Cara Mudah Menghadapi Anak Tantrum

Cara Mudah Menghadapi Tantrum - Homeschooling Indonesia

Banyak orangtua yang tidak tahu cara menghadapi anak tantrum, dan merasa tidak sanggup homeschooling karena tidak tahan berada bersama anak. Jadi berikut tipsku, mudah-mudahan ada manfaatnya. Kalau nggak, ya udah. Hahaha.

Ingat: anak-anak membutuhkan cinta orangtua seperti mereka membutuhkan makanan dan udara.

Karena kita tidak mungkin mengatakan pada anak-anak,”Hari Senin sampai Jumat kamu tidak perlu makan. Nanti saja hari Sabtu kamu makan ya, karena Ayah dan Ibu sibuk bekerja,” kita juga tidak semestinya menunda memberikan suplai cinta pada anak-anak setiap hari.

Anak-anak melindungi dan menjaga diri mereka sendiri. Jadi kalau kebutuhan cinta itu tidak terpenuhi, mereka berupaya sekuat tenaga untuk memintanya dari orangtua. Caranya: waktu bayi, menangis. Waktu agak besar, selain menangis, mengganggu adik, merengek minta mainan, apa saja pokoknya agar Ibu menghentikan kegiatan dan memberikan cinta itu pada mereka. Buku-buku panduan membesarkan anak menyebutnya tantrum.

Tantrum, menangis tanpa alasan jelas. Tetapi sebetulnya alasan anak tantrum itu ada dua:

  • 1. meminta cinta orangtua
  • 2. menangis curhat untuk melepaskan kekesalan yang menumpuk selama ini.

Lalu bagaimana menghadapi anak yang sedang tantrum? Mudah saja sebetulnya…

  • 1. berikan cinta dan perhatian itu
  • 2. jadilah teman curhat yang baik.

Konkretnya, peluk dan temani dia menangis. Gendong, sambil kita berbicara, berjalan-jalan, dan sebagainya sampai dia mampu menenangkan diri kembali. Badai pasti berlalu.

Cukup sering kita sibuk, dan lupa juga memberikan perhatian yang dibutuhkan anak-anak, dan ketika mereka sudah tidak tahan dan bertingkah buruk untuk mendapatkan hak mereka akan cinta itu, eh sedang ada tamu. Jadilah anak itu melakukan sesuatu yang tidak kita sukai di depan tamu.

Alih-alih berpikir sebagai “korban”: memalukan… kok begitu tingkahnya… kan lagi ada tamu… lebih efektif kita mengakui keteledoran kita melaksanakan tanggung jawab kita memberikan cinta dan perhatian pada anak. Berikan cinta yang dia butuhkan. Di tempat itu, sekarang juga. Tamu juga tidak marah kok kalau kita permisi dulu untuk memperhatikan anak. Lagipula kebutuhan anak kita kan lebih penting daripada kebutuhan tamu.

Seringnya, aku melihat ibu yang bukannya bersikap dewasa, malah ngambek sendiri karena anaknya meminta bukti cinta ibunya di depan tamu. ;)

Mama, ambilin kue itu dong, Ma.

Ah, Mama nggak mau, ambil sendiri! Udah gede!

Mama… ambilin… (baca: Mama, aku butuh cintamu nih, plisss….)

lalu si anak tambah menangis merengek-rengek… dan baru diam setelah ibunya mengambilkan kue sambil bersungut-sungut.

Sebetulnya kalau saat itu, ibunya mengambilkan kue dengan senyuman manis, anak itu akan belajar tentang kebaikan hati dari si ibu. Ini bisa dibilang kurikulum tersembunyi terkait sosialisasi dari homeschooling atau interaksi dengan orangtua di rumah.

Seperti aku tulis di atas, sebenarnya menghadapi anak tantrum itu mudah, tetapi yang sulit itu menguasai diri kita sendiri, yang kadang tidak cukup dewasa sebagai orangtua.

*Buku: Connection Parenting dari Pam Leo.

Lain-lain , , ,

Katanya Kalau Homeschooling, Anak Tidak Siap Menghadapi Dunia Nyata

Kalau Homeschooling Katanya Anak Tidak Siap Menghadapi Dunia Nyata - Homeschooling Indonesia

ernop, Flickr

Aku kira satu hal yang paling sering dikemukakan orang sebagai alasan menolak homeschooling adalah: sekolah bukan untuk dihindari karena sekolah mempersiapkan anak untuk dunia nyata. Yang mengatakan seperti itu jelas tidak tahu bagaimana praktik homeschooling.

Salah satu alasan orangtua memilih homeschooling adalah kenyataan bahwa banyak lulusan sekolah tidak siap menghadapi dunia nyata. Ketidaksiapan itu wajar saja karena persiapan dengan sekolah itu kan menarik anak dari kehidupan dunia nyata, mengumpulkan mereka di dalam suatu lingkungan yang terpisah dari dunia nyata, dan setelah 12 tahun berlalu, mereka dilepas ke dunia nyata. Dan siapkah mereka? Ternyata tidak. Persiapan yang dilakukan selama ini adalah untuk terbiasa bertahan di dunia sekolah, bukan dunia nyata yang sebenarnya.

Beberapa orangtua yang cukup bijak untuk menyadari keabsurdan pernyataan “sekolah=dunia nyata”, memilih homeschooling bagi anak-anak mereka. Kalau mau siap menghadapi dunia nyata seharusnya anak-anak berada di dunia nyata, maka diambillah pilihan homeschooling.

Survei membuktikan, anak-anak homeschooling pada usia “lulus SMA”, melakukan lebih banyak hal-hal menarik dan berguna di dunia nyata daripada anak-anak sekolah. Ada anak-anak homeschooling yang sudah mempunyai bisnis mereka sendiri, magang, aktif dalam kegiatan relawan di lingkungannya, mengadakan konser dan pameran sendiri, menerbitkan buku, dan sebagainya. Banyak sekali yang bisa dilakukan di dunia ini tanpa harus sekolah. Gunakan imajinasimu.

Jadi pendapat kalau tidak sekolah = tidak berbuat apa-apa, tidak punya teman, dan tidak punya kenangan itu datang dari pengalaman sebagai anak sekolah yang tidak berdaya menghadapi dunia nyata di luar sekolah. Kasihan.

Anak-anak homeschooling dimungkinkan untuk lebih siap menghadapi dunia nyata karena mereka belajar dan hidup di dunia nyata. Dunia nyata? Sudah santapan sehari-hari!

Alasan Homeschooling , ,

Tidak Perlu Ijazah = Tidak Realistis?

30 Persen Pengangguran Terdidik tak Penuhi Kualifikasi

Dalam artikel di Republika yang melansir pendapat Wakil Mendiknas, Fasli Jalal:

Masalah pengangguran terus menggelayuti negeri ini. Bahkan hampir 30 persen lulusan terdidik di Indonesia, baik dari tingkat SD hingga lulusan kampus tak terserap dunia kerja. Bahkan penyumbang paling dominan pengangguran tersebut adalah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi.

Masih dari artikel yang sama:

Intinya, persoalan munculnya pengangguran dari lulusan perguruan tinggi itu tidak bisa dijawab dengan selembar ijazah.

Banyak orang tidak mengerti mengapa ada orangtua homeschooling yang membebaskan anak-anaknya tidak memiliki ijazah sekolah, dan menganggap orangtua homeschooling yang demikian itu idealis dan tidak realistis. Padahal Wakil Mendiknas saja sudah mengakui secara publik bahwa mengandalkan ijazah saja tidak ada manfaatnya.

Jadi sebenarnya orangtua homeschooling itu malah sangat realistis dan pragmatis, dan yang sedang berada dalam utopia itu adalah orang-orang yang masih mendewa-dewakan ijazah.

Tidak usah menunggu 10-20 tahun lagi untuk buktinya, sekarang pun kalau kamu punya kemampuan yang riil dan bermanfaat bagi orang lain, tidak ada yang merasa perlu menanyakan ijazahmu dan mereka akan bersedia membayar bayaran mahal yang kamu minta. Sedangkan lulusan perguruan tinggi yang berijazah tanpa kemampuan yang bisa diandalkan, seperti artikel berita tadi, hanya menambah-nambahi angka pengangguran saja.

If you’re AWESOME, nobody cares about your diploma or degree! Really!

Kliping Berita Homeschooling , ,

Siapakah yang Lebih Menyesal?

Di depan makam ibunya, seorang kakak perempuan berkata pada adik laki-lakinya, “Kenapa kamu tidak menyelesaikan tesis S2-mu? Kamu telah mengecewakan Ibu.”

Kata-kata itu tidak tertuju padaku, tetapi tak pelak aku ikut pilu mendengarnya. Tidak punya perasaankah si kakak?

Ibunya sudah meninggal. Apa yang bisa dilakukan lagi sekarang meskipun misalnya tesis itu diselesaikan?

Kenyataannya waktu sudah tidak bisa diputar kembali. Ibunya tidak bisa hidup lagi, dan tenggat penyerahan tesis tidak bisa kembali lagi. Kita semua harus melanjutkan hidup. Mengapa mendorong si adik menapaki hidup dengan penyesalan?

Dan seandainya manusia yang sudah meninggal mendapatkan ilham ‘pencerahan’ di alam sana, pasti si ibu menyadari bahwa hidup ini tidak ditentukan selembar ijazah, melainkan amal. Pasti dia sudah menyadari yang sejati diinginkannya untuk anak-anaknya adalah kebahagiaan, dan itu saja yang penting. Pasti dia sudah tidak peduli lagi dengan gengsi, gelar sarjana S2, dan apa pun yang dulu dikejarnya di masa hidup, yang mendorongnya mengatakan,”Ibu kecewa padamu.”

Cinta ibu seharusnya tidak bersyarat. Bangga ibu seharusnya tidak muncul hanya pada saat ijazah diserahkan. Kecewa ibu tidak untuk dibawa mati. Aku berduka untuk mereka, dan berjanji tidak membuat kesalahan yang sama.

Curhat ,

Prioritas, Kenyataan, dan Cara Berpikir

Prioritas, Kenyataan, dan Cara Berpikir - Homeschooling Indonesia - gambar

o5ocom, Flickr

Bandingkan dua pernyataan di bawah ini:

Aku tidak bisa homeschooling karena aku harus bekerja di luar rumah.

dengan

Aku tidak bisa bekerja di luar rumah karena aku harus homeschooling.

Prioritas yang berbeda menghasilkan cara berpikir yang berbeda. Cara berpikir yang berbeda menghasilkan kenyataan yang berbeda.

*Tidak berarti tidak bisa homeschooling dan bekerja di luar rumah.

Curhat , ,

Membuat Book Trailer di Animoto.com

Ini adalah book trailer yang aku buat dengan layanan animoto.com. Karena aku tidak membayar, aku bisa membuat movie dengan foto-foto dan mengedit tulisan, hanya 30 detik, dan credit animoto.com di penghujung tidak boleh kuhapus. Mudah sekali. Silakan coba di animoto.com.

Kalau aku membayar lisensi, credit di akhir movie boleh kuhilangkan, sehingga seolah-olah aku sendiri yang membuatnya dari nol. Bagi yang tidak pernah mengenal layanan ini pasti jadi terkagum-kagum dengan keahlianku membuat film. Sebenarnya aku bisa saja menghilangkan  nama animoto.com itu dengan mengedit di Windows Movie Maker, tentu saja ini menyalahi perjanjian dan ilegal, tetapi… siapa sih yang memeriksa? Tidak mungkin animoto.com mengetahui, atau repot-repot menuntut aku secara hukum.

Tetapi tentu saja aku tetap tidak bisa mematenkan film tersebut sebagai karyaku sendiri, aku tidak mungkin cukup sinting melakukan presentasi di depan pakar-pakar pembuat film, mengundang menteri-menteri, apalagi minta beasiswa segala.

Kejujuran… agaknya tidak bisa diajarkan di sekolah. *Lho kok jadi ke situ ya?*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Lain-lain ,
Hal. 10 dari 26« Awal...8910111220...Akhir »