YouTube Video: The Benefits of Homeschooling

Fakta-fakta statistik di Amerika Serikat yang menunjukkan manfaat homeschooling bahwa homeschooling itu lebih baik bagi kemakmuran, kesejahteraan, dan kemajuan bangsa.

Kliping Berita Homeschooling ,

“Apa Kamu Tidak Takut Anakmu Jadi Aneh Kalau Homeschooling?”

“Apa kamu tidak takut anakmu jadi aneh kalau homeschooling?”

1. Itu malah salah satu kelebihan homeschooling, yaitu anak homeschooling belajar untuk tidak takut menjadi “aneh”.

Aku rasa, dalam hal ini kita setuju, bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan yang menyeragamkan. Baju harus seragam, cara berpikir harus seragam, materi yang dipelajari harus seragam, semua serba sama dan seragam. Minat dan bakat pun harus seragam karena sekolah tidak mengakomodasi yang selain itu.

“Aneh” adalah segala sesuatu yang melenceng dari keseragaman itu. Anak-anak sekolah sangat takut menjadi berbeda. Anakku sekolah, bahkan terhadap kemungkinan tidak ikut acara karya wisata sekolah yang tidak wajib pun dia menjadi sangat stres, karena dia khawatir kalau tidak punya pengalaman yang serupa, dia akan dikucilkan teman-temannya di sekolah. Dikucilkan karena lain sendiri adalah bahaya yang nyata bagi anak-anak di sekolah.

Anak-anak homeschooling belajar bersosialisasi di lingkungan sekitarnya, di dunia nyata. Ternyata di dunia nyata, ada bermacam-macam jenis manusia, tidak seragam semua. Di dunia nyata tidak perlu menjadi sama seperti orang lain, dan lebih penting bagi anak homeschooling untuk menjadi dirinya sendiri. Anak homeschooling tidak takut berdiri sendirian untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar.

“Jangan membuang sampah sembarangan di mesjid!” Yang berani menegur orang dewasa seperti ini hanya anak homeschooling. Dari cerita ibu Ahmad (9).

2. Aneh tidak selalu buruk. Aneh adalah juga unik, tidak lazim, mengagumkan.

Semua orang sukses di dunia ini orang-orang yang aneh, unik, tidak lazim, dan menjadi buah bibir karena karakternya yang tidak dimiliki orang lain. Takut menjadi aneh, takut malu, takut akan penilaian negatif orang lain,… semua itu melumpuhkan anak-anak dalam berkarya. “Ah jadi biasa-biasa saja, ikut arus saja, seperti ikan mati di sungai yang mengalir, tidak perlu ambil risiko dianggap aneh.”

Anak-anak homeschooling berani berkarya karena mereka tidak terkekang perasaan takut dinilai aneh. Izzan (8) memenangkan Kontes Ilmuwan Robot Cilik di antara saingan-saingan yang berusia SMP. Dia tidak merasa pertandingan itu bukan tempat untuk anak sekecil dia. Sepertinya, anak homeschooling memang lain sendiri.

3. Di sekolah pun ada anak-anak yang aneh, masa sih kamu tidak ingat?

Di sekolah pun ada anak-anak yang tetap aneh dari awal sampai akhir masa sekolah, tidak serta-merta “sembuh” setelah disekolahkan. Sayangnya di sekolah mereka bukan diterima dengan suka cita sebagaimana apa adanya, melainkan diledeki, dikucilkan, dan dijadikan sasaran bullying oleh anak-anak lain. Kasihan, bukan? Padahal aku rasa tujuan orangtua menyekolahkan adalah agar anak-anak menjadi percaya diri dan menerima pendidikan yang baik, bukan menjadi korban bullying yang melukai harga dirinya dan menghambat hidupnya bahkan sampai dia dewasa.

4. Orangtua yang berani memilih homeschooling sedikit banyak adalah orang-orang “aneh”.

Aneh dong, ketika semua orang lain pilih sekolah, kok mereka nekad ambil jalan lain? Nggak ada jaminannya gitu lho! (Sekolah juga tidak ada jaminannya, tetapi orang-orang yang “tidak aneh”, tidak menyadarinya, bukan?). Orangtua homeschooling melihat jalan lain yang terlihat lebih masuk akal dalam metode pendidikan anak-anaknya, dan berani mengambil jalan homeschooling, meskipun berisiko menjadi keluarga yang berbeda dengan keluarga kebanyakan. Aku rasa orangtua homeschooling tidak keberatan dan malah senang jika anak-anaknya menjadi se-”aneh” dirinya.

5. Mereka cuma anak-anak.

Sebetulnya, sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan anak homeschooling yang aneh. Mereka terlihat seperti anak-anak biasa saja. Tidak ada yang tahu mereka homeschooling kalau tidak ada yang bertanya. Tetapi masalahnya kan basa-basi di lingkungan kita, selalu kata-kata,”Sekolahnya di mana? Kelas berapa?”

Setelah mereka tahu anak kita homeschooling, barulah bagi orang yang bertanya tersebut anak kita terlihat aneh. Mereka mencari-cari kesalahan anak kita, dengan sembunyi-sembunyi maupun bicara terang-terangan. Padahal aku juga belum pernah bertemu anak sekolah yang sempurna. Wajarlah ada kekurangannya. Namanya juga anak-anak. Namanya juga manusia. Orang dewasa pun tidak ada yang sempurna, jadi sungguh tak logis mengharapkan kesempurnaan dari anak homeschooling.

6. Aneh hanyalah masalah persepsi.

Orang-orang yang tidak sependapat dengan aku, otomatis menganggap aku orang aneh. Aku pun sama, menganggap aneh orang-orang yang keyakinannya tidak dapat kupahami. Ketika orang lain menganggap aku aneh, sangat mungkin aku pun menganggap dia aneh.

Jadi biarlah orang lain menghakimi kita karena kita pun bebas menghakimi orang lain. :D Lanjutkan saja perjuangan masing-masing, dan jangan saling menganggu.

7. Ada yang lebih penting yang kita perjuangkan dengan homeschooling daripada menghindari komentar negatif oleh orang lain.

Dengan homeschooling, kita memberikan anak-anak masa kecil yang indah, penjelajahan ilmu dan kehidupan, kesempatan mempertanyakan, kegiatan luar ruangan, tantangan, kenyamanan, keterampilan berkebun, ikatan keluarga yang erat, dan lain-lain, yang sama sekali tidak sama jika anak-anak tetap di sekolah. Kalau hasilnya sama, ya sekolah saja, buat apa homeschooling. Begitu kita menyadari kesempatan dan kebebasan yang kita sediakan bagi anak-anak dengan homeschooling, kita tidak akan takut dinilai aneh atau apa saja oleh orang-orang, yang sebetulnya tidak begitu penting pendapatnya.

***

Jadi bagaimana ya kalau ada orang yang mengatakan pada kita,”Anakmu homeschooling ya? Pantas aneh.”

Daripada keki, kita bisa bertanya,”Oh ya? Anehnya di mana?”

Orang itu mungkin menjawab,”Kok dia nggak mau jawab waktu aku tanya nama dan umurnya? Malah kabur!”

Kita bisa menanggapi dengan santun,”Oh iya ya? Aku rasa dia belum kenal dengan kamu. Dia pikir kamu tante-tante aneh, nggak kenal kok nanya-nanya. Kamu kalau tiba-tiba ditanyai orang di jalan, siapa namamu dan berapa umurmu, pasti kamu juga tidak mau menjawab, kan?”

Orang itu mungkin tetap skeptis dan tetap menganggap anakmu aneh. Biarkan saja karena pendapat orang lain sama sekali bukan urusanmu. Kamu bisa berbangga dalam hati. Karena anakmu anak homeschooling, harga diri dan integritasnya masih utuh, dan dia tidak bisa dimanipulasi orang dewasa dengan mudah seperti anak-anak yang sudah ‘dipatahkan’. Ditanya orang tidak dikenal kenapa harus menjawab? Lugu sekali? Ya kabur dong!

Sosialisasi Homeschooling

Liputan Jawa Pos tentang Klub Sinau, Komunitas Ibu-ibu Homeschooling

Jawa Pos, For Her, Kamis 19 Mei 2011

Klub Sinau, Komunitas Ibu-ibu Homeschooling

Jadi Ibu Sekaligus Guru

Orang tua di Indonesia yang menerapkan homeschooling kepada anak mereka bisa dihitung dengan jari. Salah satunya dilakukan para ibu di komunitas homeschooling Klub Sinau Jawa Timur. Mereka lebih memilih untuk mengajar anak mereka sendiri yang kebanyakan masih kecil meski tidak memiliki latar belakang guru.

Ibu-ibu ini memilih untuk menerapkan homeschooling kepada anak mereka. Itu merupakan model pendidikan alternatif dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikan. Keluarga memegang semua tanggung jawab pendidikan. Kebanyakan anak anggota Klub Sinau masih kecil. Mereka menjadi orang tua sekaligus guru yang kreatif tanpa memanggil pengajar. Mereka merancang sendiri kurikulum pendidikan.

“Setiap rumah atau keluarga akan memiliki cara yang berbeda,” kata Maria Magdalena, 36, salah satu pendiri Klub Sinau Jawa Timur. Ibu Pandu Husain, 7, itu sebisa-bisanya menciptakan rasa senang dalam belajar.

Baca selengkapnya di situs Klub Sinau.

Kliping Berita Homeschooling , ,

Refleksi 8 Tahun Perkawinan

Salah satu alasan besar mengapa kami tidak bisa homeschooling, setidaknya saat ini, adalah perkawinan yang tidak harmonis. Kalau soal selain sekolah sih, aku bisa tetap melakukan apa yang aku mau, tetapi kalau soal sekolah anak-anak ya, aku tak punya kendali. Misalnya suami menghendaki aku bekerja di luar rumah, jadi wanita karier yang keren, seperti ibunya dulu di Palembang. Tetapi karena dalam hal ini yang ‘jalan’ adalah aku, kalau aku tidak bergerak, ya tidak mungkin aku bekerja di kantor, tidak mungkin dia memaksakan kehendaknya. Kalau sekolah kan, yang mendaftarkan dia, yang memaksa Kanae pergi sekolah tiap hari kan dia, ya semua dialah yang berkuasa mengaturnya. Jadi, homeschooling tidak mungkin terjadi tanpa persetujuan kepala keluarga.

Metode pendidikan anak hanya salah satu dari masalah rumah tangga kami. Masalah bermula sejak kembalinya kami dari Jepang ke Indonesia, 3 tahun lalu. Lingkungan berubah, orang-orang yang masuk ke dalam pergaulan kami pun berubah, sikapku dan sikap suamiku pun berubah. Hubungan tidak lagi indah seperti 5 tahun awal perkawinan kami. Awalnya aku berpikir, andaikan tetap di Jepang, tidak perlu dekat-dekat dengan mertua, semua pasti masih baik-baik saja.

Sekarang aku baru sadar tentang apa yang terjadi, dan berterima kasih pada ibu mertua yang sekarang sudah meninggal. Rupanya selama 5 tahun perkawinan, aku dan suami sama-sama pakai kedok karena ingin “menyenangkan hati pasangan”. Berkat ibu mertua, suamiku lebih dulu melepaskan kedoknya. Mungkin dia berpikir,”Buat apa susah-susah menjadi orang lain kalau ternyata kamu tidak mau menjadi istri yang membanggakan aku di depan ibuku?”

Aku sendiri pun, ternyata manipulatif juga. Aku berpikir,”Buat apa aku repot-repot berperan sebagai istri yang baik kalau ternyata suamiku tidak membela aku di depan ibunya?” Terhadap mertua aku mengungkit-ungkit,”Aku kembali ke Indonesia untuk menyenangkan hatinya, sekarang dia malah menghancurkan perkawinanku.” Ternyata aku pun tidak pernah ikhlas. Ternyata aku pun berpamrih saat berbuat baik terhadap suami dan mertua.

Maka sekarang perkawinan bermasalah… karena aku dan suamiku sama-sama ingin menjadi diri sendiri. Kami jadi bentrok karena sama-sama merasa bingung. “Kau bukan orang yang aku kawini dulu”. Itu memang betul. Karena dulu, kami sama-sama ingin menyenangkan pasangan sampai-sampai takut jadi diri sendiri. Tiga tahun bentroknya belum selesai juga karena proses pencarian jati diri dan penyesuaian yang ternyata sulit juga yah…

Lalu ada yang bertanya ‘jati diri’ apa sih maksudnya? Masa sudah tua begitu mencari jati diri?

Misalnya nih, aku suka film cinta dan dia film laga (action, gitu). Dulu, dia akan mengalah saat memilih DVD untuk disewa. “Baiklah, terserah kamu saja, Istriku.” Sekarang, malas. Mau nonton film romans? Nonton saja sendiri. Aku mau nonton film pilihanku sendiri di komputer.

Dulu, aku rela-rela saja memasak tiap hari, bahkan sebulan sekali menyediakan masakan untuk teman-teman suamiku yang 25 orang itu. Padahal di Jepang, nggak ada pembantu ya. Belanja sendiri, masak sendiri. Repot abis. Sekarang… enak saja! Aku nggak mau repot-repot masak. Katering saja. Kalau mau ngundang teman, kamu urus sendiri ya, Suami. Aku nggak suka masak! Keluar aslinya.

Dulu, suamiku dengan sabar dan senyuman melayani curhatku yang panjang… Sekarang, aduh, malas deh. Tiga tahun terakhir, tak pernah aku curhat ke dia. Dia bilang padaku,”Masa cerita nggak penting begitu, musti aku sih? Makanya kamu kerja ajalah di luar, biar banyak teman, banyak teman cerita. Sudahlah, jangan banyak bicara.” Rupanya, aslinya, dia tak suka dengar aku curhat. Juga malas mikirin yang nggak penting. Mikirin homeschooling, ya malas deh. Mana kita jadi dicemooh orang lain… Sekolah saja, beres kan?

Masalahnya sekarang, setelah kedua pihak sama-sama berhenti berpura-pura, apakah perkawinan ini cukup kuat dan bisa bertahan di atas kejujuran?

Tetapi aku tetap bilang perkawinan itu asyik. Kalau kamu seperti aku, di depan orangtua pun rasanya sulit untuk menjadi diri sendiri. Diam-diam kita merasa cinta orangtua itu bersyarat, kalau aku begini, mereka sayang, kalau aku mencoba menjadi diriku sendiri, mereka akan marah. Padahal membuat orangtua marah itu berdosa. Dengan teman pun, kita sering merasa harus menjadi bunglon, menyesuaikan dengan pendapat orang di hadapan agar tidak menyinggung.

Sekarang, berkat perkawinan, untuk pertama kalinya, ada pasangan hidup yang akan menerima diri kita sebagaimana kita apa adanya. Padahal dia itu orang lain, bukan sanak, bukan kadang! Bukankah itu luar biasa?

Untuk pertama kalinya, aku betul-betul menyadari, apa itu artinya menerima pasangan sebagaimana apa adanya.

Ngomong-ngomong, berikut “nasihat perkawinan” yang tidak berhasil:

Nasihat untuk menyesuaikan diriku dengan keinginan suami. Nasihat untuk mengubah diriku menjadi orang lain lagi agar menyenangkan suamiku. Dengan kata lain, AKU HARUS PAKAI LAGI KEDOKKU. Dengan demikian, suamiku diharapkan bisa memakai lagi kedoknya. Tidak, tidak seperti itu seharusnya. Tidak cocok untuk aku. (Salah seorang yang menasihati seperti ini malah bercerai. Gubraks. Berat bukan, hidup dalam kepalsuan.)

Nasihat yang lebih cocok buatku:

Suamiku adalah seorang manusia yang seutuhnya. Dia menginginkan apa yang dia inginkan. Aku tidak bisa mengubahnya. Aku juga tidak bisa menginginkan apa yang tidak aku inginkan. Nggak mau, ya nggak mau.

Aku ingin dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau bentrok, yang harus aku lakukan adalah… mempertanyakan ekspektasiku sendiri, bukan memanipulasi dia agar melakukan apa yang aku inginkan.

Memang ya, sebagai istri, aku ingin suami menerimaku apa adanya, jangan membanding-bandingkan aku dengan istri orang lain. Tetapi ketika suami ingin menjadi dirinya apa adanya, semisal mendalami hobi, atau sesekali jalan-jalan sendiri tanpa keluarga, aku tidak mau menerima. (OK, deh, yang barusan bohong, ini bukan masalahku hahaha. Masalah istri-istri lain.)

Jadi aku menerima dengan ikhlas bahwa aku harus menonton film romantis sendiri (ternyata nikmat juga), ikhlas nggak bisa curhat ke suami (aku tulis-tulis sesukaku di blog, dia cuek aja), ikhlas nggak dibela suami saat bermasalah dengan keluarganya (ketika aku siap bela diriku sendiri ternyata malah pada nggak berani tuh). Suamiku juga ikhlas menerima aku nggak masak, aku nggak mau urus makan dan pakaiannya. OK deh, aku nggak tahu dia ikhlas apa nggak, yang penting aku nggak melakukan dan dia nggak ngomel. Tapi memang enak punya suami mandiri. Ibu mertuaku telah membesarkan dia dengan baik.

Aku dan suamiku masih bersama-sama. Rumah tangga kami tidak lazim mungkin, tetapi ini milik kami.

Aku pilih untuk berbahagia sekarang, bukan nanti saat dia mengizinkan kami homeschooling. Aku tetap berpendapat homeschooling itu pilihan terbaik, sama sekali tidak “sama saja”. Suamiku bilang tidak, dan itu tidak lagi masalah bagiku. Dia tidak harus sependapat dengan istrinya. Dia boleh jadi dirinya sendiri. Asumsiku Tuhan baru bilang belum boleh homeschooling karena aku belum menyerah.

Aku akan tetap menulis blog tentang homeschooling. Karena… aku mengubah kehidupan orang-orang dengan keyboard-ku, dari kamar tidurku. Bukankah itu keren? Baca: Pujian. Tepatnya, merekalah yang mengubah hidup mereka sendiri, tapi aku punya andil kan, sedikit.

Untuk saat ini, Tuhan menentukan, itu sudah cukup. Dan siapalah aku, berargumen dengan Tuhan? Aku berdamai dengan kenyataan yang ditentukan oleh-Nya, dan berbahagia dengan nikmat perkawinan di mana aku bisa menjadi diriku sendiri.

Curhat ,

Tawaran Menerbitkan Buku Homeschooling

Dua hari lalu, lewat e-mail, aku mendapatkan tawaran untuk menerbitkan tulisan dalam blog ini sebagai sebuah buku tentang homeschooling. Yah, blogku memang keren.

OK, OK. Terima kasih tepuk tangannya. I know you love me, thank you, thank you. I’d like to dedicate this Oscar to God, my parents…

Dalam hal ini aku merasakan kedekatan dengan si ganteng Justin Bieber *gubraks*. JB sebagai artis, memperoleh penggemar musiknya dulu lewat situs YouTube, baru kemudian dilirik produser musik mainstream. Aku pun sebagai calon penulis buku homeschooling mendapatkan pembaca tulisanku, baru dilirik oleh editor penerbit besar.

Walaupun tawaran itu juga belum ditindaklanjuti dan sama sekali belum pasti, yang jelas aku senang bukan kepalang ada editor yang menganggap tulisanku ‘layak terbit’. Ternyata aku berhak dicintai…ihiks. OK, yang barusan bohong. Aku sudah tahu tulisanku bagus. Lalu sekarang ada seorang editor yang bijaksana dan mampu melihat potensi dalam diriku. I mean, it’s about time, right?

Masalahnya kemudian, bagaimana cara mengkompilasi tulisan-tulisan tercerai-berai ini menjadi satu buku yang mendukung satu ide. Apa itu istilahnya ya… “menarik benang merah”.

Lalu sekarang tiba saatnya keraguan diri, datang menyerbu. Tulisanku mengerikan! Orang-orang pasti benci! Oh tidak!

Gimana ya… orangtua umumnya tak mau mendengar bahwa anak-anak sekolah lebih banyak masalah sosialisasinya daripada anak homeschooling. (Cuma mau bergaul dengan anak sepantaran? Itu khasnya anak sekolah. Anak homeschooling bisa gaul dengan siapa saja.) Tetapi kalau ada buku homeschooling yang menulis bahwa anak homeschooling bermasalah sosialisasi, nonpraktisi  mengamini. Mungkin buku itu laris juga meskipun aku sendiri keki dan tak mau beli.

Anyways…

Tak tahulah, buku homeschooling itu bisa terbit atau tidak, atau pun kapan terbitnya… Aku cukup sadar tulisanku di blog ini bukan untuk penerbitan mainstream. Hmm… mungkin aku tulis saja dari nol? Lalu temanya? Kalau ada saran, berbaikhatilah untuk memberi tahu aku. Silakan isi komentar…

Terima kasih telah membaca hari ini. Datang lagi besok atau lusa! Dah!

Foto: Nic’s events, Flickr

Curhat

Orang Indonesia yang Suka Tersinggung

Waktu di Jepang, aku pernah ngobrol-ngobrol dengan seorang mahasiswi, sama-sama dari Indonesia. Aku sudah lupa siapa dia. Dibilang mahasiswi, umurnya cukup tua, mungkin kandidat S2 atau S3. Ibu-ibulah pokoknya. Datang ke Jepang dengan beasiswa.

Dia bercerita, pada suatu hari dia pernah berjanji bertemu dengan orang Jepang di suatu tempat yang cukup jauh dari apartemennya. Kereta listrik terlambat 5 menit, dan menurut cerita si mahasiswi ini, dia jadi datang terlambat cukup lama. Mungkin ada kecelakaan atau apalah. Biasanya kereta tidak terlambat.

Sampai di sana, orang Jepang itu, mengatakan,”Ah, Anda lambat ya.” Bahasa Jepangnya: Osoi desu ne.

Mahasiswi ini sebetulnya merasa tersinggung. Di bibirnya ia mengatakan,”Doumo sumimasen.” Maafkan. Tetapi dalam hatinya mengutuk-ngutuk.

Dan kutukan dalam hati itu dia sampaikan padaku. “Sombong sekali. Dia pikir orang Indonesia semua jam karet apa! Kan bukan salahku kalau keretanya terlambat? Dasar orang Jepang sombong!”

Wow, pikirku, setahuku orang Jepang sopan-sopan, dan takut menyinggung perasaan orang. “Dia bilang orang Indonesia semua jam karet, Mbak?”

“Nggak sih… Tapi pasti dalam hati dia bilang begitu! Dia pikir orang Indonesia jam karet. Huh!”

Ibu-ibu mahasiswi ini rupanya peramal, bisa baca pikiran orang.

Aku merasa agak heran sih waktu itu. Dengan ucapan informasi belaka,”Anda terlambat”, dia merasa dihakimi. Bahkan membawa-bawa reputasi seluruh bangsa Indonesia yang ‘jam karet.’ Realitanya, dia memang terlambat. Orang Jepang itu memang menunggu. Dan orang Indonesia memang jam karet. Hihihi. Tidak ada alasan untuk tersinggung dan tidak minta maaf dengan tulus.

Semua drama itu hanya terjadi di dalam kepalanya. Tanpa perasaan tersinggung yang dia muncul-munculkan sendiri, yang lahir dari perasaan rendah dirinya, mungkin pertemuan dengan orang Jepang itu bisa berlangsung menyenangkan bagi dirinya.

Baru-baru ini di Facebook, ada bapak-bapak bercanda, orang Indonesia sebetulnya menderita inferioritas kronis atau narsisistik akut?

Produk-produk terbaik sekolah -contohnya mahasiswi itu- ternyata tidak bebas dari kedua penyakit itu.

Hubungannya dengan homeschooling? Kepercayaan diri memang harus dibina dari rumah. Tahu tidak? Orangtua homeschooling punya posisi yang lebih baik untuk mengajarkan kepercayaan diri pada anak-anaknya, daripada orangtua yang membiasakan anak-anak menggantungkan keberhargaan dirinya pada ranking di kelas, nilai rapor, atau hasil UN belaka.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Alasan Homeschooling
Hal. 3 dari 26123451020...Akhir »