Fatih, Anak Homeschooling Indonesia Juara Programming di AS

Wah, hebat ya. Ikutan bangga meskipun cuma tahu nama Mbak Ratu Vanda di Amerika lewat milis SekolahRumah.

Kliping berita detikInet : Jumat, 15/04/2011 10:39 WIB
Anak Indonesia Juara di AS
Fatih ‘Dicekoki’ Ayahnya Soal Bikin Game

Ardhi Suryadhi – detikinet

Jakarta – Pepatah yang mengatakan buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya sepertinya berlaku untuk Muhammad Al-Fatih Ridha, anak Indonesia yang menjadi jawara game programming di Amerika Serikat.

Adalah sosok sang ayah — Mohamad Ridha — yang ternyata memperkenalkan pengatahuan soal game programming sejak beberapa tahun lalu sehingga memicu ketertarikan sendiri dari sang anak.

Ratu Vanda Wardani, ibunda Fatih mengatakan, ayah Fatih memang berlatar belakang pendidikan komputer dan saat ini tengah menyelesaikan studi S3 serta tetap aktif bekerja di bidang komputer di AS.

“Hingga akhirnya Fatih ikut lomba karena tertarik melihat iklan mengenai lomba tersebut di salah satu educational website di internet yang sering kami kunjungi (brainpop.com),” ujar Vanda, sapaan akrabnya kepada detikINET melalui surat elektronik.

Pada awalnya, lanjut Vanda, tak ada target muluk dari Fatih. Bocah 12 tahun yang sejak kecil tinggal di AS ini ikut lomba tersebut dengan niat mencari pengalaman dan belajar lebih jauh bagaimana mendesain dan membuat game. Dia tidak menyangka akan memenangkan lomba ini.

“Dia sudah terbiasa ikut kompetisi dengan anak-anak di sini (Amerika-red). Setiap tahun dia dan adiknya ikut kejuaraan catur tingkat state (negara bagian-red.), kadang mereka menang, tapi tak jarang kalah juga,” lanjut Vanda, ibu rumah tangga yang mengajarkan anak-anaknya di rumah (homeschool) itu.

Sebelumnya, Fatih menjadi 1 dari 12 juara dalam kompetisi tingkat nasional game programming se-Amerika Serikat bernama National Science Technology Engineering Math (STEM) Video Game Challenge, yang diinspirasi oleh President Amerika Serikat, Barack Obama.

Fatih merupakan siswa grade 8 Homeschool di Beaverton, Oregon, AS. Ia mendesain dan memprogram game yang berjudul “Zuff’s Adventure”.

Game ini didesain dengan menggunakan game maker software dengan bahasa pemrograman GML (Game Maker Language) yang menceritakan petualangan karakter bernama Zuff.

( ash / eno )

Kliping Berita Homeschooling ,

Mencari Persetujuan Semua Orang

Pernah ada ibu praktisi homeschooling yang berkeluh kesah karena dijadikan bahan gunjingan tetangga. Kok tega, anaknya nggak disekolahin, bla bla bla. Padahal anakku sopan dan pintar, kok mereka tidak bisa menghargai betapa hebatnya anakku sih?

Di balik kedukaan si ibu ini, dan juga di balik kekesalanku menghadapi orang lain yang tidak toleran dengan pilihan homeschooling, ada satu motivasi yang sama, yaitu: mencari persetujuan semua orang. Ingin orang lain merasa bahagia dengan pilihan homeschooling kami. Dan sebetulnya yang kami cari, bukan saja persetujuan dari orang-orang terdekat, melainkan semua orang, termasuk juga orang-orang yang tidak dikenal. Jadi kalau ada orang yang tidak senang, rasanya uring-uringan sendiri.

Sebagai orang yang memilih jalan lain, kita perlu mempertanyakan pada diri sendiri. Apakah betul, aku perlu disetujui orang itu? Jawabnya, tidak. Apakah jika tidak disetujui orang itu, maka homeschooling kami jadi bermasalah? Tidak. Apakah homeschooling tujuannya untuk menyenangkan hati orang itu? Tidak. Apakah orang itu wajib bahagia dengan keputusan keluarga kita? Pasti tidak.

Lalu kenapa kita sakit hati? Kenapa kita uring-uringan karena orang itu tidak senang? Oh ternyata kita terlalu ingin menyenangkan hati orang itu, padahal mau dia senang atau tidak senang, sebetulnya tidak ada pengaruhnya pada hidup kita. Tetapi kok kita sakit hati ya? Karena kita berpikir,”Seharusnya orang itu menyukai keputusanku untuk homeschooling“, dan kenyataannya tidak seperti itu, kita jadi sakit hati sendiri.
Jadi siapakah yang menyakiti hati kita itu? Kita sendiri.

Jangankan dengan orang yang antipati dengan homeschooling, dengan orang lain yang sama-sama mendukung homeschooling saja, bisa jadi kita sering berseberangan pendapat.

Lah iya, memangnya mentang-mentang sama-sama homeschooling, lalu isi kepalanya sama? Tidak. Pandangan praktisi homeschooling tentang mengapa homeschooling, tentang sekolah, tentang pendidikan, tentang tujuan homeschooling, dan lain-lain, semua berbeda-beda.

Satu contoh, Mbak Ines dan Mbak Maria sepertinya tidak senang kalau aku membandingkan homeschooling dengan sekolah. Menurut mereka, keduanya memang tidak sama, jadi tidak perlu dibandingkan, dan tidak perlu saling menjatuhkan. Tetapi aku termasuk orang yang memilih homeschooling karena melihat masalah inheren dalam sistem pendidikan dengan sekolah, jadi aku merasa tidak mungkin menyatakan alasanku untuk homeschooling tanpa menyebutkan tentang masalah anakku dengan sekolah. Dalam hal ini aku ikut dalam barisan Mbak Irma dan Mbak Lini.

Kesimpulannya, *maksa, langsung kesimpulan*, kita tidak bisa memilih homeschooling dan mencari persetujuan semua orang. Kita tidak bisa menjalani HIDUP dan mencari persetujuan semua orang. Ntar jadinya gitu deh, uring-uringan sendiri!

*Aku menyebutkan nama-nama mereka di sini karena kami tidak berantem dan saling menghargai. Praktisi homeschooling itu toleransinya sangat tinggi lho terhadap perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika, yang betul-betul dipraktikkan, tidak sekadar semboyan usang dalam buku PPKn saja.

Sosialisasi Homeschooling ,

Cerita Waktu Aku Ngobrol di Facebook Soal Ijazah

Aku termasuk yang berpendapat anak homeschooling bisa saja sukses tanpa ijazah selama minat dan bakatnya tergali dengan baik.

Tetapi kalau menghendaki, ijazah itu mudah saja sih didapatkan dengan Ujian Kesetaraan dari pemerintah maupun ujian dari University of Cambridge yang diakui secara internasional.

Meskipun begitu, secara realistis aku tidak bisa membayangkan pekerjaan (rendahan) macam apa yang bisa didapatkan dengan mengandalkan ijazah Paket C.

Jadi menurutku, pilihan yang ada, anak-anak homeschooling dengan ijazah Paket C itu bisa:

1. melanjutkan kuliah sesuai minat, sama seperti lulusan SLTA formal

2. tidak kuliah, dan mencari sumber penghasilan yang tidak mengandalkan ijazah, seperti menjadi wirausaha, menjual jasa dan keahlian, memanfaatkan bakat seni, dan sebagainya

3. terserah, memanfaatkan kesempatan apa saja yang ditawarkan kehidupan mereka masing-masing.

Ceritanya, suatu hari aku sesumbar di Facebook, anak homeschooling juga bisa saja memilih tak punya ijazah. Asal yakin dengan kemampuannya. Aku sendiri tidak pernah memperlihatkan ijazahku pada klien-klienku. Dan mereka percaya-percaya saja bahwa aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan baik.

Seorang bapak, sebut saja namanya Pak Iwan, protes, dan mengatakan bahwa ijazah itu tetap penting. Dia menceritakan, untuk memenangkan proyek, dia memerlukan ijazah minimal S2.

Yang aneh, Pak Iwan ini tak punya ijazah.

Jadi bagaimana cara Bapak mendapatkan proyek-proyek itu? tanyaku.

Jawabnya, dia mempekerjakan bawahan yang punya ijazah, sebut saja namanya Rudi.

Apakah Pak Rudi, bawahan ini bisa mendapatkan proyek, tanpa ada Pak Iwan? Tidak. Pengetahuan (dan keberanian?) untuk mendapatkan proyek itu seorang diri, tidak ada pada Pak Rudi.

Kataku, Pak Iwan sendiri mengakui tidak punya ijazah dan tetap bisa mendapatkan proyek tanpa ijazah. Jadi ijazah itu perlu apa tidak ya?

Pak Iwan lalu menanyakan apakah aku sudah makan nasi malam itu. Mungkin pendapatku terlalu radikal baginya. Dia tidak pernah muncul lagi di Facebook sejak itu. Mungkin akunku sudah diblokirnya. Hihihi. Tidak masalah karena kami masih connected di tempat lain.

*Semua nama telah diganti untuk melindungi yang tak bersalah dan menghindari tuntutan hukum di kemudian hari.

Foto: CarbonNYC, Flickr

Curhat ,

Homeschooling dan Cara Berbahagia, Sama-sama Soal Mengubah Paradigma

Wow, sudah bulan baru, tanggal 1 Mei. Andini ke mana aja? Katanya mau nge-blog tiap hari, gimana sih? Kok sebulan ngilang? *Lah iya, padahal nggak ada yang nanya.*

Aku istirahat saja kok, bukan berhenti. Bulan April aku nggak fit, jatuh bangun kena flu berulang. Udah gitu, aku sedih aja anakku dimasukkan TK oleh bapaknya tanpa bilang-bilang aku dulu, suamiku nggak pernah mau membaca blog istrinya *hiks, jadi ngapain aku nulis blog homeschooling segala*, aku merasa nggak punya suara sama sekali dalam perkawinan ini, soal keuangan dan sebagainya suamiku nggak pernah jujur, udah gitu dengan berbagai masalah dengan keluarga suami dan teman suami, yang pasti hilang kalau aku sudah tidak jadi istrinya, aku sungguh-sungguh kepingin cerai.

Tapi dipikir-pikir, secara finansial aku belum siap. Lagipula anak-anak masih suka sama bapaknya. Lagipula aku kok malas ya pergi ke KUA. Kayaknya repot banget.

Jadi bulan lalu aku pusing mikir bagaimana caranya berbahagia kalau rasanya aku selalu berada dalam kesedihan yang konstan dan aku juga tidak mampu mengubah keadaan. Ternyata sama seperti homeschooling, berbahagia, sekadar soal mengganti paradigma.

It’s only possible to live happily ever after on a daily basis.
~Margaret Bananno~

Kebahagiaan itu untuk dirasakan hari ini, saat ini.

Dan detik ini, aku duduk dengan nyaman, mengetik buah pikiranku dengan komputer, bebas dari rasa lapar, sakit, dan semua rasa tak enak, dan aku berbahagia. Tidak ada yang berubah. Suamiku ya tetap seperti itu. Perkawinan ini tidak terasa ideal. Anak-anak tetap bermasalah dengan sekolah. Keluargaku barangkali tidak bisa homeschooling untuk selamanya. Tetapi, pokoknya, detik ini, semua indah, semua baik. Aku bahagia.

Tentang homeschooling… Kalian pasti tidak ke sini untuk membaca tentang masalah pribadiku, kan? Haha.

Banyak orang yang merasa heran dan tidak mampu memahami konsep homeschooling. Mereka berasumsi homeschooling artinya orangtua mengunci anak-anak di dalam bangunan, tidak bisa ke mana-mana, lalu anak-anak itu menghabiskan harinya dengan melakukan perintah orang dewasa, orang dewasa menentukan teman-teman untuk anak-anak mereka, dan anak-anak hanya terekspos pada buku-buku dan kurikulum pelajaran yang dipilihkan oleh orang lain.

Padahal itu bukan pengalaman anak homeschooling, melainkan pengalaman anak sekolah. Iya kan?

Aku akan terus nge-blog tentang homeschooling, memperbanyak kesempatan untuk berdialog tentang homeschooling, dan siapa tahu, bersama-sama kita bisa mengubah paradigma masyarakat tentang apa itu homeschooling. Semoga ketika ada satu orang yang ngotot mengatakan homeschooling itu tidak baik, ada dua orang lain yang menyadari bahwa homeschooling itu baik.

Dan semoga orangtua yang pilih sekolah juga bisa berbahagia ketika orangtua lain memilih homeschooling.

Curhat , , , , ,

Apakah Anak Homeschooling Bisa Belajar Bahasa Mandarin? Ya Ampun!

Jadi,
aku membaca satu pertanyaan aneh untuk orangtua homeschooling di internet,
yaitu:
Bagaimana mungkin anak homeschooling bisa belajar bahasa Mandarin? Pakai Rosetta Stone?

Aku menjawab:

Dengan cara yang sama seperti ketika kamu memutuskan belajar bahasa Mandarin.

Siapa tahu, Rosetta Stone (piranti lunak komputer untuk belajar bahasa asing) bisa jadi awal yang baik. Ketika anak homeschooling memutuskan bahwa bahasa Mandarin diperlukan sebagai bagian dari pendidikannya, dia akan putar otak bagaimana cara mendapatkan sumber-sumber pembelajarannya.

Dia tidak akan putus asa, mengatakan, “Oh tidak! Aku tidak bersekolah di sekolah yang mengajarkan bahasa Mandarin. Malahan aku tidak bersekolah sama sekali karena homeschooling. Sekarang aku tidak akan pernah bisa belajar bahasa Mandarin, dan hidupku sudah tamat sekarang. Di dunia ini tidak ada lagi tempat belajar bahasa Mandarin selain di sekolah dasar.”

Apakah ada anak homeschooling yang akan bilang begitu, ya? Tidak mungkin, kan ya? Meskipun begitulah pemikiran yang tersirat dari pertanyaan orang di atas.

Sebetulnya pernyataan tidak berdaya seperti itu lebih mungkin keluar dari mulut anak sekolah. “Aku tidak bisa karena aku tidak diajari itu di sekolah.”

Jalan berpikir anak yang terbiasa disuapi dalam belajar akan sangat berbeda dengan anak yang terbiasa mandiri dalam pembelajarannya.

Beberapa contoh cara anak homeschooling bisa belajar bahasa Mandarin:

1. belajar secara gratis atau berbayar dari situs-situs pembelajaran bahasa Mandarin di internet

2. belajar dari buku-buku pelajaran bahasa Mandarin untuk anak sekolah atau umum yang dengan mudah bisa dibeli dari toko buku

3. memakai piranti lunak pelajaran bahasa Mandarin seperti Rosetta Stone, How To Say It, dan sebagainya

4. kursus bahasa Mandarin

5. memanggil guru privat bahasa Mandarin

6. dan cara-cara lain yang bisa digunakan oleh manusia yang termotivasi untuk belajar bahasa Mandarin atas keinginannya sendiri dan bukan karena tuntutan kurikulum.

Malah dari penghematan tidak membayar uang sekolah, anak homeschooling bisa saja homestay ke Cina dan belajar bahasa Mandarin langsung dari kehidupan di sana.

Foto: Wasfi Akab, Flickr

Penerapan Homeschooling , , ,

Artikel Tamu: Antara Katrina, Tsunami, dan Pendidikan Anak

Tulisan ini merupakan tulisan tamu dari Mbak Dina Faoziah di Tokyo, Jepang. Selamat membaca!

Antara Katrina, Tsunami, dan Pendidikan Anak

Homeschooling atau pendidikan berbasis keluarga telah menjadi alternatif bagi warga Louisiana, Mississippi, Alabama, dan Florida setelah badai Katrina menghantam pada akhir Agustus 2005 dan menenggelamkan puluhan ribu tempat tinggal dan bangunan, termasuk sekolah. Di Plaquemines Parish, misalnya, enam dari sembilan sekolah binasa oleh amukan siklon tropis tersebut. Sekitar 800 keluarga di kawasan administrasi di Louisiana itu kehilangan bangunan sekolah yang selama ini menjadi tempat belajar anak-anak mereka.

Sebagian orang tua mensyukuri pendidikan berbasis keluarga sebagai solusi jangka pendek atas masalah yang mereka hadapi. Ada yang merasa tidak puas atas kondisi sekolah di negara bagian lain yang sementara menampung anak-anak mereka, seperti kelas yang terlalu sesak dan masalah narkoba di sekolah. Ada juga yang berharap anak-anaknya bisa kembali ke sekolah semula pascarekonstruksi.

Mengurusi 46.000 anak usia sekolah korban badai Katrina memang tidak mudah. Namun, Amerika Serikat dengan lebih dari 1 juta anak homeschool serta sejarah pendidikan berbasis keluarga yang lebih panjang jelas berbeda dengan Jepang.

Undang-undang Jepang kurang bersahabat dengan pendidikan rumah, khususnya bagi warga Jepang sendiri. Karena pendidikan rumah tidak diatur secara tegas, tidak sedikit pihak yang menganggap homeschooling ilegal. Ditengarai, jumlah pelaku pendidikan rumah di seantero Jepang tidak lebih dari 6000 orang.

Sejak gempa berskala 9 M mengguncang kawasan lepas pantai Sanriku dan tsunami besar menyapu kawasan pesisir beberapa prefektur, khususnya Miyagi, Iwate, dan Fukushima, penulis terus memantau berita seputar bencana, khususnya pendidikan anak-anak korban bencana.

Dari tayangan televisi, pada berbagai upacara kelulusan sekolah di kawasan bencana terlihat pihak sekolah yang memompa semangat para siswa untuk tegar menghadapi krisis yang tengah mereka hadapi. Di sisi lain, banyak orang tua yang mengkhawatirkan sekolah anak mereka yang semestinya dimulai awal April. Beberapa relawan memang terjun ke kawasan bencana untuk menghibur atau mengajari anak-anak, tetapi sifatnya masih sporadis.

Sayangnya, dari perbincangan di berbagai stasiun televisi yang disimak penulis, belum ada satu pun pembicara yang menyinggung tentang alternatif pendidikan rumah. Hal ini bisa dipahami karena baik Pemerintah Jepang maupun orang tua sendiri belum siap akan konsep homeschooling. Namun, bencana yang tidak jarang melanda negeri matahari terbit ini semestinya menjadi titik tolak untuk memperkenalkan berbagai alternatif pendidikan untuk anak.

Tentu banyak yang harus dilakukan untuk itu. Pemerintah Jepang harus menyediakan perangkat hukum dan organisasi pendukungnya, sedangkan orang tua harus meneguhkan niat dan menyiapkan berbagai hal selaku penanggung jawab utama pendidikan anaknya sendiri.

Kita tidak boleh lupa bahwa sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk mendidik anak.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Kliping Berita Homeschooling , , ,
Hal. 5 dari 26« Awal...345671020...Akhir »