, terima kasih. Lain kali, aku berusaha lebih baik lagi.

Aku pernah diprotes, katanya aku terlalu banyak menulis hal-hal yang menjatuhkan sekolah. Tapi aku pikir, orang-orang yang protes seperti itu tidak paham apa yang dialami keluarga homeschooling. Aku yang hanya mendukung homeschooling, dan tidak melaksanakan homeschooling saja, diperlakukan seperti itu.

Orangtua yang mempraktikkan homeschooling tidak akan sembarangan menyarankan homeschooling kepada orang yang anaknya bermasalah di sekolah lho.

Sebaliknya, orangtua yang anaknya bermasalah di sekolah malah berusaha agar keluarga orang lain berhenti homeschooling. Aneh ya? Tetapi begitulah kenyataannya.

Aku pikir, mungkin sampai akhir zaman pun orang-orang yang tidak punya pengertian terhadap homeschooling akan selalu ada. Keluarga homeschooling jangan mau kalah oleh serangan seperti itu ya.

Orangtua praktisi homeschooling yang kutemui sampai saat ini, semuanya orangtua istimewa dan hebat-hebat. Aku suka sekali pada mereka. Keluarga homeschooling veteran senantiasa memikirkan cara-cara terbaik mendidik anak-anak mereka sendiri, mereka tidak sempat membicarakan keburukan sekolah.

Orangtua yang menitipkan anak-anaknya di sekolah saja, tidak bisa mengeluh macam-macam pada sekolah, dan membiarkan anak-anak menderita diam-diam. Mengubah sekolah itu sulit. Sebenarnya juga tidak sedikit orangtua yang berhenti mencoba mengubah sekolah dan memulai homeschooling untuk anak-anak mereka sendiri. Orangtua yang memulai homeschooling dengan membuang gengsi jauh-jauh, karena mengutamakan kepentingan anak-anaknya.

Barangkali homeschooling adalah protes dalam diam.

Jika ada orangtua yang bingung menimbang-nimbang sekolah atau homeschooling, lihatlah anak-anak baik-baik. Putuskanlah sendiri. Bagaimana kalau sekolahnya diteruskan?

Mau homeschooling, atau sekolah, tidak masalah. Perhatikan saja anak-anakmu baik-baik karena hasil tidak berbohong.

***

ある日、親戚の集まりがあって、私は家族と行った。

お母さんたちが集まるとだいたい同じことばかり話すよね。私があまり興味がない話題ばかりするから、退屈だ。

いつもといっていいほど、話題になるのは子供の学校のことである。成績自慢以外は、悪いことばかり。学費は高い。宿題が多い。子供は勉強しようとしない。成績が上がらない。友達にいじめられる。

そんな話ばかりをするお母さんたちと一緒にいると、私はいつも黙って聞く役に徹する。しんどいなと正直思う。早く家帰って、韓国語の勉強をしたい。ネットで日本のお笑い番組がみたい。夫が買ってきてくれた「オンエアー」という韓国のドラマが見たい。

でも、突然、話は私にふられてしまったのである。

あるお母さんが自分の娘は学校の成績が悪すぎると。そのお母さん自身が教えてあげなければ、成績が上がらないと嘆いた後、突然、「あなたは、ホームスクーリングはやめなさいよ」と私に言い放った。

なに?なに?と当惑したのよ。なによ、いきなり。

私は本当にいやいやで「夫が賛成しないから、ホームスクーリングやってません。夫が賛成してくれないと、できませんから。」と一応答えた。

「あなたの子供たちは、社交的で、いい子達なのよ。ホームスクーリングをしたら、あなたみたいになるから。子供は学校でいろんな人と会って、すべての人を受け入れられるようになるよ。」

「私は私のことが好きですよ。あなたが私のことを受け入れられないなら、結構です。しかも、私はこうなったのはホームスクーリングのせいじゃありません。あなたと同じで学校の子だっんだから」と答えた。

その人がびっくりした。「なに、それ、あなた性格悪い。ひどいね」と私に言った。

さっき彼女は私は母親として自分の子供を教育する資格はないと言ったのに。私はダメな人だから、子供たちもダメになってしまうと言ったのに。自分がひどいことを言ったことに気づかないようだった。自分が私のことを受け入れられないくせに、よく言うわね。

私の家族はホームスクーリングをやめたのは2年前のことである。まだあんなひどいことを言われなければならないんだね。イライラした。親戚だから、また会うし。あ~

家帰って、冷静になった。その経験は私のために起こったものだったんだ。私を成長させてくれるために起こったんだと気づいた。

その経験がありがたかったのである。

なぜなら、自分は自分が大好きなことを確認できたからである。それは、大事なことだ。日頃自分が好きと思っている私だが、他人に「あなたがダメな母親だよ」と散々言われても、やっぱり自分が好きだということが確認できた。こんな私だって、またひとつ成長したな、と。

今度はまたあんなひどいことを言われたら、イライラしないで済むなら、もう完璧。

~神様、ありがとうございました。次も頑張ります。

私はこのブログをいろいろ書いて、学校をバッシングし過ぎと言われたことがあるんだが、そういう人達はわかってないなと思う。私は、ホームスクーリングをしていないのに、ホームスクーリングを支持しているだけで、あんな扱いなんだから。

ホームスクーリングをしている親は学校で問題児になった子の親にやたら「ホームスクーリングしたら?」とは絶対に言わないから。逆に、自分の子が学校でいろんな悩みを抱えている親のほうが、他の家族のホームスクーリングをやめさせようとする。なんか、おかしいよね。でも、現実はそうなっている。

たぶん、ホームスクーリングに対する理解のない人達がこの世が終わりに近づいてもまだまだいると思うので、ホームスクーリングの家族にそれに負けないでがんばってほしいと思う。

今までホームスクーリングを実施している親と会ってきて、私は彼らが特別であり、立派な親だと思うので、大好きだ。ベテランのホームスクーリング家族は、自分たちでどのように自分の子供たちを教育できることを常に考え、学校における教育問題はあまり口にしないんだよ。学校に子供を預ける親たちだって、学校に文句を言えずに、泣き寝入りだけだろう。学校を変えるのが難しい。実際、学校を諦めて、ホームスクーリングを始める人は少なくない。親はプライドを捨てて、子供のことを第一に考えて、ホームスクーリングを始めたケースがほとんどだから。

ホームスクーリングは無言の抵抗なのかもしれない。

ホームスクーリングと学校と、迷う親がいるなら、自分の子供たちをよく見なさい。自分で判断してください。そのまま学校にいさせていいのか。子供たちをよく見なさい。

学校であろうと、ホームスクーリングであろうと、結果は嘘をつかない。

Sosialisasi Homeschooling

Selamat Anak-anak Homeschooling yang Lulus SNMPTN 2011

Dari status Facebook Bu Yayah Komariah (Komunitas Berkemas), blog Mbak Ary, Mbak Moi, Mbak Raken, dan Pak Aar, aku membaca berita bahwa sembilan anak homeschooling diterima di perguruan tinggi negeri. Hebat ya! Tuh kan, homeschooling bisa juga diterima kuliah lho dengan ijazah Paket C. Selamat ya!

Anak-anak homeschooling tersebut antara lain diterima di Universitas Negeri Padang, Universitas Indonesia, dan Universitas Brawijaya Malang.

Jadi tidak masalah kalau homeschooling ingin meneruskan kuliah. Yang penting lulus ujian dan mampu bayar kuliah. ;)

Semoga menjadi penyemangat keluarga homeschooling yang ingin mengikuti jejak para senior… Semangat, keluarga homeschooling Indonesia!

Foto: Vibragiel

Kliping Berita Homeschooling

Cara Menghadapi Pertanyaan tentang Sosialisasi

Ketika seseorang mengatakan,”Kenapa kamu aneh sekali memilih homeschooling untuk anakmu? Nanti anakmu nggak bisa bergaul dengan orang lain!”, perhatikan apa yang terjadi pada hatimu.

Apakah kamu menjadi gusar dan marah sekali?

Apakah kamu merasa tenang dan maklum bahwa tidak semua orang memahami sosialisasi anak di dunia nyata selain sekolah?

Kalau kamu kesal, pertanyakan apakah kamu juga mempunyai kekhawatiran yang sama di sudut hatimu? Kalau kekhawatiran itu ada, pertanyakan apakah hal itu betul, bahwa anakmu tidak bisa bergaul dengan orang lain? Temukan sedikitnya 3 bukti bahwa anakmu BISA bergaul dengan orang lain.

Misalnya:
1. dia tidak malu-malu berbicara dengan pemilik warung tadi siang
2. dia menelepon temannya dan meminta temannya untuk datang lagi ke rumah
3. dia melerai kedua adiknya yang bertengkar.

Perhatikan bahwa keterampilan bersosialisasi yang dimiliki anakmu saat ini TIDAK BISA dia dapatkan dari sekolah. Perhatikan bahwa homeschooling di rumah sangat kondusif membina keterampilan bersosialisasi tersebut.

Dan kalau kamu masih khawatir, pertimbangkan kemungkinan menambah kegiatan di luar rumah. Jika merasa sudah cukup, tentunya tidak perlu.

Hapuskan kekhawatiran itu dan yakinlah, anak-anak homeschooling akan baik-baik saja!

Jika lain kali bertemu lagi dengan orang yang memperingatkan tentang “sosialisasi”, kamu boleh tersenyum dan mengucapkan, “Terima kasih”, dengan tulus. Katakan, “Tetapi jangan khawatir, Kawan, anakku baik-baik saja!”

Foto: Der Bettler

Sosialisasi Homeschooling

Mengajari Anak Cara Bersyukur

Sejak Kanae bersekolah, aku melihat dia menjadi mudah marah dan sering bersungut-sungut. Aku rasa aku akan begitu juga kalau setiap hari diwajibkan berada dalam lingkungan yang membuatku stres, rumah mertua misalnya.

Awalnya aku sedih melihat perubahan itu. Awalnya aku ingin suamiku melihat apa yang aku lihat, dan memahami perubahan itu seperti aku memahaminya. Sekolah mengubah Kanae yang manis menjadi Kanae yang pemarah. Tidakkah dia bisa melihat itu? Harapan sia-sia. Suamiku cuma bisa memahami apa yang dia pahami, seperti halnya aku. Aku cuma bisa memahami apa yang aku pahami.

Awalnya aku membiarkan saja setiap kali Kanae mulai bertingkah. Ibuku tinggal bersama kami dan seperti suamiku, dia juga penggemar berat sekolah. Aku dan ibuku sering bertengkar tentang perubahan Kanae sejak disekolahkan. Pernah juga kami bertengkar di rumah Mbak Dian, yang kebetulan adalah keluarga homeschooling.

Jadi kalau Kanae ‘mulai’, aku biarkan saja ibuku yang menanganinya. Kan bukan aku yang menyebabkan Kanae bermasalah, jadi aku tidak mau repot-repot!

Aku perhatikan suamiku pun sama saja dengan ibuku, tidak tahu bagaimana menangani ledakan tantrum Kanae selain menjerit-jeriti dia. Bagaimana pun aku bersyukur sih suamiku bukan tipe ayah ringan tangan seperti kebanyakan ayah yang kukenal. Anak-anakku harus berterima kasih padaku, aku telah memilihkan ayah yang baik untuk mereka.

Selang beberapa lama, aku berdamai dengan kenyataan. OK, jadi inilah hidup Kanae. Kanae bersekolah. Aku tidak suka tetapi inilah kenyataannya. Dia kesulitan mengelola perasaannya. Sebagai ibunya, aku bisa mengajari dia menjadi “korban keadaan” atau “memberdayakan” dia dalam hidupnya saat ini. Barangkali selama ini aku juga yang ikut mengajari dia merasa tidak berdaya dengan cara tidak berbuat apa-apa.

Begitu aku menyadari hal itu, kesempatan pembelajaran itu datang.

Hari libur, kami sekeluarga jalan-jalan bermobil ke kota, Jakarta gitu. Kanae sebetulnya ingin pergi ke suatu mal, tetapi karena kami mampir ke tempat-tempat lain, sampai hari sudah sore dan kami berencana pulang pun, keinginannya itu tidak kesampaian. Seperti biasa, Kanae mulai merajuk. Aku mau pergi ke situ, kenapa nggak pergi, ayo kita pergi, ugh kenapa sih aku nggak dituruti…

Aku ingat, aku merasa heran, aku tidak marah waktu itu. Sementara suami dan ibuku sudah mulai jengkel dengan rengekan Kanae. Mau jengkel atau tidak jengkel dengan rengekan anak rupanya soal pilihan juga.

Aku ingat aku merasa maklum dengan perasaan Kanae. Siapa bilang seharusnya dia tidak merengek? Kalau kemauannya tidak dituruti, pasti merengek! Wajar dong! Kan anak-anak. Orang dewasa juga begitu kok! Banyak kan perempuan yang suka mengomel pada suami dan anak-anaknya? Apalagi anak-anak seperti Kanae. Aku bukan orang penyabar, tetapi aku ingat aku merasa tidak punya alasan untuk marah.

Menghadapi tantrum anak hampir 7 tahun yang bisa bicara sebenarnya menyenangkan. Karena dia sudah bisa diajak berdialog dan berpikir bersama. Kita bisa memahami dia, dan dia bisa memahami kita.

Waktu itu aku menggenggam kedua tangan Kanae, dan bertanya sungguh-sungguh,”Kenapa merengek? Kanae mau apa?”

Jawabnya,”Aku mau ke mal A.”

“Kanae mau apa di sana?”

“Mau main-main.”

“Lho Kanae tadi kan sudah main di restoran. Kanae sudah main ayunan, sudah main perosotan… Ya kan?”

“Iya, tapi aku juga mau beli kue sus di sana!”

“Tadi Papa sudah belikan Kanae donat karamel. Ya kan? Kue sus dan donat karamel kan sama-sama kue.”

“Aku mau lari-lari di sana!”

“Lho dari tadi bukannya Kanae lari-lari terus?”

“Nggak mau, pokoknya larinya harus di mal!”

Sampai di sini aku mulai masuk model ceramah soalnya dia tidak berhenti merengek.

“Kanae mau main…? Tadi Kanae sudah main. Kanae mau kue… tadi sudah diberi kue. Semua yang Kanae inginkan sudah terkabul. Tapi Kanae masih nangis-nangis juga. Apa itu namanya? Nggak bersyukur.

Bu Guru bilang apa kalau anak nggak bersyukur? Nggak bersyukur masuk neraka. Ya kan? Bilang gitu kan? Kalau anak yang bersyukur masuk surga. Tapi ya Kanae, neraka itu bukan nanti, bukan masih lama. Neraka itu sekarang. Kanae nggak bersyukur, karena itu sekarang Kanae nangis-nangis.

Coba lihat Masa! Masa, sini! Masa senang nggak sekarang?” Masa adiknya, 4 tahun, waktu itu belum sekolah.

Masa, anak laki-laki yang manis, ketawa-ketawa, saat menjawab,”Iya, Masa senang! Soalnya asyik!”

“Nah kan, Masa anak yang bersyukur, Masa sekarang di surga, bahagia. Kanae nggak bersyukur, Kanae di neraka sekarang, menderita.”

Kanae terdiam. Agaknya dia mulai mempertimbangkan perkataanku.

Lalu, jawabnya,”Mama mana tahu Bu Guru bilang apa! Kan Mama nggak mau ketemu Bu Guru aku.”

“Ah nggak ketemu juga aku tahu kok, Bu Gurumu ngomong apa,” kataku ngeles.

Tetapi rengekan Kanae juga berhenti sampai di situ, dan kami pulang ke rumah tanpa iringan tangisnya lagi.

Peristiwa ini sudah lama tetapi Kanae tidak pernah merengek lagi. Tapi hidup masih panjang tentu saja, barangkali kalau dia merengek lagi, aku ajak lagi dia untuk melihat bahwa dia sudah mendapatkan semua yang dia inginkan, dan dia bisa pilih sendiri, mau berada di surga atau neraka.

Dan itu namanya, pembelajaran dalam konteks. Hanya orangtua yang bisa mengajari anak-anaknya menghadapi kesulitan hidup, sekolah paling-paling bisa memaksa anak-anak menghapalkan ayat kitab suci tentang bersyukur, tetapi untuk penerapannya dalam hidup, mereka sebetulnya tidak berdaya.

Penerapan Homeschooling

Tulisan Tamu: Pengurusan Ijazah Paket di Salatiga

Berikut ini adalah informasi dari Bu Guru Ameliasari di Salatiga mengenai pengurusan ijazah kesetaraan atau ijazah Paket yang dimanfaatkan oleh praktisi homeschooling yang membutuhkan ijazah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dan sebagainya.

******

Pengurusan Ijazah Paket di Salatiga

ditulis oleh Ibu Ameliasari

Untuk Ujian Paket A, silakan datang ke komunitas Bina Anak Bangsa di Kecandran, dengan membawa fotokopi akte kelahiran, data anak (nama, alamat dan nama ortu), pas foto 3×4 dan 4×6 @ 10 buah. Itu saja yang dibawa, nanti orangtua akan diberitahu tentang waktu pelaksanaan ujian Paket A tersebut.

Untuk Ujian Paket B dan C memang agak rumit, tapi tetap GRATIS!! Syaratnya sama, dengan ditambah fotokopi ijasah terakhir legalisir, fotokopi rapor atau portofolio hasil pembelajaran.

Kasus kemarin, karena ada teman dari Jogja anaknya tidak memiliki rapor ataupun portofolio, akhirnya Komunitas Bina Anak Bangsa yang membuatkan rapor berdasarkan kompetensi yang dimiliki anak tersebut. Ini juga bisa dilakukan, dan anak itu lulus, bahkan sekarang sudah diterima kuliah di UKSW Salatiga, dengan jalur PEMAMIK, semacam PMDK tanpa tes.

Untuk hal-hal tersebut sungguh kami dari Komunitas Anak Bangsa tidak memungut biaya sepeser pun. Tetapi ada syarat tambahan yakni orang tua ikut berperan aktif dalam pengurusan, bersedia ikut mengurus ke DIKNAS, saat ujian maupun saat pengambilan ijazah.

Jadi, apa yang sulit sebetulnya?

Catatan tambahan: jika umur anak belum memenuhi syarat, misalnya masih berumur 16 tahun, seperti kasus putri Bu Mahfud, adik Izza (Izza adalah penulis buku Dunia Tanpa Sekolah, memoar dirinya sebagai remaja yang memilih tidak bersekolah) ada tambahan persyaratan hasil tes IQ. Untuk adik Izza yang akan ikut ujian paket C kemarin, Diknas menambah persyaratan hasil tes IQ karena yang menentukan bisa tidaknya ujian paket diselenggarakan bagi seorang anak untuk paket C adalah Diknas Propinsi.

Untuk lebih jelasnya tentang prosedur di Diknas Salatiga bisa menghubungi
Bu Anik
Komunitas Bina Anak Bangsa
Kecandran, Salatiga

atau hubungi saya (Ibu Lea, http://untukanakbangsa.blogspot.com/) juga oke…

Tulisan ini sebagai bahan referensi saja bagi teman-teman supaya bisa lebih kritis menyikapi penipuan-penipuan dan birokrasi rumit pengurusan ijazah Paket di Diknas wilayah teman-teman.

Bagi saya pribadi, yang belum berpikir untuk ikut ujian paket atau untuk memperoleh ijazah buat Raihan-sepertinya kok bukan hal yang penting sekali sekarang ini? Hehe…

Yang terpenting dalam HS (homeschooling) kami adalah, membentuk karakter anak-anak kami terlebih dahulu, supaya mereka menjadi anak-anak yang baik hati, bijaksana, dan jujur dan karakter-karakter positif lainnya. Karena menurut kami, jika karakter yang terbentuk sudah baik, maka mereka akan siap menghadapi apapun di kehidupan mereka kelak, dengan baik pula.

Untuk anak kami, Raihan, kami arahkan ke entrepreneur, jadi ijazah sepertinya tidak terlalu penting hehe…

SEMANGAAAATTT!!!……(^.^)/..

******

Semoga dengan penjelasan dari Ibu Lea, kita semua bisa lebih fokus pada pendidikan karakter dan kemampuan anak-anak kita karena kalau soal ijazah sebetulnya hak anak-anak kita untuk mengikuti ujiannya sudah dijamin oleh pemerintah.

Catatan tambahan dari Ibu Yanti Wijanarko tentang tes IQ:

Test IQ hanya ditujukan bagi mereka yg ingin akselerasi, jadi umur ijazah terakhirnya belum berusia 3 thn, misalnya dari SD mau ikut ujian paket B, atau ijazah terakhir SMP belum 3 tahun, namun ingin ikut ujian Paket C. Kalau nggak salah persyaratan minimal IQ 130. Sebenernya syarat IQ ini nggak begitu relevan karena yang penting kan proses belajar anak-anak itu. IQ cuma ngukur potensi kemampuan belajar dan gaya berpikir. Lagi pula semakin tinggi IQ biasanya minat mereka spesifik.”

Foto oleh Lumaxart, Flickr

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Kliping Berita Homeschooling ,
Hal. 1 dari 26123451020...Akhir »