Menghadapi Keluarga yang Mengkritik Homeschooling oleh Naomi Aldort

Naomi Aldort adalah penulis buku parenting Raising Our Children, Raising Ourselves, sekaligus seorang praktisi dan advokat homeschooling metode unschooling.

Kata seorang ayah yang putus asa, dalam sesi konsultasi telepon,

“Aku pasti gembira sepenuhnya karena putri kami homeschooling, kalau saja para ipar tidak membuatku stres dengan keraguan dan kritik mereka.”

Naomi bertanya,

“Mengapa mendiskusikan pendidikan anak Anda dengan mereka?”

Bob, si ayah, terdiam, lalu menjawab dengan malu,

“Bukankah seharusnya begitu?”

Kata Naomi,

“Ya tentu saja, jika hal itu membawa kegembiraan dan kejelasan bagi hidup Anda. Tapi bagaimana hasilnya? Apakah begitu?”

Jawab,

“Tidak. Diskusi itu hanya merusak kegembiraan dan keyakinanku. Dina sangat menikmati, dia bermain, berkreasi, menari… tetapi kemudian keraguan mereka menular padaku, dan aku menjadi khawatir.

Pembicaraan itu selalu berkisar pada masalah Dina belum bisa membaca dan belum mulai belajar matematika. Dia sibuk sepanjang hari mengumpulkan bekicot dan memberi makan bekicot.”

Bob tertawa, agaknya menikmati bayangannya sendiri tentang ambisi terbaru anaknya itu.

Banyak orangtua yang menelepon Naomi untuk berkonsultasi mengeluh tentang keluarga yang mendesak mereka untuk mengirimkan anak-anak ke sekolah.

Sanak keluarga tersebut tidak dapat membayangkan seorang anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mapan, sosial, dan berpendidikan, kalau kita tidak mengunci mereka berjam-jam setiap hari, dalam kelompok seumur, dan mengulang-ulang informasi tak berarti ke telinga mereka selama 13 tahun.

Betapa sedikit mereka berpikir tentang suatu keajaiban bernama “anak”.

“Kalau membahas pendidikan Dina dengan mereka menyebabkan stres dan keraguan, mengapa Anda melakukannya?”

“Aku kira aku harus”, jawab Bob, “Mereka kelihatan memaksa”.

Namun, keluarga merespons cara kita memperlakukan mereka dan membaca petunjuk dari kita. Tanpa menyadarinya, Bob mengundang keluarganya untuk ikut memilihkan pendidikan bagi Dina.

Anda sebaiknya TIDAK MENJELASKAN gagasan parenting Anda kepada teman dan keluarga lain. Pada saat Anda mencoba meyakinkan mereka, mereka berhenti menghargai Anda, dan lebih penting lagi, Anda mengundang mereka sumbang suara pada cara Anda menjadi orangtua.

Anda tidak berhutang penjelasan atau pembenaran pada mereka. Kebutuhan Anda untuk meyakinkan mereka merampas rasa percaya diri Anda, dan mereka menganggap diri sebagai dewan penasehat Anda.

Dengarkanlah mereka, akui perasaan mereka dengan mengulang dan menunjukkan pemahaman Anda terhadap keprihatinan mereka, dan tidak membela diri tentang gagasan pendidikan Anda. Pembelaan diri adalah undangan bagi mereka untuk memberikan suara.

Pembelaan diri seperti mengatakan,”Aku perlu meyakinkan kamu karena kamu juga berhak memutuskan.” Anda tidak perlu persetujuan mereka, Anda hanya perlu persetujuan diri sendiri.

Contoh dialog dengan ibu (nenek anak) yang menentang homeschooling

Bob (berperan sebagai Nenek): “Dina harus bersekolah supaya bisa bersosialisasi dan belajar. Bagaimana dia belajar hal-hal yang harus dia ketahui kalau kerjanya cuma memberi makan bekicot?”

Naomi (berperan sebagai Bob): “Saya mendengar Ibu sangat prihatin. Pasti sulit melihat Dina bermain sepanjang hari kalau Ibu berpikir dia seharusnya ada di sekolah. Saya senang Ibu sangat terlibat dengan pendidikan Dina.”

Bob sebagai Nenek: “Kalau begitu kenapa kamu tidak mematuhi aku? Aku lebih tahu daripada kamu. Bagaimana dia bisa belajar? Lihat dia! Dia bahkan tidak bisa membaca!”

Naomi sebagai Bob: “Apakah Ibu khawatir dia tidak akan bisa membaca dan bergaul di masyarakat?”

Bob sebagai Nenek: “Ya, aku khawatir. Dia juga tidak mungkin mandiri. Lihatlah dia sangat nempel padamu. Dia harus bergaul dengan anak-anak lain di sekolah, belajar keterampilan sosial, membaca, sejarah, dan matematika.”

Naomi sebagai Bob: “Saya mendengarkan Ibu. Ibu khawatir dia terlalu dekat dengan saya, dia tidak akan tahu cara bergaul dengan orang lain, dan dia akan jadi anak yang tidak tahu apa-apa, dan tidak bisa hidup dengan baik. Begitu ya?”

Nenek: “Tidak dramatis seperti itu sih… tapi ya betul. Aku pikir Dina harus sekolah.”

Bob: “Saya paham. Ibu yakin dia harus bersekolah. Kalau begitu tentu saja Ibu merasa susah melihat dia bebas melakukan apa saja sepanjang hari, tanpa pe-er dan keharusan duduk di kelas. Tahu tidak, sepertinya Ibu akan tambah susah. Kami menjalani jalur yang jauh berbeda dengan keyakinan Ibu tentang jalur yang terbaik. Saya tidak tahu bagaimana membuat perasaan Ibu lebih ringan.

Yang bisa saya lakukan untuk Ibu adalah memberikan buku-buku bacaan tentang homeschooling dan CD dari Naomi Aldort.

Kalau Ibu tertarik, beri tahu saya. Tetapi tidak apa-apa kalau Ibu tidak begitu ingin mengetahui tentang homeschooling. Ibu melakukan tugas ibu dulu terhadap kami. Sekarang kami melakukan tugas kami terhadap Dina.”

Tanpa membahas pilihan pendidikan, tanpa membela diri tentang alasan Anda homeschooling, dan selalu mencintai, menghargai, dan memahami keluarga Anda, Anda dapat menciptakan hubungan baik tanpa mengundang mereka menjadi dewan penasihat Anda.

Sosialisasi Homeschooling ,

Rencana Tuhan untuk Masa

Rabu siang, Masa (4) menangis kesakitan dan minta diantar ke dokter gigi. Klinik dokter gigi terlalu jauh untuk dicapai berjalan kaki, tetapi terlalu dekat jika naik taksi sehingga supir taksi tidak mau menjemput. Satu-satunya cara kami keluar dari kompleks perumahan ini adalah diantar dengan mobil oleh suamiku. Jadi aku SMS dia, supaya mengantar Masa ke dokter gigi sepulang kerja, dan dia balas “ya”. Tunggu punya tunggu, suamiku tidak pulang jam 7 seperti yang kuharapkan, tetapi dia pulang jam 9 malam. Tentu saja dokter gigi sudah tutup. Ternyata dia lupa janjinya, dan malah pergi main badminton dengan teman-temannya seperti biasa.

Begitu dia masuk rumah, aku mengomel dan membentak suamiku,”Gitu ya! Anak nggak penting. Teman-teman lebih penting! Bolos main badminton sekali saja, takut nggak ditemenin? Kayak anak sekolah aja? Emang umurmu berapa? Jangan bohong bilang lupa segala! Aku sudah SMS 2 kali!”

Kalau dipikir sekarang, kasihan deh dia. ;)

“Aku lupa… Maaf…,” katanya lemah.

Dengan gusar aku naik ke kamarku di lantai atas. Menghadap komputer, aku mengetik…

“Kalau suamiku lupa mengantar Masa ke dokter gigi berarti dia tidak sayang anak dan lebih mementingkan teman-teman.”

Apakah itu benar? Apakah itu benar? Aku mengetik sambil berpikir keras… apakah itu benar? Apakah aku bisa tahu itu benar? Dalam 10 menit, aku menemukan bukti-bukti dari pengalamanku bahwa kalimat itu tidak benar. Suamiku sayang Masa. Suamiku sayang keluarga. Suamiku tidak mementingkan teman-temannya karena main badminton toh cuma seminggu sekali, Rabu malam. Sedangkan pergi keluar rumah dengan anak-anak… SETIAP MALAM kecuali Rabu. Dia mungkin gembira sekali bisa menikmati acara bermain dengan teman-temannya itu… bahkan sampai lupa dengan janjinya. Dia berkata benar. Dia tidak bohong. Dia lupa.

Dan kalau dipikir lagi, Masa sudah tidur sejak pukul 7.30 tadi. Barangkali kalau kami pergi ke dokter malam itu, dia jadi rewel dan susah diperiksa dokter karena sudah mengantuk. Masa sendiri sudah tidak kesakitan. Dia sudah tidur pulas dari tadi. Kalau dipikir, Masa menangis cuma sekitar 10 menit tadi. Tidak begitu lama. Aku menjerit-jerit padanya karena dia tidak mau disikat giginya. Ibuku menjerit-jerit padaku karena dia pikir aku menyakiti Masa. Aku menjerit-jerit pada ibuku karena benci campur tangannya. Tapi hanya sebentar. Setelah itu Masa berhenti menangis. Mungkin setelah disikat, giginya tidak begitu sakit lagi. Masa sudah tidur…

Jadi sebetulnya tidak apa-apa kalau suamiku lupa mengantar malam ini. Kemarahanku sirna.

Aku turun ke kamar suamiku di lantai bawah. Aku memeluk suamiku di tempat tidurnya. Aku cinta padamu…, bisikku. Tapi dia sudah tidur.

Keesokan paginya, suamiku minta cuti setengah hari dari kantor untuk pergi ke dokter gigi. Di dalam ruangan dokter yang sempit itu, ramai-ramai kami mendampingi Masa. Nao (2) mengoceh,”Gigi palchu! Gigi palchu!” Kanae (7) senang sekali bisa mengobrol tentang bandelnya si Masa, kalau digosok giginya tidak mau, kepada dokter gigi itu. Masa ternyata pasrah saja tuh diperiksa giginya. Pulang dari dokter gigi, suamiku masih ada waktu untuk mampir di Mal dan membelikan mainan robot plastik untuk Masa. Kami jalan-jalan sebentar untuk membeli donat. Lalu suamiku mengantarkan kami pulang ke rumah. Masa senang sekali dengan mainan barunya. Kami semua menikmati acara jalan-jalan dadakan itu. Seandainya kami homeschooling, ini namanya field trip.

“Mama, aku suka Papa belikan robot! Papa baik! Aku senang!” seru Masa berulang-ulang tanpa kutanya.

Beruntung sekali, suamiku lupa malam itu. Rupanya pergi ke dokter gigi pagi-pagi lebih baik bagi Masa; giginya ditambal, dan Papa sempat membelikan hadiah. (Masa tidak minta dan suamiku membelikan karena kurasa dia sendiri takut ke dokter gigi.)

Rencana Tuhan untuk Masa lebih baik daripada rencanaku.

Apa hubungannya dengan homeschooling? Well, bagaimana orangtua menyelesaikan masalah perkawinan mereka sangat mempengaruhi kebahagiaan anak-anak dalam perkawinan mereka sendiri kelak. Cara menyelesaikan konflik rumah tangga… bukankah ini juga bagian dari pendidikan tentang kehidupan yang sangat penting, yang tidak dapat diajarkan oleh sekolah?

… dan aku tidak bisa lebih tahu dari Tuhan apa yang terbaik untuk anakku.

Lain-lain , ,

Video YouTube: Antara Propaganda dan Realita Homeschooling (di AS)

Praktisi homeschooling membutuhkan “…pengawasan yang lebih besar, standar yang lebih baik, bukti kemajuan yang lebih valid.”

“…praktisi homeschooling terlalu banyak memiliki kebebasan.”

“Dampak buruk dari sisi pendidikan merupakan risiko langsung homeschooling yang tidak dikendalikan oleh peraturan.”

“Sama sekali tidak ada bukti kredibel tentang prestasi homeschooling.”

Itulah propaganda mereka.

Tetapi beginilah kenyataannya:

The Washington Times: Home-Schooling: Hasil-hasil Luar Biasa pada Ujian-ujian Nasional

Mackinac Center for Public Policy: Anak-anak Homeschooling Menunjukkan Prestasi Luar Biasa

Christian Post: Hasil Ujian ACT Siswa-siswa Homeschooling Lebih Tinggi daripada Rata-rata Nasional

Para Pemanah Homeschool Membidik Kejuaraan Nasional

Anak-anak Homeschooling Menggali untuk Membantu Proyek Hari Bumi

Dalam kajian nasional tahun 2009, anak homeschooling meraih 34-39 poin persentil lebih tinggi dari angka normal ujian-ujian prestasi yang distandardisasi

Rata-rata nasional homeschooling berkisar dari 84 persentil untuk Bahasa, Matematika, dan Ilmu Sosial, sampai 89 persentil untuk Membaca.

Zaman Keemasan untuk Homeschooling

Anak Homeschooling Setempat Memenangkan “Odyssey of the Mind”

Tim Homeschool Missoula Menang Kompetisi MathCounts tingkat Negara Bagian

Tim Homeschool Menang Kejuaraan “Simulasi Pengadilan” Tingkat Negara Bagian

Tim Homeschool Menang Kontes Robotik

Tim Homeschool Menang Kejuaraan Nasional

Anak Homeschool Kelas 7 Menang Kompetisi NASA

Menang Kontes Pencarian Bakat Sains Intel untuk Genius Matematika, Evan O’Dorney Dihadiahi 100 ribu dolar dari Intel Foundation

Anak Homeschooling Menang Kompetisi Siemens Westinghouse

Anak Homeschooling Menang Kontes Menulis PBS Lokal

Hampir 25% siswa homeschooling terdaftar satu tingkat kelas atau lebih di atas siswa sekolah seumur.

Siswa homeschool menonton lebih sedikit TV daripada siswa secara nasional, 65% siswa homeschool menonton sejam atau kurang setiap harinya, sedangkan secara nasional, hanya 25% yang menonton sesedikit itu.

Riset menunjukkan anak-anak homeschooling 77% lebih besar kemungkinannya untuk lulus kuliah 4 tahun dengan penghargaan daripada anak-anak yang dididik secara konvensional.

Anak Homeschooling Lagi-lagi Memenangkan Kontes Mengeja Spelling Bee

Anak Homeschooling Menang Disney Prize untuk Rancangan Rumah Peri

Tim anggar homeschooling, grup drama homeschooling, tim gulat homeschooling

Tim Tebow, siswa homeschooling, meraih Heisman Trophy sebagai pemain futbol terbaik.

Miss America juga homeschooling

Anak homeschooling menang beasiswa atlet Division 1

Kajian terbaru menunjukkan 98% anak homeschooling terlibat dalam 2 atau lebih kegiatan sosial dan masyarakat.

Penulis novel Eragon, Christopher Paolini, juga produk homeschooling

Atlet selancar, Bethany Hamilton, homeschooling

Atlet olimpiade Corey Cogdell, homeschooling

Dakota Root, juara anggar, homeschooling

Anggota kongres terpilih, Jaime Herrera, homeschooling

dan seterusnya…

Kliping Berita Homeschooling ,

Mana Bisa Mendidik Anak Sendirian?

Seseorang mengatakan homeschooling itu metode pendidikan yang tidak baik karena orangtua tidak mungkin menangani pendidikan anak-anaknya sendirian.

Ya, memang betul, mendidik anak tidak bisa sendirian.

Tapi apakah betul asumsi bahwa pendidikan dalam homeschooling itu dilakukan sendirian?

Sewaktu kita, sebagai orangtua, memutuskan untuk homeschooling, kita tahu mendidik anak itu tidak bisa sendirian. Perlu bantuan dari keluarga, lingkungan, dari seluruh dunia (yang bisa kita capai dengan mudah berkat internet), dan tentu saja, tidak kalah pentingnya, bantuan dari Tuhan. Karena kita tahu tidak sendirian maka kita berani homeschooling.

Karena sadar bahwa mendidik anak perlu memanfaatkan lingkungan, keluarga homeschooling biasanya lebih peka terhadap lingkungan dan banyak tahu tentang daerah sekitar daripada keluarga yang terlena karena anak-anaknya dididik di sekolah. Pergi ke pasar, sama anak-anak. Pergi ke bank, sama anak-anak. Pergi ke rumah tetangga, tentu saja bawa anak-anak. Judulnya field trip.

Mengikuti contoh orangtuanya, dengan sendirinya anak homeschooling lebih peka terhadap lingkungan. Pernah dengar nggak cerita ibu-ibu homeschooling? Anak-anak mereka itu ya… semua hal diperhatikan, semua hal ditanyakan, semua dibahas dan dijadikan bahan diskusi. Wah, ibunya capek deh melayani (dan bangga setengah mati, tentu saja).

Sementara, ada lho anak-anak sekolah yang tidak pernah sadar bahwa di depan rumahnya ada pohon jambu, saking nggak pernah ngeh dengan lingkungan sekitarnya. Mungkin yang diingatnya setiap hari saat berada di rumah hanya main game dan pe-er saja. Sebenarnya anak-anak sekolah hidup dalam dunia yang sangat sempit (kalau orangtuanya tidak waspada).

Homeschooling adalah pendidikan mandiri, namun bukan berarti segalanya dilakukan sendirian. Ayo homeschooling dengan memanfaatkan dukungan dari seluruh alam semesta. 

Sosialisasi Homeschooling

Suamiku Bilang Aku Cari Sensasi

Tentu saja kalau aku bisa memilih, anak-anakku pasti homeschooling, bukan berada di sekolah seperti sekarang.

Terakhir kali aku dan suamiku menyinggung kemungkinan homeschooling, dia bilang,”Apa itu homeschooling? Cari sensasi!”

Aku sakit hati lamaa sekali dia menuduh aku ‘cari sensasi’ dengan homeschooling.

Tapi sekarang tidak lagi, dia boleh bilang aku ‘cari sensasi’ 1000 kali lagi, aku tidak akan sakit hati. Mengapa?

Pertama, because it’s a lie. Karena bohong.

Aku ingin yang terbaik untuk anak-anakku. Aku mencintai mereka. Aku tahu itu. Aku duga, suamiku juga tahu itu, jadi dia berbohong.

Dan mungkin juga, ketika mengatakannya, dia sendiri tidak percaya kalau aku ingin homeschooling dengan motivasi cari sensasi. Dia sendiri tidak percaya. Dia cuma bilang saja dan bermain-main dengan gagasan itu, “Istriku ingin homeschooling karena cari sensasi.” Dia tidak percaya, tetapi aku menganggapnya masalah besar. Jadi siapakah yang memercayai ucapannya itu? Aku. Dia tidak menyakiti aku. Akulah yang menyakiti diriku sendiri.

Kedua, dia mengatakannya satu kali. Tapi siapakah yang mengatakannya pada diriku sendiri berjuta kali selama berbulan-bulan? Aku, di dalam kepalaku. Dia mengatakan hanya satu kali. Aku membayangkannya berjuta kali. Akulah yang menyakiti diriku sendiri.

Ketiga, aku menyakiti dirinya karena ucapan yang satu kali itu, yang hanya sebuah kebohongan yang dia sendiri tidak memercayainya. Aku memperlakukan dia dengan buruk. Aku acuhkan dia berbulan-bulan, aku berhenti berbuat baik padanya, aku sakiti dia dengan segala cara yang aku bisa. Hiks, maaf ya, Mas.

Keempat, ucapannya itu membawa banyak sekali kebaikan.

Aku jadi belajar tentang cinta. Aku belajar mencintai seorang suami yang tidak selalu sesuai dengan keinginanku. Aku belajar bahwa cinta itu bukan kepatuhan pada pasangan. Aku belajar bahwa cinta itu menerima pasangan apa adanya. Aku belajar bahwa cinta itu melihat suamiku berbahagia. Aku belajar tentang unconditional love, cinta tanpa syarat. Cinta yang bukan deal, yang bukan perjanjian untung-rugi: ‘aku lakukan ini maka kamu lakukan itu ya!’. Aku belajar tentang cinta sejati. Dari perkataan suamiku, “Kamu cari sensasi!”, aku belajar tentang cinta. Wow! Kok bisa!

Hidup ini sungguh sempurna, sesuai kehendak Tuhan, tidak mungkin yang lain, dan aku adalah seorang siswa di sekolah kehidupan dengan kurikulum pendidikan yang dirancang Tuhan.

Kenyataan bahwa kami tidak homeschooling saat ini juga sesuatu yang sempurna bagi kami. Inilah yang terbaik menurut Tuhan, ternyata sekuat apa pun aku melawan kehendak Tuhan, aku tidak sanggup ya? Bodohnya aku.

Lihatlah aku telah belajar begitu banyak karena anakku tidak homeschooling saat ini. Anakku tidak begitu manis lagi seperti saat dia homeschooling (aku pun akan begitu jika setiap hari berada di tengah-tengah lingkungan yang membuat stres, rumah mertua, misalnya), tetapi anehnya, karena dia jadi banyak masalah, aku pun berkesempatan mengajarkan dia tentang menjalani hidup terbaik sebagaimana yang aku tahu.

Aku dulu percaya kalau aku tidak homeschooling, aku tidak bisa mendidik anak-anakku sendiri secara optimal. Sekarang aku tahu, itu tidak benar! Aku tidak perlu sedih tidak bisa homeschooling!

Kalau aku bisa memilih, aku akan memilih jalan termudah (homeschooling), tetapi Tuhan memilihkan jalan terbaik bagi kami semua.

Aku berdoa agar aku bisa mendidik anak-anakku secara optimal, dan Tuhan mengabulkan doaku. Betapa sulitnya mendidik anak yang bersekolah itu! Karena anakku berada dalam lingkungan sosialisasi artifisial (30 anak usia 7 tahun yang terkurung dan harus duduk diam berjam-jam dalam satu ruangan), yang menyebabkan dia jadi banyak memiliki masalah perilaku, sebagai ibunya, aku jadi bisa memberikan pendidikan paling optimal yang mampu aku berikan padanya.

Allah, I get it! I really get it! Thank you for not letting me homeschool. Would you please let me homeschool now? No? Well, OK. You are God. You know best! Thanks again! Why am I speaking in English to God?

Eniwei, jangan khawatir dengan homeschooling… karena dengan sendirinya, anak-anak homeschooling akan belajar dari kehidupan, mereka akan belajar dengan kurikulum Tuhan yang lebih sempurna daripada kurikulum Diknas atau lembaga mana pun juga. Anak-anak kita akan selalu aman, mereka selalu terjamin akan mendapatkan pendidikan berkualitas terbaik.

Karena pendidikan bukan sekolah, pendidikan adalah kehidupan dalam satu paket.

Metode yang seiring sejalan dengan kehidupan nyata adalah homeschooling. Kalau mampu homeschooling, ya pilihlah opsi yang lebih logis: homeschooling.

Berbahagialah kalian orangtua yang mampu untuk meng-homeschooling-kan anak-anak karena memang tidak semua orang diamanati Tuhan untuk homeschooling.

Laa Tahzan! (Gak pernah baca buku itu ;) ) Janganlah bersedih! Jangan takut homeschooling! Jangan takut hidup! Hidup ini sungguh sempurna karena kurikulum Tuhan mahasempurna.

Curhat

Infographic: Internet Revolutionizing Education

Klik untuk memperbesar

Internet telah mengubah pendidikan secara dramatis dan mendasar: kini kemampuan menentukan telah berpindah dari tangan lembaga pendidikan ke tangan para siswa. Berkat internet, pendidikan kini lebih mudah diakses dalam sejarah manusia.

Pendidikan online merupakan industri senilai 34 miliar dolar. Baik lembaga pendidikan laba dan nirlaba merevolusi metode belajarnya.

Universitas Terbuka merupakan universitas terbesar di Inggris, dengan 250 ribu mahasiswa.

University of Phoenix menjadi universitas terbesar di AS, dengan 500 ribu lebih mahasiswa.

Khan Academy di internet memiliki lebih dari 2.100 video kuliah, yang telah ditonton 41 juta kali.

Internet mengubah cara kita belajar:

Contoh bagaimana internet mengubah Pendidikan Tradisional yang memindahkan ruang kelas menjadi online:

Hampir separuh mahasiswa setidaknya mengambil satu kuliah online

25 ribu program online ditawarkan di AS

terdaftar 3 juta pelajar pendidikan lewat internet di AS

lebih dari 1 juta pelajar usia TK sampai kelas 12 terdaftar pada program pendidikan online

Contoh bagaimana internet mengubah Pendidikan Perorangan:

The Khan Model: pelajar belajar dengan kecepatan sendiri, pada waktu yang ditentukannya sendiri.

-Tidak ada lagi pelajaran di kelas yang seragam untuk semua

-Membalik model pendidikan: murid kini belajar di rumah, dan mengerjakan tugas di kelas

-Apa yang diinginkan Bill Gates dengan mendanai Khan Academy? “Pendidikan masa depan.”

iTunes U menawarkan lebih dari 350 ribu kuliah universitas dan video dari 800 universitas termasuk Stanford, Yale, dan Oxford secara gratis.

Bill Gates menyumbang 2 juta dolar untuk pengembangan aplikasi Facebook yang membantu mahasiswa tetap kuliah.

London School of Business and Finance meluncurkan Global MBA yang disampaikan sepenuhnya dengan aplikasi Facebook.

Model Pendidikan Lama memaksakan semua siswa melalui cetakan yang sama dan berbiaya tinggi.

Tetapi sekarang, berkat daya transformatif internet, siswa dapat merancang pendidikan mereka secara mandiri menurut pemikirannya sendiri. Pendidikan tinggi tidak lagi tersedia hanya untuk kaum elit; semua orang dengan koneksi internet dapat mendidik diri mereka sendiri. Akses pendidikan menjadi semakin menyeluruh dan demokratis, dan akan menjadi lebih baik di masa mendatang.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Kliping Berita Homeschooling ,
Hal. 2 dari 26123451020...Akhir »