33. Sosialisasi Homeschooling (1)

Homeschooling? Nggak sekolah? Terus sosialisasinya gimana dong?” merupakan pertanyaan pertama suami saat aku mengajukan niat meng-homeschooling-kan putri kami.

Ketika menyebut kata sosialisasi, yang dimaksud oleh suamiku adalah “pergaulan dengan teman sebaya.” Maksud pernyataannya adalah:

Waktu kecil aku tidak pernah punya teman-teman sebaya yang akrab di luar sekolah sehingga tidak mungkin anak aku bisa punya teman jika tidak sekolah.

Kasihan juga suamiku itu, bisa punya pemikiran seperti itu, bukankah lebih ideal seorang anak bisa punya teman di mana-mana? Mungkin di luar sekolah dulu dia nggak punya teman ya? Sama dong.

Aku menjawab, pertama harus diluruskan anggapan keliru bahwa homeschooling berarti kita tidak boleh ke mana-mana, harus di rumah saja selama jam pelajaran. Dengan homeschooling kita menyatukan hidup dengan belajar, dan kita bisa belajar di pasar, warnet, toko swalayan Alfamart, perpustakaan Senayan, taman wisata Mekarsari, kolam renang Waterboom, Taman Mini Indonesia Indah, museum-museum, dan di mana-mana di kolong langit. Di semua tempat yang aku sebut itu pasti ada orangnya, dan karena itu pasti bisa latihan bersosialisasi. Kalau soal teman sebaya, suamiku tidak perlu khawatir. Kanae punya minat besar terhadap musik, renang, dan melukis, kita akan masukkan dia ke les renang, musik, dan melukis yang tidak jauh dari rumah kita di Cikarang, dan di sana dia bisa bertemu dengan anak-anak dari berbagai kelompok usia yang satu minat dengannya. Bukankah kita, setelah menjadi orang dewasa, juga bergaul dengan orang-orang dari berbagai usia, dan satu-satunya yang menyatukan kita dengan mereka adalah minat yang sama?

Orang dewasa menganggap bahwa bagi anak-anak, sosialisasi di sekolah adalah yang terbaik dan satu-satunya, dan bersosialisasi di sekolah akan mempersiapkan anak-anak bersosialisasi di dunia nyata.

Sekarang aku tanya, di manakah di dunia nyata, di mana 40 orang dengan usia yang sama, dikekang tidak boleh keluar dari suatu ruangan, tidak boleh bercakap-cakap, dituntut melakukan satu hal yang sama, di waktu yang sama, berpakaian sama, oleh seorang yang jauh lebih tua? Selain sekolah, penjara mungkin. Ini bukan gambaran dunia nyata.

Salah kaprah kalau kita pikir anak-anak homeschooling akan kesulitan bergaul di dunia nyata. Mereka sedang berada di dunia nyata, sedang berinteraksi dengan orang-orang di dunia nyata, sedang mengalami pengalaman-pengalaman nyata di dunia nyata. Mereka tidak dibatasi tembok-tembok sekolah dengan peraturan sosialisasinya yang aneh.

Peraturan sosialisasi aneh yang bagaimana? Yaitu: pertama, anak-anak kelas lebih rendah tidak bermain dengan anak-anak kelas lebih tinggi, dan sebaliknya. Kalau ada anak lebih muda berani dekat-dekat anak-anak yang lebih tua, dia akan diusir. “Ngapain kamu di sini? Sana main di tempat lain, Anak Kecil!”

Kalau ada anak lebih tua nekad datang ke kelas anak-anak yang lebih kecil, dia akan dipandangi dengan heran, dan diusir juga. “Anak gede ngapain main di sini sih? Apa ngerasa masih kecil? Sana main sama yang sepadan!”

Kedua, orang-orang dewasa di sekolah, berfungsi sebagai hakim yang menilai baik buruknya kelakuan/kecerdasan/keberhargaan anak-anak dan bebas menghukum serta mempermalukan jika dipandang perlu. Akibatnya anak-anak sekolah itu belajar menjadi takut, pasif, kaku, menghindari membuka diri, dan bersikap mempertahankan harga diri ketika berhadapan dengan orang dewasa.

Ketiga, di sekolah sebagian besar waktu siswa dipakai untuk tutup mulut dan lipat tangan yang manis. Mana mungkin bisa bersosialisasi dengan tutup mulut rapat-rapat. Dengan waktu bebas untuk bermain dengan teman-teman yang sangat sempit, apa bisa dibilang sosialisasi di sekolah itu mencukupi? Bandingkan dengan homeschooling di mana anak bisa bicara dan bermain dengan sebanyak-banyaknya orang, sepuas-puasnya waktu.

Ternyata terbalik asumsi orang selama ini, persekolahan bukannya memperluas sosialisasi anak-anak, malah membatasi kemampuan bersosialisasi.

Pada masa awal sekolah, aku terpaksa belajar menyesuaikan diri pada masa “pemisahan kawan berdasarkan usia”. Setelah lewat masa sekolah, aku belajar lagi menyesuaikan diri dalam masa “pengenalan kembali pada pergaulan dengan orang-orang dari berbagai usia”. Inilah dua proses transisi yang tidak perlu dalam homeschooling. Aku ingin membebaskan anak-anakku dari sosialisasi sempit di sekolah dan membiarkan mereka bergaul secara wajar dan aman dalam pengawasanku.

Kontras dengan anak-anak kerabat yang anak sekolahan, anakku tidak terlalu ‘sadar umur’. Aku rasa dia merasa nyaman menemukan diri hampir selalu diterima di setiap situasi sehari-hari, karena nyatanya dunia luar tidak sekejam dunia sekolah memperlakukan seorang anak, apalagi dia akan selalu aman di bawah pengawasanku. Bisa dipastikan juga dalam homeschooling kami, tidak akan terjadi kecurangan dalam ujian seperti lempar-lemparan kertas contekan atau pun lewat telepon selular. Aku harap dia tidak usah pernah berhubungan langsung, apalagi setiap hari, dengan para pemakai obat terlarang dan lain-lainnya itu yang aku harap tidak usah hadir dalam hidup aku dahulu di sekolah menengah.

Lagipula ya… kalau dalam waktu homeschooling yang seumur jagung saja, aku sudah menemukan anakku menjadi lebih menyenangkan, percaya diri, dan mudah bergaul dengan semua orang dari berbagai kalangan, dari bayi sampai nenek-nenek sekalipun, sementara aku lihat anak-anak sekolah, dengan sedikit perkecualian, menarik diri dari pergaulan dengan selain teman seumur, manakah yang harus aku nilai lebih baik? Sosialisasi di sekolah atau kah sosialisasi homeschooling di dunia nyata? Jelas kan, jawabnya.

Sosialisasi Homeschooling , ,

32. Sosialisasi Homeschooling

Bagian III
Sosialisasi Homeschooling

Pembicaraan tentang sosialisasi dalam homeschooling tidak pernah habis-habisnya dipertanyakan mereka yang bukan praktisi. Untuk itu aku mendedikasikan satu bab khusus yang cukup panjang untuk mengajak melihat dari sudut pandangku, seorang ibu yang memilih homeschooling.

Sosialisasi, bukan masalah. Malah di situlah letak kelebihan homeschooling daripada sekolah. Sosialisasi anak homeschool lebih seimbang, lintas usia, dan lintas jenis kelamin. Anak homeschool tidak canggung bergaul. Dia lebih percaya diri, optimis,  mengharapkan perlakuan baik dari semua orang, dan bahkan secara emosional lebih tahan banting daripada anak-anak sekolah yang terpaksa pasrah digencet di sekolah. Mengapa? Kuncinya adalah kedekatan dengan orang tua, kebebasan dari peer pressure (ikut-ikutan teman supaya bisa diterima dalam pergaulan yang sempit), dan pembelajaran aturan-aturan sosialisasi normal dan wajar yang berlaku di dunia luar.

Sosialisasi Homeschooling , ,

31. Ketika Adik Baru Lahir

Anak-anak yang lahir lebih dulu biasanya merasa ‘tersaingi’ ketika adik bayinya lahir. Oh ya, mereka memang merasa senang dan bangga menjadi kakak/abang, namun lambat laun mereka menyadari bahwa orang tuanya ‘diambil’,  waktu dan perhatian orang tua lebih tercurahkan pada si adik baru. Berbagi kasih orang tua untuk pertama kalinya merupakan pengalaman yang sulit bagi anak-anak. Anak-anak kemudian mulai merasakan cemburu, rasa tidak disayang oleh orang tua, merasa orang tua pilih kasih, dan bisa jadi anak lebih tua bertanya-tanya ‘bisakah adik baru pencuri orang tuaku ini dikembalikan saja ke rumah sakit?’

Berkurangnya perhatian orang tua terhadap dirinya, membuat anak kehilangan ‘koneksi’ dengan orang tua. Anak merasa kedekatan dengan ayah dan ibunya merenggang, sehingga akibatnya dia mulai gelisah dan ‘bertingkah’, melakukan kenakalan demi kenakalan untuk menarik kembali perhatian orang tua yang hilang. Mungkin dia memukul adik bayinya, mungkin bertingkah jadi bayi kembali, mungkin jadi banyak menangis frustasi dan menjerit-jerit, dan sebagainya.

Masa transisi ini terasa sulit bagi orang tua, terutama ibu, yang secara fisik dan emosional sangat lelah karena baru saja melahirkan, seharian harus mengurus bayi baru, dan malam-malam kurang tidur karena harus menyusui. Menghadapi kelakuan si kakak/abang baru, ibu semakin mudah meledak, kehilangan kendali atas dirinya, serta tidak segan menghardik dan memukul anak.

Akibatnya si anak makin merasa ‘koneksi’ dengan ibu malah semakin renggang, dan dia akan malah semakin nakal untuk mendapatkan lebih banyak perhatian, dan dia juga akan semakin sulit menyayangi adik baru.

Untuk menghadapi hal ini, ada tujuh hal yang harus dilakukan secara sadar oleh ayah dan ibu:

1.          Saat ini anak-anak yang lebih tua LEBIH PENTING daripada adik bayi yang sebagian besar waktunya dipakai untuk tidur itu.
Anak-anak lebih tua bisa merasakan haus kasih sayang ibu dan itu menyiksa mereka, tetapi bayi tidak merasa iri atau pun sakit hati saat ibunya memeluk kakak/abangnya. Jadi: peluklah anak pertama dulu sebelum adik bayi. Atau jika ini tidak memungkinkan, peluk anak pertama segera setelah bayi tenang.

2.          Ayah atau ibu harus menyediakan WAKTU KHUSUS BERDUA saja dengan anak lebih tua, tanpa kehadiran adik bayi. Buat waktu dalam satu hari sebentar saja, mungkin hanya 10-30 menit, untuk melakukan kegiatan berdua saja dengan kakak/abang baru. Kegiatan apa saja. Mungkin belanja ke toko dekat rumah sebentar, bermain bersama, bercakap-cakap bersama, melihat-lihat album foto waktu dia kecil dan katakan,”Lihatlah kamu di foto ini. Kamu dulu juga kecil seperti adik bayi. Ibu bahagia waktu kamu lahir. Ibu merawatmu dan begitu menyayangimu. Sekarang kamu sudah begini besar, cakep, dan pintar.”

Jika, dan hanya jika si kakak merasa puas mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, tidak merasa terancam dengan kehadiran si adik, dia akan legowo, berlapang dada berbagi kasih orang tua dengan adik baru. Baru setelah dia merasa yakin disayangilah, dia akan bisa menyayangi adiknya.

3.          JANGAN pernah memarahi anak-anak yang lebih tua dengan mengatakan,”Kenapa kamu lakukan itu? Kamu kan sudah besar, sudah jadi kakak/abang.”
Anak-anak tidak langsung secara ajaib mampu bersikap ‘dewasa’ hanya karena adik barunya lahir. Jangan mengharapkan yang mustahil pada anak kecil umur 3 tahun meskipun dia sudah jadi kakak.Dia tetap kanak-kanak. Kalau orang tua terlalu sering memarahi si kakak dengan kata-kata seperti itu, dia akan benci perannya sebagai seorang kakak. Akhirnya dia akan menyimpan dendam kesumat terhadap si adik, yang mendorong ketidakakuran antara sesama saudara kandung, bisa jadi hingga dewasa.

4.          LIBATKAN kakak/abang baru dalam kegiatan merawat adik baru. Minta ia membawakan popok, memberikan bedak, dan lain-lain sesuai kemampuannya. Ucapkan terima kasih dan pujilah. Ajak ia bermain bersama adik barunya, dan ibu/ayah. Usahakan perbanyak pengalaman menyenangkan anak-anak lebih tua bersama-sama adik barunya.

5.          PUJILAH anak lebih tua dengan ucapan,”Kamu pandai sekali sudah bisa melakukan … Kamu memang kakak/abang yang hebat ya.” Dengan sering memuji seperti itu, usahakan agar anak lebih tua merasa bangga dan bahagia dengan kedudukan barunya.

6.          JANGAN pernah menolak merangkul/mencium atau dengan kata lain menahan ekspresi cinta kita kepada si kakak/abang baru dengan alasan ‘supaya tidak manja’. Percayalah, ini adalah kesalahan besar. Anak-anak yang tidak manja, anak-anak yang mandiri, anak-anak yang berani, anak-anak yang kuat jiwanya adalah anak-anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua secara cukup bahkan berlimpah-limpah. Semakin ibu mengacuhkan anak, semakin anak haus kasih sayang, merasa tidak aman ( ‘insecure’), dan semakin dia menjadi manja.

7.          Setelah kelahiran bayi baru, ada ibu atau ayah yang tanpa mereka sadari mendadak menjadi ‘benci’ terhadap anak yang lebih tua. Mereka mendadak jadi lebih cepat marah, lebih cepat kehilangan kontrol atas emosi ketika dihadapkan pada kenakalan atau tangis frustrasi anak lebih tua. Bagi mereka, seolah-olah anak yang lebih tua menjadi tidak lucu lagi, tidak cantik lagi, tidak patut disayang lagi. Kenapa terjadi begitu aku tidak tahu. Barangkali ada kaitannya dengan perlakuan atau contoh orang tua dari orang tua (berarti generasi kakek nenek) di masa lalu. Jika ini terjadi, orang tua harus secara sadar mengendalikan diri. PAKSAKAN DIRI untuk memeluk dan mencium anak yang lebih tua sebanyak-banyaknya. Yakinkan diri bahwa perasaan benci tersebut hanyalah sementara. Harus hilang, dan pasti hilang. (Jika perasaan itu berlanjut barangkali Anda butuh berkonsultasi dengan terapis).

Tips di atas sudah dibuktikan keampuhannya dalam keluarga kami. Syukurlah anak-anak kami yang lebih tua tidak cemburu dengan adiknya yang baru lahir. Selamat mencoba. ###

Alasan Homeschooling , ,

30. Soal Tonjok-Menonjok di TK

Ceritanya ada seorang ibu muda yang sukses berkarier yang anak laki-lakinya berumur 5 tahun dan dimasukkan ke sebuah TK. TK-nya itu hanya tiga jam, kalau nggak salah. Singkat banget ya. Bandingkan dengan TK di Jepang yang setiap hari dari pukul sembilan pagi sampai dua siang, dan taman penitipan anak yang dari pukul sembilan pagi sampai empat sore.

Dengan waktu sekolah yang sangat singkat itu, eh anehnya si anak masih juga menolak berangkat. Setelah ditanya-tanya, ternyata si anak laki-laki ini mengaku pernah dipukul oleh teman sekelasnya, anak perempuan, yang terkenal nakal. Oh iya, tetapi tidak sering kok, sekali-sekali saja, menurut salah satu dari ketiga orang pembantunya.

Si ibu ini bingung harus bagaimana. Masa harus berhenti TK? Uang pangkalnya kemarin mahal buangettt. Lagian kan mau ngapain nih anak saya di rumah saja sementara saya bekerja? Ini anak kok jadi anak laki-laki kenapa kalah sama anak perempuan? Kalau ditonjok, balas tonjok dong! Begitu saja kok keok. Begitu saja kok jadi nggak mau sekolah. Nanti kamu ketinggalan lho! (Pikirku, ketinggalan apa ya?) Nanti kamu nggak ada yang mau ngasih gaji lho! (Pikirku, memangnya lulusan TK gajinya berapa sih?) Kamu Mama masukin bela diri aja ya? Belajar karate! Biar kuat! (Emangnya masuk karate itu terus langsung jadi kuat gitu?)

Pikir aku, seandainya si ibu ini mengalami hal yang sama, seandainya ada rekan sekantor si ibu yang menonjok dia sekali-sekali, apakah dia sendiri akan pergi belajar karate ya? Atau dia berhenti kerja dan mencari kerja di tempat lain? Sedangkan bagi si ibu sendiri yang usianya sudah tiga puluh tahun lewat, kalau ditonjok orang sekali saja pasti menjadi beban jiwa dalam waktu cukup lama, apalagi bagi anak usia sekecil itu yang masih labil dan percaya dirinya masih terbentuk, efeknya mungkin lebih menakutkan lagi.

Aku doakan semoga si ibu dan si anak menemukan solusi terbaik. Apalagi setelah aku lihat si anak bermasalah itu mulai memukul Masa, anakku yang masih berumur 2 tahun. Duh, tolong ya, jangan sering-sering datang lagi!###

Alasan Homeschooling , ,

29. Tidak Percaya Sekolah

Tidak Percaya Sekolah - Homeschooling IndonesiaBerikut 17 20 alasan mengapa aku tidak mau menyerahkan anak-anakku kepada lembaga pendidikan bernama sekolah formal:

1. Orang tua membayar guru untuk melakukan satu hal saja yaitu: menolong anak-anak belajar. Tetapi jika anak-anak tidak belajar, guru tidak mungkin mencoba cara-cara baru sampai ada satu cara yang berhasil membuat mereka semua paham. Guru akan terus melanjutkan pelajaran untuk mengejar target kurikulum dengan meninggalkan anak-anak  yang tetap tidak paham. Kegagalan sebenarnya ada pada sistem: satu orang dewasa mengajar banyak anak, tetapi kesalahan dilimpahkan pada anak-anak. Anak-anak ditempeli cap bodoh, pemalas, diberi ranking terendah, bahkan belakangan ada cerita tentang guru yang berani memberi label ADHD kepada anak-anak didiknya.

2. Kalau anak-anak menjadi pintar, sekolah yang berbangga diri dan dipuja-puja. Kalau anak-anak nilainya buruk, yang salah anak itu sendiri bahkan orang tuanya dinilai tidak becus membimbing anak belajar atau menjatuhkan tuduhan tentang kondisi keluarga yang tidak harmonis. Anak yang menyulitkan sekolah akan ditendang keluar. Sekolah tidak akan pernah mau bertanggung jawab atau pun mengakui bahwa telah gagal mendidik anak.

3. Anak-anak yang paling membutuhkan bimbingan malah dihukum dengan nilai buruk, disetrap, ranking rendah, dan dihancurkan kepercayaan dirinya. Tidak manusiawi.

4. Sekolah boleh-boleh saja menjalankan hukuman keras, kekerasan fisik, atau pun tekanan mental kepada anak-anak didiknya atas pelanggaran minor, dan anak-anak tidak diberi kesempatan diadili secara proporsional. Orang tua lebih sering tidak diberi tahu sekolah soal insiden yang melibatkan anaknya.

5. Guru boleh-boleh saja menurunkan nilai rata-rata ujian anak ataupun memberikan nilai di bawah lima kepada anak-anak yang dianggapnya tidak menurut atau sering membolos. Bahkan guru tidak malu-malu mengancam murid-muridnya soal hal ini meskipun tindakan itu merupakan pemalsuan data prestasi akademik, dan berarti guru-guru ini berdusta. Guru seperti ini terutama guru untuk mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, dan Agama yang menentukan kenaikan kelas atau kelulusan.

6. Atmosfer sekolah bersifat destruktif terhadap orientasi dan nilai-nilai agama Islam.

Jika sekolah menentukan seragam olahraga adalah celana pendek, tidak ada yang bisa menentang. Jam pelajaran agama Islam, guru agama menyuruh memakai kerudung. Tetapi saat pelajaran olahraga, siswi-siswi pakai celana pendek dan pameran paha. Absurd.

Pacaran tidak ada dan dihindari dalam ajaran Islam, namun kebanyakan siswa-siswi sekolah sudah mengenal cinta-cintaan dengan lawan jenis sejak usia sangat dini.

Belum lagi peredaran obat terlarang, pornografi, dan rokok di sekolah.

Siswi-siswi wajib berenang kalau tidak mau nilai olahraganya dikurangi, tidak perduli meskipun mereka pakai jilbab.

Falsafah sekolah adalah: peraturan sekolah harus diutamakan, peraturan Tuhan bisa diatur sesuai sikon, kehidupan beragama dipisahkan dari kehidupan sekular. Mungkin ini sebabnya di negara yang beragama ini banyak pejabat yang ibadahnya rajin, tetapi korupsi jalan terus.

7. Kecepatan pelajaran di kelas sering kali tidak sesuai dengan kecepatan individu setiap anak. Anak-anak berbakat yang jauh lebih maju  dari teman-teman sekelasnya dipaksa mengerjakan tugas-tugas yang ditetapkan guru. Anak yang sudah bisa membaca harus tetap  mengeja huruf. Anak yang sudah lancar menulis harus tetap menulis satu kalimat yang sama 100 kali meskipun dia ingin mengarang cerita. Kalau si anak menolak, dia dianggap membangkang guru. Sangat jarang anak-anak seperti ini boleh lompat kelas. Akibatnya mereka jenuh, tugas sekolah menjadi siksaan sekaligus penghinaan terhadap harga diri mereka.

Sementara anak-anak yang lambat seringkali ditinggal begitu saja. Seorang guru dengan blak-blakan mengatakan,”Dengan jumlah murid  yang banyak, guru tidak pasang target semua murid harus bisa.” Horor.

8. Percobaan sains di laboratorium yang dilengkapi peralatan ekstensif hanyalah pengulangan rutin dari pengetahuan pakem yang sudah jamak diketahui. Hasil percobaan yang ‘salah’ tidak dihargai. Anak-anak sekolah dengan jas lab yang keren itu tidak akan pernah diizinkan melakukan percobaan sains  yang benar-benar eksperimental. Sayangnya anak-anak itu sudah diperbodoh sedemikian rupa sehingga tidak terpikirkan atau tidak berani protes.

9. Para siswa sekolah swasta dengan perpustakaan super lengkap ternyata tidak mempunyai waktu untuk membaca buku-buku koleksi perpustakaan. Terlalu banyak tugas sekolah, terlalu banyak ujian, terlalu banyak buku teks yang harus dibaca, tidak sempat lagi untuk membaca buku-buku lain. Jadi buat apa perpustakaan dengan rak-rak buku menjulang itu? Cuma polesan pemanis agar orang tua murid bersedia membayar SPP lebih mahal.

10. Sekolah membuat anak-anak berpikir bahwa hanya ada satu cara melihat masalah, hanya ada satu jawaban terhadap pertanyaan,  tidak boleh mempertanyakan atau pun menggugat segala hal yang ditetapkan oleh otoritas atau pakar atau kunci jawaban. Apa yang  tertulis di kunci jawaban itulah yang benar, tidak peduli kenyataan bilang apa, tidak peduli akal dan nalar bilang apa.

11. Sekolah mempunyai standar tersendiri tentang apa yang dihargai dan apa yang tidak, dan anak-anak harus menurut. Juara Olimpiade  Fisika, dihargai. Juara menulis, tidak terlalu. Anak-anak jadi sibuk berpikir apa yang menyenangkan guru-guru, bukan  dahaganya sendiri akan ilmu pengetahuan. Singkatnya, sekolah hanya mau menumbuhkan minat, kreativitas, daya pikir, dan potensi anak-anak yang sesuai dengan visi sekolah. Berapa banyak anak-anak yang bakatnya dimandulkan oleh sekolah karena sekolah tidak bisa menghargai bakat mereka? Mereka dipaksa belajar hal-hal trivial, tidak bermakna dalam kehidupan keseharian mereka, hanya demi nilai rapor dan penghargaan guru.

12. Kurikulum sekolah adalah tetap, tidak boleh diubah-ubah, tidak boleh disesuaikan dengan minat masing-masing anak.

Kurikulum yang saklek ini menjelaskan kenapa kebanyakan guru marah-marah jika murid bertanya. Murid-murid tidak perlu  bertanya karena guru sudah tahu arah kurikulum. Pertanyaan dari murid tidak disambut baik sebab mengganggu kelancaran  jalannya pelajaran saja.

Sering kali kita mendengar cerita orang tua yang bangga karena anaknya kritis dan banyak bertanya. Pasti anak jenius, kata orang tuanya, tetapi setelah si anak dimasukkan sekolah, anak itu dianggap bodoh oleh gurunya karena ya itu… dia banyak bertanya. Pantas saja jenius macam Edison dan Einstein tidak bertahan di sekolah.

13. Sekolah bukan tanpa pengaruh buruk pada kejiwaan. Orang-orang yang lulus dari sekolah, baik ranking atau pun tidak, memiliki perasaan rendah diri, merasa bodoh tetapi berpura-pura pintar, merasa was-was yang tidak dapat dijelaskan, depresi tanpa sebab, tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, rentan terhadap peer pressure (tekanan pergaulan), kecanduan pada belanja dan kepemilikan barang.

Pada masa-masa bertumbuh yang penting, anak-anak telah diekspos pada rasa takut yang sedemikian besar di sekolah. Takut hukuman guru, takut nilai jelek, takut kalau ranking jelek akan jadi orang tidak berguna, takut, takut… Selama masa itu anak-anak tidak boleh banyak berbicara, diajari bahwa yang penting adalah maunya sekolah, sedangkan yang penting dan nyata bagi mereka adalah hal-hal bodoh yang tidak begitu penting. Anak-anak dikungkung dalam tembok sekolah, hanya boleh bergaul dengan orang-orang seumur yang sama-sama bego, sama-sama tidak tahu bagaimana cara bersosialisasi yang baik, sama-sama tidak tahu dunia luar.

14. Sekolah memisahkan teori dari konteks, meramu ilmu secara sedemikian rupa sehingga menjadi amat sangat membosankan.

Sejarah menjadi hapalan kering tahun-tahun peperangan, matematika menjadi operasi angka-angka tidak bermakna, fisika menjadi hapalan rumus-rumus entah dari mana datangnya. Betapa banyak anak-anak yang jadi alergi matematika, fisika, sejarah, geografi gara-gara sekolah.

15. Sekolah menekankan pada hapalan, bukan pengertian utuh. Anak-anak yang mendapat nilai bagus di sekolah adalah anak-anak yang mahir menelan bulat-bulat hapalan, lalu mengeluarkannya tanpa ditelaah lagi saat ulangan. Tidak seperti disangka banyak orang, sekolah tidak berani kok mengajarkan logika kepada murid-muridnya.

Sekolah bukan tempat menjadi pintar melainkan tempat menjadi penurut. Kalau murid-murid sungguh-sungguh pintar, pasti susah diatur, banyak protes, guru-guru kalah ilmu, dan jangan-jangan murid-murid minta homeschooling semua.

16. Ada guru-guru sekolah yang paling takut apabila murid-murid lebih pintar dari mereka, dan mereka berupaya dengan segala cara untuk menunjukkan bahwa murid-murid lebih bodoh, baik dengan pe-er yang luar biasa sulit, mengeluarkan soal ujian yang tidak pernah diajarkan, maupun standar nilai yang tidak jelas dan sulit mencapai nilai tinggi. (Sebaliknya, orang tua yang menjalankan homeschooling bersyukur ketika anak-anak menjadi lebih pintar.)

[Disunting sesuai petunjuk Pak Kreshna:]

17. Ujian Nasional yang malah jadi petaka pendidikan nasional.

18. Bullying (kekerasan fisik dan atau psikis sesama anak) di sekolah.

*************************************************************

[Disunting sesuai komentar Bunda Ameilia]

19. Budaya contek-mencontek di sekolah. Silakan lihat komentar di bawah.

*************************************************************

20. Sering aku bertanya-tanya, kenapa dulu di sekolah “ini” tidak diajarkan? Bagi aku, “ini” adalah teori kepemimpinan, pengelolaan uang, manajemen waktu, cara negosiasi, dan cara berpikir kritis, yang kalau aku pikir sekarang sebenarnya pengetahuan dasar.

Pertanyaan itu sendiri cukup mengguncangkan aku, jangan-jangan sekolah bukan tempat ideal menghabiskan masa kecil.

Betul kata John Holt (bapak gerakan homeschooling), kebanyakan pelajaran yang diajarkan sekolah tidak dapat aku ingat, dan dari sedikit yang aku ingat ternyata tidak banyak berguna.

Aku yakin hanya lingkungan alami, yakni keluarga, orang-orang terdekat, dan kehidupan nyata yang bisa mengajarkan hal-hal penting untuk masa depan anak, bukan lingkungan artifisial bernama sekolah formal. Dari situ aku mulai berpikir, homeschooling, mengapa tidak?

###

Alasan Homeschooling , ,

28. Tentang Menjadi Berbeda

Kemarin sore seorang kenalanku datang ke rumah. Ceritanya aku bertengkar dengan suamiku, dan sebagai kawan yang baik dia datang jauh-jauh bermobil dari luar kota mengunjungi aku untuk mendamaikan.

Aku bilang:

Suami mau anak kami sekolah. Aku mau dia homeschooling di rumah.

(Ceritanya lupa kawan ini bangga kedua anaknya sudah sekolah sejak usia 2 tahun karena dia bekerja).

Dia bilang:

Kalau sekolah, anak jadi nggak nakal lagi. Jadi patuh. Bagus lho sekolah itu. Kita jadi terbantu. Tinggal ngurusin hubungan anak dan ibu saja, nggak perlu ngajarin apa-apa lagi. Aku rasa kalau kita ngajarin sendiri, anak itu jadi main-main aja, nggak nurut. Kalau sama guru dia kok jadi baik, mau ngikutin pelajaran.

Aku bilang:

Malah itu yang aku nggak mau. Berarti kan di sekolah belajarnya karena takut sama guru. Sekolah itu mendorong kepatuhan total, konformitas penuh, yang nggak mempertanyakan otoritas. Dia jadi terkekang, dicegah mengekspresikan diri sepenuhnya. Dicegah menemukan minat dan kemampuan unik dia sendiri, dan akhirnya menghambat dari menemukan jati diri dan kebahagiaan diri sendiri.

Ngaruh ya, argumentasi aku? Nggak. Cuma aku sendiri yang jadi sadar kalau aku berbeda dengan dia.

Lanjut.

Aku bilang:

Mertua pengen pamer kalau aku kerja. Dibilangin begitu sama orang tuanya, suamiku jadi malu istrinya nggak kerja. Padahal dulu dia nggak keberatan aku mau kerja apa nggak. Terserah aku. Ya nggak pa-pa sih mertuaku mau bilang apaan juga. Bodo amat, orang lain ini. Tapi masa suami sendiri menilaiku dari kerja nggak kerja sih?

Ya udah, cari aja istri lain sana.

Aku nggak mau ya kerja di luar, kasihan anakku diasuh pembantu.

(Ceritanya saking kepengen curhat, aku betul-betul lupa kalau si kawan ini bangga sebagai wanita karier dan anak-anaknya memang diasuh pembantu).

Kawan ini bilang:

Nggak jelek lho anak sama pembantu. Kan yang memenej tetap kita sebagai ibunya. Kita tetap yang ngatur makannya, bajunya, pendidikannya. Bukan berarti kita lepas tangan meskipun ada pembantu.

Aku pikir, ups, salah ngomong deh.

Ah, ya sudahlah.

Hari itu aku belajar keterampilan sosialisasi yang baru. Memvalidasi perasaan dan pendapat orang lain meskipun kebijakan dia sebagai ibu jauh berbeda dengan aku.

Aku bisa tersenyum dan bilang,”Oh ya, begitu ya”, meskipun aku sendiri tidak sampai hati melakukan hal yang sama pada anak-anakku sendiri. Mungkin itu yang terbaik untuk dia dan keluarganya, aku juga tidak tahu toh? Aku ya jalan terus melakukan apa yang aku yakini, tidak perlu terombang-ambing dengan kata teman, kata tetangga, atau kata mertua. Aku merasa geli sendiri kalau ingat tujuan awal pertemuan, sebenarnya kawanku ini ingin menghiburku tetapi akhirnya malah aku yang berhati-hati menjaga perasaan dia.

Yah, sudahlah. Bukankah dunia ini seru, heboh, dan asyik karena kita semua menjalani hidup sesuai keinginan dan kondisi masing-masing tanpa keterpaksaan, dan tanpa kebutuhan memaksakan cara hidup kita terhadap orang lain? Aku tidak serta merta memutuskan hubungan pertemanan hanya karena dia tidak melakukan apa yang aku lakukan. Itu mah mentalitas anak sekolah. ###

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Alasan Homeschooling , ,
Hal. 20 dari 26« Awal...101819202122...Akhir »