Homeschooling Is Not For Wimps

Selama ini aku marah karena suami melarang keluarga kami homeschooling setelah kami menjalaninya 1,5 tahun. Dia cinta damai. Makanya dia shock karena homeschooling ternyata begitu kontroversial dan mengundang kemarahan orang tak dikenal sekali pun. Daripada ribut-ribut terus, berhenti sajalah. Sekolah sajalah biar orang-orang tidak ramai. Kan sama saja ya, homeschooling dan sekolah. He’s a wimp.

 Sekarang aku sadar: I’m a wimp, too. Bedanya, kalau suamiku bereaksi dengan cara mematuhi semua apa kata orang, agar dia diterima orang lain, aku bereaksi dengan cara marah-marah. Aku marah karena merasa seharusnya mereka menerima keputusanku dengan gembira. Aku ini ingin dicintai dan diterima oleh kalian. Kenapa kalian tidak melakukannya! Aku tantrum.

Intinya, kami suami istri sama-sama lemah, dan sama-sama takut dengan penilaian orang lain tentang diri kami. We’re both wimps.

Pantas tidak bisa homeschooling. Homeschooling is not for wimps.

Saking takutnya dengan penilaian orang lain, pertanyaan basa-basi,”Sekolahnya di mana?” membuat aku ketar-ketir dan cemberut. Kalau kujawab homeschooling, pasti habis ini aku dikomentari buruk lagi.

Pernah, waktu anak pertama kami masih homeschooling, ada seorang ibu yang iseng-iseng menasihati aku.

“Jangan homeschooling. Nanti Kanae jadi bodoh lho…”

Aku sebal, anakku dibilang bodoh. “Maksudnya apa ya? Kanae pintar sekali kok.”

“Iya, sekarang. Lama-lama bisa jadi bodoh kalau tidak sekolah. Bodohnya NANTI kalau sudah besar.” Nadanya sok tahu sekali. Menyebalkan.

“Oh, gitu ya?”

“Iya.”

“Tapi anak kamu yang sekolah itu, bodohnya SEKARANG. Apa rencana kamu dengan dia?”

Ibu itu pura-pura tidak mendengar. Entah dia menyahut apa lagi, pokoknya nggak nyambung. Aku langsung ngeloyor pergi dengan geram. Aku sakit hati.

Kalau dipikir sekarang, dua tahun kemudian, seandainya waktu itu aku bisa berpikiran terbuka, aku tidak perlu sakit hati dan membuat diriku sendiri menderita berkepanjangan.

Pikiranku tertutup. Aku berhenti mempertanyakan kepercayaanku sendiri.

Waktu itu aku percaya “aku harus disukai dan diterima SEMUA orang”. Apakah itu benar? Tidak. Aku juga tidak bisa menyukai semua orang.

Aku percaya “keputusanku harus menyenangkan SEMUA orang”. Apakah itu benar? Tidak. Kok bisa-bisanya aku punya kebutuhan absurd seperti itu?

Aku percaya “SEMUA orang seharusnya paham keunggulan homeschooling.” Apakah itu benar? Tidak. Memang kenyataannya tidak semua orang bisa paham.

Ternyata kepercayaanku salah semua. Berarti orang lain boleh saja tidak menyukai aku, boleh saja tidak menyukai keputusanku, boleh saja tidak tahu kebaikan homeschooling. Wow! Belum pernah terpikirkan olehku! Berarti seharusnya aku tidak perlu marah. Akulah yang menyakiti diriku sendiri.

Sebetulnya, tanpa ketakutanku akan tidak dihargai, obrolan iseng ibu itu tak lebih dari sekadar informasi. Informasi yang aku sudah tahu, bahwa tidak semua orang paham kebaikan homeschooling. Kebanyakan memang tidak paham. Barangkali malah dia betul-betul khawatir dengan anakku. Barangkali dia betul-betul sayang pada anakku? Bisa jadi dia tidak sadar kekhawatirannya itu cerminan kekhawatiran dirinya pada anaknya sendiri.

Seharusnya aku bisa menanggapinya seperti ini,”Bisa juga ya jadi bodoh kalau aku menelantarkan pelajaran Kanae. Terima kasih sudah mengingatkan. Aku tahu kamu memang sayang pada anakku. Terima kasih. Tapi kamu tidak usah khawatir. Sekarang kan Kanae pintar sekali. Besok aku cek lagi, apakah dia masih pintar seperti hari ini. Lusa aku cek lagi. Begitu terus setiap hari sampai nanti umurnya 18 tahun, aku akan terus memastikan dia masih tetap pintar seperti sekarang. Kamu mau dengar nggak, homeschooling di rumah kami seperti apa? Asyik banget lho. Kanae belajar bikin kue sama aku kemarin, terus tiap hari dia memberi makan binatang-binatang peliharaanya, kami belajar bahasa Jepang dan Inggris, kami main ke Dufan… “dan seterusnya. Seharusnya percakapan itu bisa jadi menyenangkan. Seharusnya aku malah bisa menceritakan kebaikan homeschooling tanpa melukai hati ibu itu.

Aku bisa saja menjawab seperti itu, dengan positif. Andai saja aku tidak sakit hati duluan karena pikiranku yang tertutup dan penghargaan terhadap diriku sendiri yang bergantung pada pandangan orang lain.

Andaikan tidak homeschooling, aku pasti tidak menyadari sisi burukku yang ini. Bisa dibilang inilah beratnya homeschooling. Orangtua juga harus tumbuh dewasa. Dan tumbuh dewasa itu tidak mudah!

Sosialisasi Homeschooling

Pikiran yang Terbuka adalah…

Pikiran yang terbuka adalah pikiran yang mampu mempertanyakan.

“Sekolah itu wajib.” Apakah itu benar?

“Tidak mungkin sukses tanpa sekolah.” Apakah itu benar?

“Tidak bisa dapat pekerjaan tanpa ijazah.” Apakah itu benar?

“Belajar itu hanya bisa di sekolah.” Apakah itu benar?

“Anak-anak sekolah semuanya mahir bersosialisasi.” Apakah itu benar?

“Orangtua tidak sanggup mengajar anaknya sendiri.” Apakah itu benar?

“Sosialisasi yang baik itu hanya dengan sesama anak-anak sepantaran.” Apakah itu benar?

“Sekolah memberikan jaminan sukses di masa depan.” Apakah itu benar?

Homeschooling itu mahal, hanya untuk artis.” Apakah itu benar?

“Guru lebih tahu yang terbaik untuk anakku daripada aku.” Apakah itu benar?

Pikiran yang tertutup adalah pikiran yang berhenti mempertanyakan.

“Sekolah itu wajib.” Percaya. Nggak mikir-mikir lagi. Homeschooling pasti buruk karena dia terlanjur percaya sekolah itu wajib.

“Tidak mungkin sukses tanpa sekolah.” Percaya. Nggak tanya-tanya lagi. Ada sejuta bukti mengatakan sebaliknya, tetap tidak percaya, karena tidak kelihatan, tertutupi oleh pikiran yang tertutup.

Pikiranmu ada di bawah kendalimu. Keputusan ada di tanganmu. Mau punya pikiran terbuka, atau tertutup? Pertanyakan, atau tidak pertanyakan? Itulah pertanyaannya.

To question, or not to question, that is the question.

#jelekbangetsihdiulang3kali

Foto: Edmittance, Flickr

Lain-lain

Tanpa Ijazah, Joichi Ito Menjadi Direktur Media Lab di MIT

Joichi Ito, dari Jepang, terpilih menjadi direktur Media Lab di Massachusetts Institute of Technology (MIT) meskipun tidak memiliki ijazah dari universitas, dengan mengalahkan 250 kandidat. Prestasi dan perjalanan kariernya luar biasa sekali. Selengkapnya baca di situs New York Times:

M.I.T. Media Lab Names a New Director.
JOHN MARKOFF
Published: April 25, 2011
Joichi Ito is a 44-year-old Japanese venture capitalist who does not have a college degree but has worked with several Internet organizations and invested in start-ups.

Jabatan universitas bergengsi pasti tidak jatuh begitu saja dari pohon, perjuangannya seperti apa ya, pasti mahaberat. (MIT gitu loh! MIT! Masuk kuliah ke sana aja susah setengah mati, apalagi jadi direktur lab.). Aku membayangkan, mungkin orang-orang sekeliling dia mencemooh,”Ijazah S1 aja nggak punya, kok mau jadi direktur lab MIT. Mimpi kaliiii… Kamu nggak mungkin terpilih.”
Joichi Ito mungkin bilang,”AKU NGGAK PERCAYA.” Dia mencalonkan diri, dan karena prestasi dan reputasinya memang luar biasa, dia mengalahkan 250 kandidat lain yang punya ijazah profesor doktor. Mungkin …

Artikel di New York Times itu dibuka dengan kalimat:
Selama berabad-abad, ijazah bersinonim dengan universitas-universitas di negeri ini… (Amerika Serikat, maksudnya.)

Joichi Ito telah membuka lembaran sejarah baru. Dia menolak memercayai “tidak mungkin sukses tanpa ijazah”.

Selama ini kita diajari “tidak mungkin sukses tanpa ijazah.” Dan karena banyak orang beriman pada kalimat itu, setiap ada berita yang membuktikan sebaliknya, yaitu “mungkin saja sukses tanpa ijazah,” mereka menolak mentah-mentah. Kalau aku sebutkan seribu nama orang yang sukses tanpa ijazah, mereka tetap tidak percaya. Bahkan pada saat dirinya sendiri yang sukses tanpa ijazah, mereka menolak untuk mempertanyakan keyakinannya itu. Aneh ya?

Ada orang yang ingin bicara statistik. Menurut dia, yang tidak sukses tanpa ijazah itu lebih banyak. Begini. Orang-orang yang percaya bahwa dirinya bisa sukses tanpa ijazah, mereka benar. Orang-orang yang percaya bahwa dirinya tidak akan sukses tanpa ijazah, mereka juga benar. Nah, sekarang, manakah yang lebih banyak?

Kalau ada orang mengatakan kamu tidak mungkin sukses dalam hidupmu karena (tidak punya ijazah, tidak ganteng, bukan orang Jawa, tidak punya koneksi, tidak tinggal di Jepang, dan lain-lain), tipsnya satu: jangan percaya.

Foto: Kirainet, Flickr

Kliping Berita Homeschooling , ,

Sanggupkah? Kegagalan Homeschooling

Pada suatu hari, ada sebuah keluarga yang anaknya bermasalah dengan sekolah. Mendengar tentang homeschooling, mereka tertarik, dan mencobanya. OK deh, satu bulan dulu. Atau setahun dulu, kita coba, bagaimana hasilnya.

Betapa terkejutnya mereka, ternyata mulai dari mertua, orangtua, om tante, teman di kantor, sampai orang lewat pun serentak bangkit untuk menentang keputusan keluarga mereka.

Seru orang-orang itu setengah mengamuk,”Apa? Homeschooling? Bagaimana sosialisasinya? Memangnya anakmu artis? Mau jadi apa kalau sudah besar nanti? Jangan hancurkan masa depan anakmu!”

Setiap hari dikejar-kejar pertanyaan seperti ini, keluarga itu merasa tertekan. Apalagi karena mereka baru mulai homeschooling, bagaimana seharusnya menghadapinya, juga tidak tahu. Ibu menjadi murung, tidak bersemangat mengajar anaknya lagi. “Ah, buat apa capek-capek, tidak ada yang menghargai.”

Ayah di kantor, merasa tertekan ditertawakan rekan-rekan kerjanya. “Nih, anaknya dia nggak sekolah nih. Huahaha, mau jadi apa… Anak itu jangan terlalu diturutin. Nanti jadi mental tempe!”

Apalagi setiap kali bertemu kerabat, mereka selalu dinasihati, bisa berjam-jam lho, tentang pentingnya pendidikan dan sekolah. Ayah dan ibu tidak berani melawan karena rasanya tidak enak kalau dimusuhi keluarga besar. Kalau angkat bicara takut dibenci. Jadi keduanya diam saja sambil menunduk.

Sepertinya seluruh dunia berkonspirasi menyuruh mereka untuk berhenti homeschooling.

Mereka menjadi stres, terus-menerus sedih, dan marah-marah. Tahukah kamu kalau orangtua stres, anak juga jadi ‘nakal’ dan bertingkah? Oh, oh, kayaknya homeschooling-nya gagal nih. Anak ini bukannya menjadi percaya diri seperti kata blog Homeschooling Indonesia, malah jadi anak setan. Selang beberapa lama, kedua orangtua itu tak tahan lagi, dikembalikanlah si anak ini ke sekolah.

Ayah dan ibu itu menghela napas lega,”Ah, alhamdulillah. Anakku sudah sekolah, sekarang orang-orang akan kembali menerima keberadaanku.”

Anak, adalah cerminan orangtua. Orangtua yang mencari persetujuan orang lain, tidak bisa tidak, pasti membesarkan anak yang mencari persetujuan orang lain juga.

“Mama, aku senang, bisa sekolah lagi. Di sekolah aku banyak teman. Aku tidak diledeki anak-anak kampung lagi.”

Syukurlah. Semua berbahagia. Anak ini sudah sekolah. Sudah kembali ke jalan yang benar. Masalah-masalah dengan sekolah kembali lagi tetapi tidak apa-apa. Soalnya ternyata homeschooling itu nggak enak!

Homeschooling is not for wimps. Homeschooling bukan untuk orang-orang lemah yang mengejar pengakuan orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak berharga ketika tidak diterima orang lain. Homeschooling bukan untuk orang-orang yang merasa tidak enak hati saat berbeda dengan orang lain.

Tidak hanya bagi anak, bagi orangtua pun, homeschooling merupakan sarana pembelajaran yang penting. Orangtua homeschooling harus belajar untuk berani menjadi diri sendiri, menerima kenyataan tidak semua orang akan menyetujui keputusan kita, menyadari bahwa kita tidak perlu pengakuan semua orang, dan belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang-orang yang berbeda pendapat tanpa harus memusuhi.

Padahal ya bertahun-tahun kita sendiri dididik untuk menyenangkan hati semua orang. Bertahun-tahun kita dididik untuk memilih bergaul dengan orang-orang yang sama pemikirannya dengan kita. Sekarang kita memilih menjadi lain sendiri, menjadi minoritas. Sanggupkah kita?

Ilustrasi: Zhudandan, Flickr

Sosialisasi Homeschooling , ,

Cintai Aku Apa Adanya

Dari e-mail penggemar: Mbak Andini, kenapa nulisnya begitu? Kenapa nulisnya yang nggak penting? Kenapa energi yang dipancarkan negatif melulu? Mbak Andini nggak Islami, nggak bisa masuk surga!

Aku ingin tulisanku dicintai apa adanya karena itu aku tidak mengubah-ubah nada tulisanku mengikuti kehendak orang lain.

Aku ingin dicintai apa adanya karena itu aku tidak membentuk diriku sesuai keinginan orang lain. Semua yang aku katakan dan lakukan datang dari hatiku, tidak kumaksudkan agar kamu mencintaiku. Mau benci atau cinta, itu 100% terserah kamu.

Ada yang benci, ada yang cinta aku begini, itu kenyataan, dan aku terima.

Aku terima kenyataan orang-orang akan menghakimi aku. Itu risiko mengekspresikan diri. Itu risiko jadi orang cantik.

Tak suka tulisanku, boleh-boleh saja. Internet sangat luas, silakan mencari yang lebih beresonasi dengan dirimu.

Aku ingin dicintai apa adanya. #gombal

***

Jangan menjadi bunglon hanya karena kau ingin diterima dan disukai semua orang. Ketika orang lain mencintaimu, kamu jadi bingung sendiri, apakah ia mencintai warna aslimu, ataukah warna samaranmu.

Jangan minta dicintai secara apa adanya kalau kamu sendiri tidak berani menjadi dirimu sendiri di hadapan orang lain.

Be yourself!

Stand up for yourself!

Make yourself heard!

Internet bukannya ada supaya kamu bisa menonton video Justin Bieber sepanjang hari.*

* Wait, I do that.

Curhat

Jawaban untuk “Kelebihan dan Kekurangan Homeschooling” di Yahoo! Indonesia

Tulisan opini keliru tentang homeschooling di Yahoo! News Indonesia, klik di sini. Terima kasih Mbak Novi untuk informasinya.

*Baca juga tanggapan praktisi homeschooling di sana. Seru!

Berikut jawabanku di kolom komentar:
Wahai Penulis, Anda dibayar mahal oleh Yahoo Indonesia, lalu kenapa Anda malas riset padahal keluarga homeschooling Indonesia banyak yang sudah bisa dihubungi lewat blog homeschooling mereka masing-masing?

Anda salah besar soal kekurangan homeschooling.

1. Kurangnya disiplin. Salah! Untuk homeschooling dituntut kedisiplinan yang tinggi dari dalam diri anak itu sendiri. Anak homeschooling akan lebih banyak berlatih disiplin dan berinisiatif daripada anak sekolah yang disuruh-suruh terus oleh gurunya.

2. Minimnya kompetisi. Salah! Banyak anak homeschooling yang memilih homeschooling karena ingin menang dalam kompetisi sesuai bakatnya, programming, olahraga, seni, spelling bee, robotik, dan sebagainya. Mereka tidak takut kompetisi karena mereka berada pada posisi yang menguntungkan untuk MENANG.

3. Belum ada standardisasi kurikulum. Justru kebaikan homeschooling karena bisa menyesuaikan kurikulum dengan keunikan tiap-tiap anak. Ketika anak homeschooling ikut ujian persamaan dari pemerintah, mereka pasti harus belajar mengikuti kurikulum nasional.

4. Sosialisasi. Kurang tantangan? Anda salah! Menjadi anak homeschooling lebih berat karena orang-orang sekitar akan melecehkan dan anak harus berani menjadi lain sendiri. Kalau ada anak orang lain yang berani melakukan bullying seperti yang kerap terjadi di sekolah, keluarga homeschooling akan melakukan tindakan penanganan yang wajar kita lakukan di masyarakat beradab, yaitu: melaporkan pada pihak berwajib, bukan menahan penderitaan sampai dia lulus sekolah. Anak-anak homeschooling akan menjadi agen perubahan bermental baja yang berani membela kebenaran dan keadilan, bukan orang-orang lemah yang terbiasa dan pasrah dengan kecurangan dan kekejian.

5. Masalah keuangan? Salah! Keluarga homeschooling menghemat uang pangkal, SPP, seragam, dan lain-lain. Yang semuanya bisa dialihkan untuk membeli buku-buku yang lebih penting untuk pendidikannya, atau biaya homestay ke luar negeri sehingga mereka bisa menjelajah dunia kalau mau. Orangtua homeschooling punya kekuasaan penuh untuk menentukan biaya pendidikan anaknya. Mereka tidak perlu mengeluh betapa mahalnya biaya pendidikan seperti orangtua lain yang pilih sekolah.

Menurutku kekurangan homeschooling yang sesungguhnya adalah: selalu ada pengkritik kurang info seperti ini, dan keluarga homeschooling terpaksa meladeni mereka dalam hidup sehari-hari. Tidak terasa berat selama kita tidak mencari persetujuan orang lain dan tetap fokus pada tujuan memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak.

*Kenapa tulisan itu masuk kolom News kalau cuma opini tak berdasar ya? Aneh.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Kliping Berita Homeschooling , ,
Hal. 4 dari 26« Awal...234561020...Akhir »