Suamiku Bilang Aku Cari Sensasi

You are currently browsing comments. If you would like to return to the full story, you can read the full entry here: “Suamiku Bilang Aku Cari Sensasi”.

Tentang Andini Rizky

Andini adalah ibu rumah tangga yang pernah menerapkan homeschooling untuk putrinya selama 1,5 tahun setingkat TK. Ia merasa takjub akan hasil yang dicapai putrinya tanpa sekolah selama masa itu, dan berharap suatu hari dapat kembali mempraktikkan homeschooling. Blog ini merupakan salah satu usahanya untuk mencapai harapan itu.
Curhat

22 comments


  1. Hmm…my routine blogwalking here. Keep on fighting mbak, konsistensi adalah kunci. But eniwei, homeschooling kayaknya berat banget kalo sendirian. Perlu dukungan juga kan..kakak saya dua tahun ini lakukan HS (a 15yo teenage girl-berat banget-red).
    Btw, kl boleh sy minta kontak mbak dong. Sy lg collect data utk thesis sy mengenai legal aspects of HS ini. Mungkin mbak ada waktu untuk dimintain tolong hehe..

    • Oh ya? Makasih… mau sering-sering ke sini.

      Apakah betul homeschooling itu bisa sendirian? Sewaktu orangtua memutuskan untuk homeschooling, mereka tahu mendidik anak itu tidak bisa sendirian. Perlu bantuan dari lingkungan, dari seluruh dunia (yang bisa kita capai berkat internet), dan dari Tuhan. Karena tidak sendirian makanya berani homeschooling. Karena sadar bahwa mendidik anak perlu memanfaatkan lingkungan, keluarga homeschooling biasanya sadar lingkungan dan banyak tahu tentang daerah sekitar. Mindset-nya beda dengan ortu anak sekolah yang mengira, setelah sekolah, ya udah, tugas mendidik sudah beres. Jadi tidak ada homeschooling sendirian.

      Homeschooling adalah hidup. Apakah mungkin hidup ini sendirian? Gak mungkin. Karena di mana pun kita berada, kita tidak bisa sendirian. Pertama, ada Tuhan, katanya guru agama. Kedua, ada hape, ada internet, ada TV, gak mungkin kita ditinggal sendirian. Ketiga, ketika rasanya tidak ada siapa-siapa, kita berdua dengan pikiran kita sendiri. Coba pasang telinga baik-baik, pikiran kita pasti sibuk ngajak kita ngomong. My mind is always busy, listening to my own thoughts. Dan tau gak sih… Tuhan+radio+pikiran kita, itu semua bagian dari pendidikan kita sebagai manusia seutuhnya, semua itu bagian dari homeschooling. Meskipun ingin sendirian, kita tidak bisa sendirian. Selalu ada orang lain.

      Setelah menulis di atas panjang-panjang, baru nyadar, mungkin maksud Mbak Dwita bukan sendirian tanpa pihak lain, melainkan tidak ada anak seusia yang sama-sama homeschooling. Kalo itu maksudnya, berarti gak nyambung dong ;)

      Gini nih… coba tanyakan pada diri sendiri, apakah kalau tidak sama-sama anak sekolah, berarti aku (atau anak kakak) tidak bisa bergaul dengan anak lain tersebut? Apakah betul itu? Pasti nggak. Anak lain tidak mau bergaul dengan aku karena aku tidak sekolah. Apakah betul itu? Tanyakan pada diri sendiri. Dan pikirkan kebalikannya: aku tidak mau bergaul dengan anak lain karena mereka tidak sama seperti aku. Pikirkan apakah aku sendiri yang menutup diri. Dan apa betul teman itu harus seusia? Saya pernah baca ada anak homeschooling yang berteman dengan orang segala usia, termasuk dengan kakek usia 90 tahun, dan dia bilang orang-orang biasanya menganggap dia aneh kok teman setua itu. Tapi mereka memang bersahabat.

    • Maaf, saya nggak bisa dijadikan nara sumber tesis-nya karena saya tidak tahu banyak, dan lagi pula tidak homeschooling. Sukses ya Mbak.. Homeschooling legal kok di Indonesia. :)

  2. kereeen, i really like it what you write. :)

    • Riil Viprianis

      Hohohooooo mantaps mbak…saya selalu terinspirasi dengan tulisan mbak….semoga suatu waktu putra putri mbak bisa merasakan hebatnya jadi homeschooler……sungguh saya ngga menyesal 3 dari putra putri saya jadi anak anak “pengangguran” hehehe kayaknya ngga sekolah….ngga punya seragam…ngga repot bimbel…tapi mereka seperti mbak tuliskan di atas….ikutin kurikulumnya Tuhan….
      Tuhan adalah Guru Maha Hebat…kurikulumnya ngga pasti tapi pasti hebat…dan ujiannya ngga perlu pake kertas….memang butuh air mata butuh luka butuh jatuh tapi itu sangat sangat menguatkan mereka menjadi pribadi mandiri …pribadi yang bahagia dan menghormati kehidupan dan ciptaan…
      :D

      • Terima kasih Mbak Riil untuk doanya… dan komentar penyemangatnya. Sebenarnya kesulitan hidup itu dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup sih ya, katanya Mario Teguh. Tiap hari juga sudah terasa “sukses” dengan homeschooling makanya betah di jalan itu kan… (kayaknya Mbak Mella dulu yang bilang gini). Terima kasih Mbak-mbak yang ngasih testimoni bahwa homeschooling itu bisa dilakukan. Yes, it can be done!

    • Tengkyu Mbak Aas… Ge-er aja dibilang keren ;)

  3. “Karena pendidikan bukan sekolah, pendidikan adalah kehidupan dalam satu paket.”
    I like it!!

  4. Makasih mau baca, Mbak Devi… RT @deviriana79 @HSIndonesia baguuus deh mbak tulisannya :) http://t.co/ETPBR32

  5. Mba Andini..kok jarang nulis lagi ? Sering-sering nulis ya, aku suka baca tulisan Mba Andini yang berasa ke hati :)

  6. Cahyani

    Ehemm… beruntung sekali sudah lulus bab yang satu ini.. pelajaran yang sangat berharga. makasih ya, dah kasih bocorannya.. :)

  7. Ummu Fadhil

    Amazing. A good article that’s written by non homeschooling Mom. May Allah help you to give the best education for your children, insya Allah. What matters most is your attention that you give to your schooled children. Thanks for writing. I’m learning a lot about HS. Currently, I’m HSing my 4.5 year old dd (dear daughter) and 2 yo ds (dear son).

    • Thank you for the nice comment. Nice comments are always welcomed! ;) Can we do less than our best? From my experience, no. I always do my best, given the circumstances. Children always do their best, too. Even when they fail at something, they were doing their best. That’s why I trust them, just like I trust myself.
      Happy homeschooling, Ummu Fadhil!

  8. Aar

    Ikut berbahagia membaca perkembangan tulisan-tulisan mbak Andini yang semakin matang, tanpa kehilangan ciri khas ketajaman ulasannya. Segala yang bisa bertumbuh mengatasi badai, menghasilkan buah yang manis bagi diri dan sekitar.

    Diantara tulisan mbak Andini, posting reflektif ini adalah salah satu tulisan favorit saya. :)

  9. Assalamualaikum mba,, perkenalkan aku lina (bundanya Azzam),, sebenernya sudah lama belajar dari blognya mba Andini,, tapi kok rasanya aku kehilangan berita kalo Kanae (akhirnya) disekolahkan,,
    Berusaha menyelami hatinya mba Andini,, dan semua rasa didalamnya ditambah aku baca catatan refleksi 8 tahun perkawinannya,,
    semoga Alloh menghadiahi dengan keteduhan dalam hati,, aamiin,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>